Opini: Gema Pendidikan di Negeriku Tak Lagi Sama

Andi Syahril, Mahasiswa UINAM, Fakultas Syariah dan Hukum

OPINI, Suara Jelata — “apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya” (Ki Hadjar Dewantara). Kutipan dari tokoh pendidikan tersebut menjadi kerangka perilaku dalam menjalani aktivitas kita sebagai manusia di mana didalam kehidupan bermasyarakat hendaklah seorang manusia memiliki prinsip-prinsip kebaikan yang ditanamkan dalam menjalani aktivitasnya.

Pendidikan adalah suatu upayah untuk mengembangkan potensi manusia serta menjadi jembatan untuk mendidik seorang manusia menjadi manusia yang sempurna hidupnya sehingga untuk kelangsungan kehidupan yang baik peran pendidikan sangat dibutuhkan untuk mengatur pola tingkah laku serta aturan-aturan yang bersifat mengikat di dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun sarana pendidikan dapat kita temui di lingkungan keluarga dan dari sebuah bangku sekolah di mana di dalam sekolah kita akan diajarkan tentang pola prilaku kehidupan yang baik meski fakta yang terdapat dilapangan tak semua orang yang sudah mencicipi bangku sekolah memiliki pola kehidupan yang baik hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya tindak pidana, korupsi misalnya yang tidak lain merupakan kejahatan yang luar biasa yang dilakukan oleh orang yang memiliki latar belakan pendidikan yang mempuni. Dalam data indeks persepsi korupsi 2016 yang dilansir Transparency International indonesia berada pada peringkat 90 dari 176 negara dengan skor 37. Hal ini membuktikan latar belakang bangku pendidikan tidak menjamin suatu manusia menjadi makhluk yang berpendidikan sebagaimana yang dimaksudkan oleh tokoh pendidikan sebelumnya olehnya dibutuhkan peninjauan kembali terhadap sistem pendidikan yang diberlakukan di negara ini.

Terjadinya perbedaan karakter generasi dalam tiap perjalanan waktunya tidak lain adalah pengaruh dari lingkungan sekitarnya yang terkontaminasi dengan perubahan siklus kehidupan yang mengakibatkan pola pikir serta tingkah laku dari setiap generasi ini berbeda sehingga akibat ini tidak lain dari sebuah sebab kurangnya karakter pendidikan yang ditananamkan dari setiap generasi ke generasi selanjutnya. Sebuah contoh dari segi pendidikan, perbedaan pendidikan dulu dengan pendidikan sekarang. Pendidikan dulu dimaksudkan untuk benar-benar mendidik manusia agar tumbuh dengan ahlak yang baik yang mengajarkan nilai kehidupan, etika, serta prilaku budi pekerti dengan manusia lainnya. Setelahnya baru di ajarkan tentang keterampilan yang membuat siswa mampu untuk menyonsong kehidupannya di masa depan, berbeda dengan pendidikan sekarang yang lebih berorientasi terhadap cara meningkatkan kecerdasan serta prestasi namun gagal dalam prilaku serta moral kehidupannya.

Pada tahun 1968 di kirim 44 guru ke malaysia dan pada tahun 1970 sebanyak 100 guru dan setelah tiga tahun guru-guru tersebut harus kembali ke Tanah air karna kebutuhan guru di indonesia belum memadai (Arsip kompas, 7 agustus 1971). Hal ini membuktikan bahwa indonesia pernah memiliki tingkat pendidikan yang masuk dalam rana perkembangan dan memumpuni kala itu, namun sayang kurangnya perhatian terhadap pendidikan disetiap generasi membuat kita tertinggal lagi. Saat ini, ketika melihat perkembangan dari dunia pendidikan kita di Indonesia menduduki peringkat ke 5 di ASEAN setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand sebagai posisi teratas dari Indonesia. Hal ini membuktikan negara tetangga yang sebelumnya kita pernah bantu, lebih maju dalam dunia pendidikan saat ini, olehnya dibutuhkan perbaikan sistem pendidikan di negara kita yang lebih mengupayakan penanaman moral serta rasa kepedulian terhadap generasi baik bangsa dan negara sehingga tercipta suatu kesadaran akan perkembangan serta kemajuan yang tidak keluar dari garis koridor ke Indonesiaan itu sendiri.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau yang terdiri dari sabang sampai merauke, tak dapat dipungkiri dari wilayah barat Indonesia sampai wilayah timur masih banyak daerah-daerah yang jauh tertinggal di banding daerah lainnya sehingga dalam hal pendidikan mereka juga tak luput dalam ketertinggalan, dalam hal ini kita tak dapat menyalahkan pemerintah sepenuhnya karna masalah pendidikan adalah masalah kita bersama sebagaimana yang terdapat dalam Undang-undang No 20 tahun 2003, tentang pendidikan nasional dengan jelas menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan dan memiliki kewajiban untuk memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Tingginya angka kriminalitas serta pengangguran tidak lain disebabkan oleh minimnya jiwa pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat sehingga kesadaran mereka akan moral manusia perlahan tergeser arus perkembangan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah kehidupan, kecerdasan menjadi persoalan kedua, dalam hal ini karna banyak orang cerdas namun tak begitu pandai dalam memposisikan kecerdasannya tersebut sehingga sudah tepat kiranya dikatakan dunia pendidikan yaitu dunia untuk mendidik yang lebih berorentasi terhadap peningkatan moral kehidupan bangsa bukan hanya cerdas tapi nilai-nilai luhur sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dihilangkan dan di geser arus perkembangan yang sebenarnya bertentangan dengan ideologi negara kita.

Penulis: Andi Syahril
Editor: Andi