‘Ayat-ayat Diplomasi’ Sang Dubes (Kado Ulang Tahun Buat Sahabatku Yuddy Chrisnandi)

Mukhtar Tompo, Anggota DPR RI

OPINI, Suara Jelata— Sebelum meninggalkan Indonesia untuk menunaikan tugas sebagai Duta Besar, sekitar awal April 2017, Bang Yuddy Chrisnandy menyempatkan berkunjung ke kediaman saya, di Rumah Jabatan Anggota DPR RI Kalibata, untuk berpamitan.

Pada momen itulah, saya berjanji akan mengunjungi beliau di tempat tugasnya kelak. Janji itu akhirnya akan kutunaikan, di bulan suci Ramadan 1439 H, bulan Mei 2018.

Kamis, 24 Mei 2018, saya tiba di Wisma Duta, Kyiv Ukraina. Di sana saya disambut oleh Bang Yuddy dengan penuh kegembiraan. Dari jauh ia melambaikan tangan, dengan tangan terbuka beliau memeluk saya sambil mempersilahkan masuk di ruang keluarga.

Sungguh hangat dan penuh nuansa persahabatan. “Saya tepati janji untuk datang kesini menjenguk abang,” ujarku, mengingatkan janji yang pernah kupahatkan.

Kacang Tanah Dan Kerupuk Panda

Saya dipersilahkan masuk ke kamar yang telah disediakan. Seusai salat sunnah dua rakaat, ritual rutin yang saya lakukan setiap mengunjungi tempat baru, Saya kembali menemui Bang Yuddy seraya membawakan oleh-oleh, berupa aneka kacang tanah, kacang mente, dan tak lupa kerupuk Panda kesukaannya. Bang Yuddy dan Ibu Era istrinya, merasa begitu gembira. Bahkan mereka tertawa sambil bergeleng kepala.

Mereka heran, bagaimana mungkin seorang legislator membawa kerupuk dan kacang tanah ke negeri Eropa. Sebelum tiba di Kyiv, makanan ringan itu menemaniku transit di beberapa kota di Eropa Timur. Salah satu hobi bang Yuddy adalah berbincang sembari ngemil, kebiasaan itu pun menular kepada saya.

Radio Jadul Versi Modern

Belum cukup lima belas menit kami bercengkrama, saya teringat benda dalam koper yang masih tersimpan di dalam kamar. Saya beranjak mengambilnya dan membukanya di hadapan Bang Yuddy.

Jenis Radio “zaman old” yang khas dengan siaran RRI, namun dalam versi modern. Bang Yuddy menyalakan dan memutar frekeensi FM, AM, dan MW.

Lalu saya masukkan flash disc yang berisi Murattal Quran plus terjemahan versi Musyori Rasyid, Bang Yuddy dan Ibu Era sangat senang. Bisa menambah ketenteraman jiwa dan pengetahuan mendalam, ungkap mereka.

Kemudian saya masukkan flash disc satunya lagi, yang berisi lagu-lagu Indonesia nostalgia zaman 1970 hingga 1990-an. Spontan, gelak tawa menghiasi seluruh ruangan keluarga.

Bang Yuddy termasuk tipe orang yang sangat menghargai sejarah, kulihat matanya berbinar memandang radio yang kubawa. Nampaknya ia sedang mengenang masa lalu. Mungkin banyak kisah masa kecil dan remajanya yang tiba-tiba membanjiri memorinya. Ya, pemantiknya benda bernama radio.

Quran Pesanan Bang Yuddy

Dua bulan sebelum kedatangan saya ke kota Kyiv, Bang Yuddy menelpon agar dibawakan 10 buah Quran cetakan Indonesia lengkap dengan terjemahannya. Quran tersebut akan disimpan di Kedutaan, dan juga akan dibagikan ke para Mufti dan Imam besar Masjid Kyiv.

Setelah melihat Quran yang saya bawa, Bang yuddy langsung mencium Quran itu, kemudian membuka dan membaca beberapa ayat. Wajahnya cerah, diliputi rasa syukur dan ketenangan.

