Terorisme Ditengah Pluralisme Agama dan Carut-marut Keidonesiaan, Ini Salah Siapa?

Penulis Opini Adityawarman Mahasiswa Hukum Pidana UIN Alauddin Makassar

OPINI, Suara Jelata — Negara indoneia yang sejak tahun 1945 telah mendaulat dirinya sebagai negara majemuk yang dimana dibuktikan setelah eksistensi ragam keebudayaan, ras, suku, bahakan agama telah saling menopang menjadi suatu bagian yaitu indonesia. Namun seiring perjalanannya sebagai negara majemuk potensi mempertahankan nilai kemajemukan itu sendiri telah mengalami degradasi yang ditandai dengan adanya tindakan kriminalitas yang membawa kepada ragam etnik.

Salah satu permasaalahan yang sedang hangat saat ini ialah Terorisme yang berkepanjangan yang mulai lahir sejak paham-paham radikal merasuki otak ke-Indonesiaan, yang kemudian disangkut pautkan dengan salah satu Agama yang karena pelakunya adalah berasal dari kaum dari agama tersubut yaitu Islam, sehingga muncullah diskriminasi sosial terhadap pemeluknya.

Berangkat dari pada permasalahan tersebut, selalu muncul bentrokan pemikiran dari yang mengakari tragedi itu, Ada yang menyalahkan agama, ada pula yang menyalahkan rezim yang tidak becus. Alih-alih yang menyalahkan agama karena setelah didalami alasan para teroris melakukan tindakan tersebut adalah dengan menegakkan agama allah dengan kata lain yaitu berjihad yang dimana sebagian orang mengartikannya dengan berperang secara fisik.

Agama yang sama kita ketahui hadir bukan hanya untuk memecah persoalan konsep ketuhanan, melainkan sebagai jalan pertemuan dengan sang maha karim, yang juga menjembatani kita dalam melewati jurang hawa nafsu yang mutlak dimiliki oleh setiap makhluk yang disebut manusia. Bahkan semua agama yang diciptakan tidak pernah menganjurkan untuk membantai sesama.

Inilah yang disebut kesesatan Dalam berpikir, dimana dalam titik ekstreamnya individu menjadi manusia yang memeluk agama namun tidak satupun yang dapat dikatakan beragama, bagaimana tidak agama yang Dititipkan yang memiliki doktrin memanusiakan manusia dan membawa perdamaian telah mengalami degradasi nilai dikarenakan oleh kaum-kaum radikal dan ekstream. Agama bukan hanya yang nampak dipermukaan, karena mutiara dan makna sesungguhnya ada dikedalaman, maka dari itu kita dituntut untuk mengkaji karena membaca saja belum tentu punya arti

Paham radikal bukan karena agama tetapi karena individunya yang patah sejak dalam pikiran, terorisme bukan musuh satu etnik Saja Melainkan musuh kita semua. Kita mungkin bisa saja saling menyalahkan, mengklaim siapa diantara kita yang paling benar Namun kita harus paham perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan yang salah satu cara menguji keimanan dan jangan sampai saling memusnahkan. Kita semua adalah representasi dari Tuhan dimuka bumi, kita hidup bukan untuk beradu Siapa yang paling maju dan bukan untuk saling mengalahkan satu sama lain tetapi kita hidup bagaimana supaya hari esok jauh lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.

Agama ada banyak yang dititipkan tetapi yakinlah tujuan Dari semua agama adalah sama, dan dicipta dari Dzat Yang sama pula mari berpikir secara rasional dan membingkai keindonesiaan kita dengan rasa toleransi. Sangat naiflah kiranya kita sebagai seorang yang mengaku beragama jika memaksakan pemikiraan dan pendapat orang lain Harus sama dengan kita. Menugutip dari pada buku PLURALISME AGAMA yang di karang oleh Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd mengatakan bahwa “memang benar, bahwa untuk mencintai kebenaran orang harus membenci ketidakbenaran. Akan tetapi tidak benar bahwa untuk memuji keyakinan sendiri, seseorang harus membenci dan merendahkaan keyakinan orang lain”.

Indonesia bukan milik satu suku dan satu agama bukan pula milik kaum mayoritas namun indonesia adalah milik bangsa indonesia yang sejak kemerdekaan dikumaandangkan telah bersepakat untuk menjaga pancasila dan UUD 1945 serta merawat sikap toleransi yang dibungkus dengan Bhineka tunggal ika.

Penulis: Adityawarman
Editor: Andika Putra