Opini: Pemuda, Mobile Legends Atau Buku

Dok pribadi adityawarman, Mahasiswa Hukum Pidana dan Ketatanegaraan UIN Alauddin Makassar

OPINI, Suara Jelata — “Teknologi adalah karunia dan ujian dari allah, bisa memudahkan untuk memperbanyak kebaikan atau memperbanyak dosa”. Begitulah petuah yang disampaikan oleh salah satu ulama besar di Negeri kita dialah Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa gym.

Ditengah karut-marut perhelatan demokrasi di tahun yang disebut adalah tahun politik ini serta tagline-tagline untuk ganti presiden dan tagline menolak capres jomblo bahkan sampai pada prediksi Indonesia bubar di tahun 2030, Ada hal yang juga patut mencuri perhatian masyarakat yaitu maraknya permainan game online yang tumbuh subur mengikis minat baca bangsa dan melemahkan intelektualitas bagi pemainnya.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat apatalagi di Negeri kita Indonesia, ponsel pintar (handphone) contohnya. Dahulu handphone adalah barang mewah yang tidak semua kalangan bisa memilikinya namun seiring perkembangannya handphone kini menjadi suatu barang yang lumrah dimiliki oleh semua kalangan, mulai dari kaum muda hingga orang tua bahkan kanak-kanak.

Namun bukan berarti teknologi semacam handphone yang sudah mudah ditemui ini tidak memiliki sisi negatif sama sekali, teknologi ini memiliki dua sisi layaknya pisau, dan punya dua kutub layaknya baterai.

Akhir-akhir ini telah ramai dimainkan sebuah aplikasi game online oleh semua kalangan yaitu “Mobile legends” atau acap kali kita dengar dengan sebutan ML, saat ini aplikasi tersebut sudah mencapai sebanyak 100 juta pengunduh di play store. Fendy Tan, Country Manager Moonton Indonesia (pengembang game mobile legends) mengungkapkan pengguna aktif harian Mobile Legends ditanah air mencapai 8 juta pemain yang berarti ada 8 juta jiwa yang sudah mulai mengorbankan intelektualitasnya hanya untuk bercengkrama dengan aplikasi berbasis permainan dan hiburan ini.

Berbicara masalah intelektualitas sama saja dengan mempercakapkan kewarasan berpikir, dan cara tebaik menjaga kewarasan adalah dengan memperbanyak konsumsi bacaan buku. Namun sayang hanya sedikit dari anak bangsa di Indonesia yang ingin menjaga kewarasannya. Dibuktikan oleh data dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) Minat baca bangsa indonesia hanya 0,001% yang artinya dari 1000 orang indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca dan menjaga kewarasannya.

Teringat pidato sang proklamator, atau salah satu Founding Father bangsa yang mengatakan “Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncang dunia” yang disampaikannya dengan aliran semangat juang empat lima dan suara nan tegas, namun penggalan pidato itu sudah tidak lagi dapat diaktualisasikan sebagai penyokong motivasi direzim sekarang ini. Bagaimana tidak, pemuda apa kiranya mampu mengguncang dunia ketika lebih senang bercengkrama dengan Layla, Kagura, ataupun Miya (tokoh Hero dalam permainan mobile legends), serta tokoh hero lainnya dibanding bercengkrama dengan sebuah buku?

Ironis, permainan (Mobile legends) ini tidak lagi menjadi selingan waktu luang melainkan banyak orang terutama pemuda yang meluangkan bahkan mengorbankan waktu untuk bermain. Tak jarang pula ada kaum muda khususnya mahasiswa yang saat perkuliahan berlangsung, saat dosen yang bergelar Doktor maupun Profesor berusaha membuat mahasiswa paham akan kuliah yang dipaparkannya malah ada sebagian mahasiswa yang acuh akan perkuliahan dan sibuk bermain.

Seyogianya aplikasi berbasis hiburan adalah selingan untuk waktu luang bukan dijadikan sebagai teman bercengkrama setiap hari, disetiap tempat dan disetiap waktu, karena sejatinya teman yang tek pernah berkhianat adalah sebuah buku.

Olehnya itu, mari jaga kewarasan dan kepekaan dengan membaca, orang bijak berkata membaca buku berarti kita sedang melihat lebih banyak tentang dunia, Alam hanya mampu memperlihatkan tempat yang terbatas tapi buku memberikan dunia yang tak terbatas.

Teknologi memang dapat mendekatkan yang jauh tetapi dapat pula menjauhkan yang dekat. Bijaklah dalam menjadi konsumen jangan sampai teknologi mengeser adat, budaya serta peri kemanusiaan yang dititipkan oleh sang Maha Rahim. kini Tak dapat ditolak paras indonesia saat ini yang sedang murung dan tidak baik-baik saja diterpa ombak oleh lautan kaum kapitalis, citra dan haus kuasa di pertontonkan sedemikian rapi, dan dalam hal ini peran pemuda dibutuhkan sebagai tulang punggung penyangga bangsa.

Salah satu peri bahasa santun mengatakan, jangan kau tanya apa yang negaramu berikan untukmu tapi pikirkan apa yang kau sudah berikan untuk negaramu. Masa depan suatu negara ada di tangan para pemuda, mari rawat intelektualitas jangan hanyut oleh dunia fantasi sebab acuh adalah cara cerdas mempertontonkan kebodohan.

Penulis: Adityawarman