Tak lama setelah itu, Bang Yuddy mengajak saya ke kantor Kedutaan. Quran itu didekap di dadanya, dibawa serta ke kantor kedutaan.

Quran juga akan disimpan di rumah untuk dibaca para penghuni Wisma Duta. Selain itu, Bang Yuddy menyimpan satu Quran di mobilnya, agar dapat dibaca setiap dalam perjalanan.

Selain tak pernah jauh dari Quran, Bang Yuddy juga tak pernah meninggalkan puasa sunah Senin – Kamis sejak saya mengenalnya. Kebiasaan ini masih terus dilakukannya di Ukraina, dimana Puasa harus dijalani sekitar 18 jam.

Menyusuri KBRI di Kyiv

Begitu tiba di KBRI, saya diajak oleh Pak Dubes Yuddy Chrisnandi mengelilingi kantornya. Kami mengitari sudut demi sudut ruangan. Menyusuri parkiran samping, depan dan belakang. Dari hingga basement hingga lantai empat. Saya diajak memasuki setiap ruangan di semua ruangan, sembari memperkenalkan saya ke seluruh staf KBRI, baik staf lokal maupun ASN di lingkup KBRI.

Di KBRI ada 12 orang staf lokal, enam diantaranya adalah warga asli Ukraina. Seluruh ruangan terasa hidup, terlihat keceriaan dan kegembiraan dan penyatuan energi kebatinan seluruh staf.

Di KBRI Kyiv ini terpajang tiga gong khas Indonesia yang tersebar di tiga lantai. Dalam lemari kaca terlihat aneka miniatur alat musik yang sengaja dipajang untuk memantik mata bagi setiap pengunjung. Terpampang ratusan penghargaan, beberapa wayang, puluhan alat musik tradisional khas indonesia.

Ada satu ruangan yang cukup luas. Ruangan itu khusus digunakan sebagai tempat latihan musik tradisonal dan juga latihan tari yang dipandu oleh instruktur khusus dan berpengalaman dari Indonesia.

Banyak pelajar dan mahasiswa Ukraina yang memilih tempat ini untuk berlatih. Sungguh tempat ini sangat memukai dan menjadi magnet tersendiri bagi saya.

Kantor KBRI sudah berusia 20-an tahun, namun masih dalam status penyewaan. Saat ini bang Yuddy sedang memperjuangkan kantor permanen. Terkait Wisma Duta, bangunan milik KBRI, tanah milik Pemerintah Ukraina, status tanah disewa.

Taman Budaya Indonesia di Kyiv

Ketika berniat berkunjung ke Kyiv Ukraina, hal pertama yang terbetik dalam benakku adalah melihat langsung Taman Budaya yang dibuat Bang Yuddy Chrisnandy (Duta Besar Republik Indonesia untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia).

Selama ini saya hanya melihat taman botanical dan miniatur Indonesia itu via media sosial, serta kisah yang ada di balik pendiriannya.

Pembangunan monumen kebudayaan ini cukup singkat. 21 April 2017, pertama kali Bang Yuddi tiba di kota Kyiv. Tanggal 24 rapat dengan staf, merancang percepatan taman miniatur dan pembangunan paviliun indonesia.

Meski sebenarnya pernah ada rencana sebelumnya, tapi tidak kunjung terealisasi lebih dari sepuluh tahun.

Bang Yuddy, mementingkan legacydan kreativitas. Hasil lobi yang ia lakukan menuai hasil berupa pemberian status tanah untuk membangun taman khas dan paviliun budaya. Maka dirancanglah miniatur Borobudur, Gereja Katedral, Pura Bali, Monas, dan Masjid Istiqlal.

Bangunan-bangunan ini memberi ciri keragaman budaya dan pembauran umat beragama di Indonesia. Bangunan itu dibangun di dalam Kebun Raya Ukraina seluas 150 Ha untuk indonesia. Tapi area yang dibanguni hanya 500 meter persegi.

