Dusun Kriminal: Bukan Sekedar Safari

OPINI, Suara Jelata— Menempuh perjalanan dari Kota Makassar menuju lokasi tujuan bersama hiruk-pikuk bising kendaraan dan aktivitas warga sekitar jalan poros.

Di sepanjang perjalanan, nampak baliho calon-calon pemimpin sebagai bentuk publikasi untuk menarik perhatian masyarakat sekitar atau warga yang melalui jalan tersebut.

Lokasi tempat tujuan kali ini ialah kampung halaman salah seorang kawan dari Fakultas Hukum, beliau berasal dari pelosok Dusun di Kabupaten Sinjai, Sulawesi-Selatan.

Dan kunjungan kali ini bukan sekedar safari atau jalan-jalan biasa, apalagi sekedar ingin melihat destinasi wisata yang ada di daerah tersebut.

Tetapi sebagai pembuktian lapangan karena kita pastinya kurang percaya jika hanya pengucapan secara verbal yang dirangkai dalam cerita-cerita membosankan.

Dusun itu bernama Dusun Pakokko, Desa Tellulimpoe, Kecamatan Tellulimpoe. Dusun yang di kenal oleh warga sekitar sebagai Dusun kriminal, atau guyonan dari anak muda di dusun itu yaitu daerah Texasnya kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai.

Kata salah satu tokoh masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, penamaan atau stigma masyarakat yang menyebut sebagai dusun kriminal di desa Tellulimpoe ialah akibat ulah dari anak mudanya sendiri, sebab selain bersekolah dan membantu orang tua berkebun, juga mereka pandai dalam hal berkelahi untuk menyelesaikan masalah.

Dan stigma negatif itu sendiri pastinya muncul tanpa sebab. “Kekuatan ialah kehormatan” mungkin itu penggalan yang cocok dan menjadi pola pikir anak muda di dusun itu, mereka menjaga kehormatannya menggunakan kekuatan dengan jalan berkelahi, menang ataupun tidak itu urusan belakangan.

Tak hanya itu, solidaritas anak muda Dusun Pakokko tak perlu di pertanyakan lagi, karena saya sendiri yang menyaksikan dan merasakan fakta lapangan yang terjadi.

Contoh kecilnya ialah, mereka berkumpul di satu titik kemudian saling berbagi cerita dan canda tawa, sayapun ikut-ikutan tertawa untuk menghargai lelucon mereka meski kurang mengerti apa yang mereka bahas.

Sekarang telah ada semacam organisasi sebagai wadah untuk anak-anak muda dusun yang mereka bentuk sendiri guna menajamkan solidaritas dan sikap saling membantu antar sesama penghuni dusun terutama anak muda yang dinamakan Laskar Muda Pakokko (LMP).

Dari segi pendidikan, anak muda Dusun Pakokko ada yang hanya berpendidikan sampai jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah, mungkin salah satu alasan yang menjadi penghambat ialah faktor ekonomi. Dan pola pikir masyarakat di daerah itu ialah jika anaknya telah berpendidikan sampai jenjang Universitas, maka ada kebanggaan tersendiri yang dimiliki keluarga.

Itulah cerita tentang anak-anak muda Dusun Pakokko, karena saya sendiri berbaur dengan mereka meski kurang mengerti arti dari pembahasan yang biasa mereka bahas karena masih mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan bahasa konjo (bahasa daerah Dusun).

Dua hari berada di dusun itu mengajarkanku tentang arti kesederhanaan dan tak menyombongkan diri dengan kelebihan yang dimiliki, karena selain penghuni Dusun yang menampilkan keramahan dengan senyum yang terpancar di wajah mereka tiap melewati rumah-rumah yang berada di Dusun itu.

Kita pun sebagai tamu pastinya merasa dihargai jika di perlakukan demikian. Sayapun agak heran mengapa masyarakat Kecamatan Tellulimpoe menyembut Dusun ini sebagai Dusun kriminal, toh kriminal artinya segala praktik-praktik yang menjerumus dalam hal jahat.

Apakah bisa disebut kejahatan jika keramahan, murah senyum, dan saling membantu dilakukan oleh penghuni Dusun? Biarlah stigma-stigma negatif itu hilang secara perlahan oleh rentang waktu dan semesta menjalankan tugasnya.

Selanjutnya ialah tentang lokasi sekitar dusun daerah tersebut, tak ada yang spesial menurut saya di daerah itu karena hanya menampilkan hamparan perkebunan yang hijau dan asri, pohon-pohon yang dibuahi buah rambutan dan durian karena memang sedang musim panennya.

Selain itu, pekerjaan yang umum dilakukan oleh penghuni Dusun untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka ialah dengan cara berkebun, karena salah satu alasan manusia diciptakan ialah bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja yang akhirnya menjadi lupa tuk menikmati hidupnya.

Sekarang upaya anak-anak muda Dusun Pakokko lebih berkonsentrasi untuk memajukan kampung halaman mereka yang dimulai dari berfokus pada pendidikan dan pengabdian terhadap masyarakat.

Biarlah sejarah kelam tentang stigma daerah mereka menghilang seiring waktu dan lebih berfokus pada pembangunan kampung halaman ke arah yang jauh lebih baik. Sebab tanpa intervensi dari pemuda maka minim hasilnya perubahan akan tejadi.

Mungkin itu sedikit cerita tentang dusun kriminal Pakokko, dusun yang di kenal sebagai daerah Texas tetapi tak lupa tuk menabur cinta kasih dan saling membantu yang di balut dengan ramah senyum. Terimakasih Pakokko, terimakasih atas waktu dan segala pengalamannya.

Oleh: Aslang Jaya (Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan, UIN Alauddin Makassar)