Catatan Seorang Petualang

OPINI, Suara Jelata– “Aku ingin menginjakkan kakiku keseluruh dunia ini”.

Hal itu selalu terlintas dipikiranku. Aku sangat ingin melihat hal-hal selain yang ada disekelilingku.

Aku ingin mengunjungi kelima benua yang ada di dunia ini, ingin kujelajahi semua gunung dan belantaranya dan kuingin berlayar melintasi semua samudra.

Aku adalah orang yang suka iri. Yah memang begitulah keadaanku, aku iri mendengar cerita dari orang – orang  tentang suatu tempat yang menarik dan jauh disana.

Akupun ingin melihat langsung cerita orang – orang itu. Aku sering mendaki sebuah gunung, menjelajahi sebuah hutan belantara, menyelam ke beberapa sungai dan lautan yang indah, Hal seperti itulah membuatku serasa lebih hidup.

Alam adalah pelarianku, tempatku berteduh dari segala kebosanan dan kemunafikan orang – orang yang hidup di sini. Alam bisa memberiku kedamaian.

Walau kadang – kadang alam juga menunjukkan kekuatannya dengan hujan badai, gempa, guntur, serta halilintarnya, tapi setidaknya alam lebih jujur dari mereka.

Aku sering dipanggil seorang pecinta alam karena aku sering mendaki gunung dan menjelajahi hutan belantara, tapi aku pikir aku belum mencapai taraf tersebut.

Beban seorang pecinta alam bukanlah sesuatu yang mudah di pikul oleh seseorang.

Pecinta alam harus mempunyai hati yang tulus dan betul  – betul ingin bersahabat dengan alam.

Aku hanyalah seorang petualang bukanlah seorang pecinta alam.

Banyak orang di dunia ini menyebut mereka pecinta alam. Mereka mendaki dan menjelajahi hutan.

Tapi kebanyakan dari mereka hanyalah seorang petualang. Makna dari pecinta alam benar- benar telah menjadi kabur.

Banyak pohon yang rusak akibat mereka, banyak binatang yang tak betah dilingkungannya karena mereka.

Apakah itu yang disebut seorang pecinta alam ?

Aku sering menanam pohon di gunung, tapi itu belumlah pantas untuk disebut pecinta alam.

Mencintai alam adalah suatu keharusan setiap umat manusia  di dunia ini, Siapapun dan apapun dia.

Agar kelak alam yang indah ini tak hanya sekedar menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kita kelak.

Wahai saudaraku, siapapun engkau yang membaca tulisan ini. Aku harap kau juga mencintai dan menjaga alam ini.

Aku pernah membaca sebuah kalimat yang seperti ini :
Suatu saat
Ketika pohon terakhir sudah di tebang
Sungai terakhir sudah kering
Dan ikan terakhir sudah di tangkap
Manusia akan sadar bahwa
Uang tidak bisa di makan.

Salam Petualang

Oleh: Gurita
Suportted: KPA Beringin Sinjai