Sebelumnya ada bebrapa lokasi yang diperkenankan untuk perwakilan negara asing. Tapi Indonesia mendapatkan lokasi di tempat prioritas. Setelah bang Yuddy minta pengakuan tertulis semacam sertifikat, tanah ini kemudian dipagari.

Bang Yuddy tak mau kalah dengan negara Korea yang membangun paviliun miniatur kota dengan bantuan dari Samsung, begitu juga dengan negara Jepang dan Nepal.

Proses pengerjaan dilakukan dengan hanya dua bulan persiapan, yaitu Mei dan Juni 2017. Bangunan ini dikerjakan Bulan Juli, Agustus, September dan Oktober 2017. Tanggal 28 Oktober 2017 bangunan ini sudah siap diresmikan, namun Bang Yuddy memilih menggelar Soft Openingpada 10 November 2017.

Bang Yuddy juga telah menyurati Presiden dan Wakil Presiden, untuk meresmikan taman botanical tersebut.

Bang Yuddy memberi pesan bahwa segala sesuatu bisa diwujudkan, diawali dengan cita-cita, dimatangkan dengan perencanaan. Lalu diwujudkan dengan upaya, berjuang, dan konsistensi.

Rapat tanggal 25 Mei 2017, tercatat sebagai rapat pemantapan pembangunan dua ikon indonesia, yaitu Botanical Park dan Miniatur Paviliun indonesia, di negara Ukraina. Padahal kesan publik negara ini adalah negara perang.

Bang Yuddy merancang bangun tempat ini dengan modal sendiri. Pengajuan anggaran bangunan tersebut hingga kini belum dicairkan. Bang Yuddy memilih menggunakan anggaran operasional dan diplomasi Dubes.

Demi sebuah obsesi, terwujudnya bangunan monumental yang telah diimpikan lebih dari sepuluh tahun. Miniatur mini Indonesia ini diresmikan oleh Bang Yuddy tanggal 10 Nov 2017. Lokasinya di Ukraine in Miniatur Park, Kyiv.

Meski dengan segala keterbatasan, Yuddy mampu merubah impian menjadi kenyataan.  Anggaran tahunan Kantor KBRI Ukraina-Georgia dan Armenia hanya berkisar 26,5 miliar.

Anggaran tersebut, sudah termasuk belanja rutin pegawai, anggaran operasional kegiatan diplomatik, pemeliharaan sarana dll. Aktivitas diplomatik sangat sangat maksimal.

Kantor KBRI sudah berusia 20-an tahun, namun masih dalam status penyewaan. Saat ini bang Yuddy sedang memperjuangkan kantor permanen. Terkait Wisma Duta, bangunan milik KBRI, tanah milik Pemerintah Ukraina, status tanah disewa.

Diplomasi Kebudayaan

Jumat siang, pukul 12.30 waktu Kyiv, atau pukul 17.30 Waktu Indonesia Barat, saya bergegas ke Masjid Jabal Rahmah Bersama Bang Yuddi. Ini adalah masjid besar di kota ini, umat muslim cukup banyak, keakraban dan syahdu menyatu padu menambah ke khusyukan ibadah salat Jumat.

Setelah itu kami mendoakan Jenazah salah satu tokoh muslim yang wafat hari itu. Beliau adalah mantan atase pertahanan luar negeri Iran yang sudah lama tinggal di Ukraina.

Sore harinya, kami bersama KBRI mempersiapkan acara buka puasa dengan konsep gathering, yang sengaja dirancang Sang Dubes untuk menjamu para Dubes muslim yang ada di Ukraina. Sebuah langkah tepat meningkatkan keakraban sesama Dubes di bulan Suci Ramadhan.

