Kasus Pencabulan di Sinjai, Aktivis Perempuan Angkat Bicara

Satriani (Aktivis Perempuan Sinjai)

SINJAI, Suara Jelata— Mengenai kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang bapak kandung terhadap anaknya yang terjadi di Kabupaten Sinjai sempat menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Hal itu juga membuat salah satu aktivis perempuan di Sinjai, Satriani menyayangkan atas kejadian yang menimpah BU (12) asal Dusun Jenna Desa Polewali Kecamatan Sinjai Selatan.

“Sangat disayangkan bahwa Kabupaten Sinjai kini darurat kekerasan seksual anak, begitu banyak kasus yang mulai menimpa anak-anak di Sinjai belakangan ini, mulai dari pernikahan anak dibawah umur yang baru-baru ini terjadi, lantas kini dihebohkan lagi dengan kasus pencabulan anak yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri,” katanya. Minggu, (20/5/2018).

Menurutnya, Kasus tersebut adalah sekian ribuan kasus yang menimpa anak-anak di Indonesia, dia menganggap pencabulan yang dilakukan oleh orang tua kandungnya sendiri menandakan bahwa anak tidak serta merta bisa aman dibawah perlindungan keluarga.

Satriani yang berstatus sebagai mahasiswa di salah satu kampus di Kabupupaten Sinjai tersebut juga mempertanyakan kepada siapa anak anak akan aman.

“Tentunya ini adalah sebuah pertanyaan yang berat karena kita tidak bisa menjamin keselamatan anak hanya dalam lingkup keluarga saja mengingat pelaku kekerasan seksual anak umumnya berawal dari lingkup terdekatnya,” bebernya.

Dia menilai sejak dini anak-anak harus mulai dibekali pendidikan yang berkarakter dan jangan sampai terjerumus ke hal yang tidak baik serta Negara harus mengambil sikap tegas untuk melindungi anak Indonesia.

“Meskipun sudah ada beberapa Undang-undang  yang mengatur tentang perlindungan anak tetapi ini belum maksimal realisasinya,” tegasnya.

Satriani yang kerap disapa dengan Chabe, juga meminta kepada pihak terkait agar lebih meningkatkan sosialisasi terkait Undang-undang tentang Perlindungan Anak.

“untuk Kabupaten Sinjai saya kira sosialisasi tentang UU Perlindungan anak masih perlu dilakukan hingga di Sembilan Kecamatan agar masyarakat mampu memahami arti betapa pentingnya melindungi anak-anak mereka.”Ucapnya.

“Pusat pelayanan terpadu terhadap perlindungan anak harus maksimal dalam rangka sosialisasi tentang hal tersebut mengingat kasus ini mulai meningkat, kita mengkhawatirkan anak yang menjadi korban berpengaruh besar terhadap psikologisnya yang akan membuatnya trauma sepanjang hidupnya,” Ucapnya.

Satriani juga berharap para pelaku diproses secara hukum dan diberi efek jera, kemudian anak-anak yang jadi korban perlu upaya rehabilitasi hingga kondisinya membaik.

TAKDIR/BenZ