Kesetaraan Atau keserakahan Gender?

Hariani Arifuddin

OPINI, Suara Jelata—If a Women Want’s tobe a warrior let her be and if a wants to be a princess let him be

Kalimat tegas tertulis nyata pada salah satu Poster di Aksi Women March Di Jakarta Tanggal 3 Maret 2018 lalu.

Perempuan menuntut kesetaraan, mengingat selama ini Perempuan adalah dayang-dayang yang selalu berteduh dibawah ketiak Bani adam!
Benarkah sampai sekarang? Polemik sekalipun, Kesetaraan gender telah diteriakkan oleh para Aktivis Perempuan?

Kalau begitu mari saya ajak Berkeliling Pikiran melalui Tulisan ini.

Dalam beberapa kancah peradaban dunia, Perempuan selalu dinomorduakan, ditindas, dan selalu menjadi pemenuh Syafwat saja. Sekat-sekat seksis dan pandangan patriarki membuat para Perempuan merasa peran dan ranahnya terbatasi.

Inilah Yang menjadi Problematika Paham Feminisme (Tuntutan Kesetaraan Gender) terngiangkan pertama kali dari belahan dunia Barat.

Ketertinggalan kaum perempuan dari lelaki dipacu oleh Aspek Nature, Perempuan terkonstruksi perbedaan tugas dari lelaki, dampak kultural melahirkan kondisi, bahwa lapangan-lapangan birokrasi, Pemerintahan daerah, elit, agama, dan budaya kurang menyerap kaun Perempuan, pikiiran ini yang perlu diubah.

Kaum Feminis berlogika, kalau lelaki mampu berkerja diranah publik perempuanpun bisa, kalau Lelaki Mampu Menjadi Pemimpin Negara, kenapa perempuan tidak? Kalau lelaki bisa berpakaian seenaknya, Perempuanpun harus bisa.

Stop Blaming Victim” itu yang kaum Feminis Tegaskan, hal ini bukan tanpa sebab, Mengingat Kasus Pelecehan pada Perempuan Meningkat Dari tahun Ketahun.

Feminisme menuntut Pendidikan Tinggi bagi Perempuan sebagai Bentuk Kesetaraan. Karena bagi mereka Pendidikan adalah Penyelamat bagi kaumnya dimasa depan. Dan dari beberapa aksi protes dan aksi nyata membuahkan hasil, di era modern ini Perempuan sudah mulai menampakkan diri, berkreasi lalu melampaui batas, baik dari aspek Kepemerintahan ataupun Dari tatanan Sosial.

Bahkan banyak dari Perempuan dunia Yang merasa benar adanya kesetaraan gender Yang perlu direalisasikn, hingga lupa kodrat seorang Perempuan, yang terpikirkan Bagaimna Caranya Menjadi Perempuan era Zaman, tapi sayang keluarga harus terbengkalai dan tak terurus, Tragis bukan?

Masalah Keterwakilan Perempuan dalam Dunia Politik, bagaimna?
Problematikanya adalah bagaimna jika di suatu daerah tingkat Pendidikan dan kecerdasan Perempuan masih sangat minim?

Maka disini tidak akan dijumpai masalah kuota Perempuan Dalam Partai Politik, karena disini tidak ditemukan persyaratan yang diberikan Parpol.

UU No 2 tahun 2008 merupakan tantangan bagi Parpol dalam memajukan Perempuan, tampaknya tidak akan diperkenangkan menyimpangi sistem Kuota 30% Dengan alasan apapun itu. Seharusnya Parpol melakukan latihan Pendidikan Politik, Agar mereka paham bagaimna Mengrealisasikan Roda Politik.

Lantas bagaimna Kesetaraan Gender dalam pandangan Agama??
Saya paham betul, Kedua hal tersebut sangat sulit untuk di iramakan, Paham Feminisme Dari barat menuntut Perempuan harus bisa melakukan apapun Yang dilakukan Bani Adam, Dengan alasan Kesetaraan atau Upaya menyamai, Sedang Pandangan Islam Perempuan Bisa berkreativitas bebas tapi ada beberapa aturan yang tak boleh dilanggar.

Contoh kecilnya Seperti ini, Paham Feminisme Berpendapat bahwa Perempuan tidak Selamanya harus Di Dapur, Sumur, dan Kasur, Mereka harus keluar! Sedang Pandangan Islam Berpendapat Bahwa Perempuan boleh Keluar berapresiasi, Tapi Perempuan tidak boleh meninggalkan Kasur, dapur, dan sumur, sebab kodrat Seorang Perempuan memang untuk mengurus itu.

Lantas bagaimna menjadi Perempuan di era zaman ini? Jadikan ketiga ruang itu sebagai Ruang Yang berkualitas, Sebab Suami dan Anak Yang Berkualitas lahir dari Perempuan Yang Berkualitas.

Perempuan dalam Islam sangat diistimewakan oleh Allah SWT, Kaumnya diabadikan khusus dalam Alquran, yaitu Surah An-Nisaa yang membahas Tuntas kodrat seorang Perempuan. Bahkan Menurut Kajian Ilmu Tasawuf, hubungan Emosional Dan Spiritual antara Allah SWT dengan Perempuan langsung tanpa perantara, bahkan mereka dianugrahi Rahim dan keistimewaan Surga Di bawah telapak kakinya.

Di zaman Peradaban islam ada ribuan ulama Perempuan yang tanpa harus turun demo menuntut kesetaraan, namun sudah bisa menampakkan diri.

Bahkan, DR. Mohamma Akram Nadwi, seorang Peneliti di Oxford Centre For Islamic Studies, Terkejut Dengan penemuannya sendiri. Penelitiannyaa tentang hadist ulama Perempuan, ia menduga hanya ada 30-40 ulama Perempuan, ternyata ia menemukan 8000 ulama Perempuan.

Hingga Kamus Biografinya skrang sudah sampai volume 40, ia juga yakin kalau ini bukan angka sebenarnya. Masih ada ribuan ulama Perempuan diluar sana.

Perlu diketahui kalau Pendiri Universitas Pertama (Al-Qarawiyyun) adalah seorang Perempuan, menakjubkan Bukan?

Sampailah disebuah kesimpulan bahwa Era Modernasasi ini kita bebas menjadi Perempuan model apa saja. Tapi Perlu dipahami, Kita tak masalah melampaui batas, tapi tidak pantas melupakan kodrat Yang mengikat. Kita hanya perlu menjadi Perempuan Pemberontak yang beretika.

Maaf kalau dalam Tulisan Ini Pandangan Kita Berbeda.

Oleh: Hariani Arifuddin