Acara buka puasa yang diadakan di wisma duta KBRI Kyiv ini mengambil tema “Persaudaraan Islam untuk Perdamaian Dunia.” Selain saya (Mukhtar Tompo) dari DPR RI, turut hadir beberapa duta besar negara muslim yang ada di Ukraina, yaitu Saleem Ahmad Al Kaabe (Uni Emirat Arab), Fayzullo Kholboboer (Tajikistan), Azer Khudiyev (Azerbaijan), Mohammed Qasem Assad Al Assad (Palestina), Ali Daher (Lebanon), Tusupbeck Sharipov (Kirgiztan), Mohamed Eisa Ismail Dahab (Sudan), Sardar Mohammad Rahman Oghli (Afganistan), Bakir Ahmed Azis al Saff (Irak), Mohammad Behesty Monfared (Republik Islam Iran), dan Hossam Eldeen Aly (Mesir).

Kegiatan buka bersama dengan duta besar rutin diadakan KBRI Kyiv sebagai wujud soft diplomacy. Pada kesempatan itu acara diadakan perbincangan antar negara yang membahas isu lintas sektor. Fokus diskusi mengetengahkan topik posisi Islam untuk perdamaian dunia.

Dalam perjamuan dihidangkan makanan khas indonesia dari mulai pembuka berupa bubur candil. Makanan utama berupa gado-gado, sop buntut, nasi kuning, empal gentong, dendeng balado, ayam taliwang, telur pindang, jengkol, dan tahu.

Sedang hidangan penutupnya berupa ketan hitam. Tak lupa juga dihidangkan kerupuk, abon, dan sambal sebagai pelengkap hidangan. Ide sang dubes luar biasa, menghidangkan makanan sebagai bentuk promosi kekayaan kuliner indonesia. Suatu bentuk diplomasi kebudayaan yang jitu dari Sang Dubes.

Catatan Akhir

Negara Ukraina kurang familiar di Indonesia. Jangankan bagi masyarakat umum yang berkepentingan pada aktivitas pariwisata ataupun pendidikan, bahkan pejabat negara saja jarang menjadikan Ukraina sebagai negara tujuan.

Persepsi selama ini menempatkan Ukraina sebagai negara terbelakang, bahkan di benak kebanyakan orang Indonesia, negara ini adalah negara perang, penuh konflik tak berkesudahan.

Setelah Bang Yuddy Chrisnandy menjadi Dubes dengan segenap terobosan imajinatifnya, Ukraina mulai banyak dikenal di Indonesia. Ukraina mulai dikenal meluasdi kalangan pelajar, pengusaha, maupun Pemerintah, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif.

Demikian pula pejabat dari Kepolisian dan TNI sudah banyak yang mengunjungi Ukraina.

Saya mengamati buku tamu KBRI. Sudah cukup banyak orang Indonesia yang berkunjung ke Kota Kyiv, Ukraina. Bahkan Anggota DPR dan DPD telah lebih dari 80 orang yang pernah datang dengan berbagai kepentingan, baik kerjasama bilateral maupun internasional.

Masyarakat Ukraina pun semakin mengenal Indonesia. Hal itu merupakan implikasi kunjungan delegasi-delegasi di atas. Pertemuan antar birokrat, teknokrat, penegak hukum dll telah melahirkan edukasi dan kedekatan emosional antar kedua  negara.

Sebuah terobosan dan langkah maju bagi Indonesia. Dedikasi atas kemampuan lobi, dan berbagai bentuk kerjasama yang ditorehkan Sang Dubes patut diberi apresiasi luar biasa oleh Presiden, Wapres, maupun segenap rakyat indonesia.

Hari ini, Sang Dubes kelahiran 29 Mei 1968, telah mencapai usia 50 tahun. Tidak ada yang bisa saya berikan kecuali doa-doa terbaik untuknya dalam sujud panjangku.

Aku berbisik ke bumi dan kuyakini diaminkan oleh langit. ‘Ayat-ayat Diplomasi’ yang ia lantunkan telah menggemakan nama Indonesia di langit Eropa. Selamat Ulang Tahun Prof. Yuddy Chrisnandi. Indonesia pasti bangga padamu!

Oleh: Mukhtar Tompo (Anggota DPR RI)