Indonesia Krisis Kepemimpinan!

Andi Aris Mattunruang

OPINI, Suara Jelata—  Indonesia sedang dilanda suatu keadaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah terjadinya krisis narasi tentang ke mana arah yang dituju oleh bangsa ini.

Ibarat kapal nahkoda belum mahir dalam mengemudi karena masih belum memiliki lisensi yang jelas dalam menahkodai kapal tersebut, dan pada akhirnya kapal pun terombang-ambing diterjang badai yang dahsyat sehingga kapal tersebut mulai mengalami turbulensi dan ujung-ujungnya nanti karam sehingga masih jauh dari pulau harapan yang ingin kita tujuh, mungkin begitulah analogi sederhana menggambarkan Indonesia saat ini.

Krisis narasi itu seakan telah di depan mata, dengan sikap masyarakat yang seakan terjadi kehilangan kepercayaan terhadap jalanya pemerintahan menuju kepada kesejahteraan rakyat.

Namun hilangnya kepercayaan itu terjadi ketika negara begitu bersemangat menggenjot pembangunan infrastruktur namun secara bersamaan masyarakat merasakan kehidupan yang makin berat, Mengapa masyarakat sampai mersassakan disorientasi akan arah bangsa ini? krisis narasi muncul di tandai dengan munculnya paradoks dan melahirkan masalah yang kompleks namun negara gagal dalam memberikan jawaban atas semua masalah itu.

Sudah 20 tahun reformasi yang kita rasakan, yang meimiliki harapan agar masyarakat Indonesia sejahtera dan pergantian pemimpin negara setiap 5 tahun sekali belum memberikan efek yang banyak, toh masih banyak peristiwa-peristiwa yang belum diungkap serta kesejahteraan masyarakat semakain jauh dari kata sejahtera, malah kesenjangan antara potensi yang kita miliki dan hasil yang kita capai.

Langit terlalu tinggi tapi kita terbang terlalu rendah. Kita seperti orang kaya yang tidak bisa mengelola kekayaan dengan baik dan kini berada diambang kebangkrutan dan menjadi negara gagal.

Krisis kepemimpinan punya tiga dimensi, pertama krisis kepemimpinan dari stok, suplai, jumlah kuantitatif. Kedua terjadinya sentralisasi kekuasaan di tengah segelintir orang atau dalam politik disebut oligarki. Ketiga kita sulit dapat pemimpin berkarakter. Indonesia butuh pemimpin memiliki ketegasan, berani dan diinginkan rakyat, pemimpin nasional saat ini sering absen dalam peristiwa yang sebenarnya penting untuk bersama rakyatnya seperti kasus kekerasan DLL.

Harusnya pemimpin hadir untuk mewakili janji kemerdekaan kita bukan malah hanya bernarasi sesuatu pada media sosial saja dan mengumbar cerita di media.

Kepemimpinan yang tidak tegas dalam memimpin akan berdampak pada bawahanya, di mana bawahanya tersebut juga tidak akan tegas dan berakibat pada bawahan juga bingung.

Misalnya pemimpin menyuruh melakukan tugas A lima menit berikutnya menyuruh tugas B. Perjalanan Indonesia menjadi bangsa yang demokratis terus tertatih-tatih karena kelangkaan elite politik yang mampu memimpin dengan berintegritas moral dan kapabilitas, bukan malah menjadi petugas partai yang diatur oleh King maker sehingga seluruh kebijakan, ide dan gagasan harus ada suwon dan campur tangan dari sosok tersebut.

Bangsa Indonesia sedang di pertontonkan bagimana meraih simpatik masyarakat dengan pencitraan, kata pencitraan kerap tampil dalam pembahasan sehari-hari beberapa tahun belakangan ini, saya tidak tahu persis kapan kata pencitraan melekat dalam pembahasan politik, tetaptanya dalah hal kepemimpinan pencitraan dilekatkan oelh masyarakat pada orang-orang yang ingin meraih simpati masyarakat demi sebuah dukungan dengan membentuk sebuah citra yang positif ditambah sorotan media 24 jam.

Misalnya pilkadapara calon pemimpin berlomba menampilkan diri sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan paham agama.

Keadaan yang demikian inilah pada akhirnya dimanfaatkan para calon pemimpin sehingga lihatlah para pemenangan pemilu yang lalu, bukanlah orang-orang yang berhasil mencitrakan diri dengan baik tetapi kemenangan mereka digerakan oleh uang.

Maka tak pelak lagi, orang-orang yang memenangi pemilu lalu pada umumnya adalah para kaum pragmatis yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan, sungguh ironi negeri ini ketika para pemimpin hanya mengejar syahwat politiknya dan mengabaikan segala bentuk proses yang positif.

Dalam ilmu Mnajemen sering kita dengar kata Right thing at the right place dengan apapun objeknya pemimpin harus terbiasa membuat manajemen yang baik maka anda akan merasa kurang, tidak teratur, jika suatu hal tidak di manage dengan baik.

Efektivitas kepemimpinan seseorang juga di tentukan oleh kemampuan dalam “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinan agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan siytuasi tersebut.

Penyesuaian dimaksud adalah kemampuan menentukab cirri kepemimpinan dan perilkaku tertentu karena tuntutan situasi.

Bernard M.Bass (1990) membagi kepemimpinan menjadi dua tipe yaitu kepemimpinan transformasional dan transaksional. Karakteristik dari kedua kepemimpinan tersebut terghantung pada standar perilaku, nilai dan moral dari individu kepemimpinan.

Pada kepemimpinan transaksional terdapat transaksi atau pertukaran dalam hubungan anatara pemimpin dan bawahanya sedangakn kepemimpinan transformasional hubungan anatara pemimpin lebih condong pada timbal balik dan berlandaskan kepercayaan. Dan ini benar terjadi di negeri yang kita cintai.

Dalam budaya bugis sifat, dan sikap kepemimpinan yang dipakai seorang pada saat masa kerajaan sehingga mendapat kejayaan seharusnya sih bagus untuk di contoh untuk memilih pemimpin bangsa Indonesia kelak, nilai hidup yang tertanam yaitu getting (bersikap tegas), Tettong riada tongeng (Konsisten pada pendirian), Lempu (jujur), Tongeng (benar).

Itulah sebabnya nilai-nilai para pendahulu kita harus ditanamkan, dijaga dan direalisasikan oleh pemimpin Indonesia agar ketika bicara kejayaan Indonesia bukan hanya zaman dahulu tapi kini dan nanti, tentu dengan cacatan mengaplikasikan nilai luhur tersebut.

Oleh: Andi Aris Mattunruang (Alumni Mahasiswa manajemen UNM Makassar)