Kritik Sistem Haji di Indonesia

Sudirman (Ketua PEMBEBASAN Kol-kot Sinjai).

OPINI, Suara Jelata— Islam adalah agama yang benar bagi penganutnya,dalam Islam terdapat 5 rukun yang salah satunya naik Haji bagi orang yang mampu.

Namun terlintas di benak saya, saya heran dengan apa yang diterapkan oleh para ulama ulama Indonesia dan pemerintah. Mengapa setelah menunaikan ibadah Haji kita diberi gelar di depan nama berupa tulisan H?.

bukankah tujuan dari menunaikan ibadah Haji adalah sebuah penyempurnaan, bahkan saya membaca ayat Al-Quran tidak ada yang mengatakan berilah gelar kepada orang yang sudah naik haji.

Bercermin dari negara-negara Islam lainnya, tidak ada yang menerapkan sistem yang seperti ini. Jadi di Indonesia menurut saya aneh bin ajaib.

Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan Haji, tetapi mengapa dinamanya tidak di sebutkan dalam Al-Quran maupun hadis Nabi H. Muhammad SAW?.

Kita beralih ke negara Arab. Raja Salman pun di depan namanya tidak ada tertulis Haji. Iya, itu sedikit uraian yang terlintas dibenak saya,apa asal usul yang pasti di Indonesia ada gelar haji?

Sedangkan dalam Islam kita tidak boleh membanggakan dan memamerkan sebuah kedudukan karena itu hanyalah titipan.

Ini yang dikatakan budaya atau Islam Nusantara yang aktual hari ini? Saya rasa perlunya lagi pemerintah menanggapi apa yang telah ditetapkannya.

Jika ingin menerapkan sistem yang seperti ini harus jelas sumbernya bukan hanya hasil pemikiran beberapa kelompok, tetapi harus jelas landasannya berasal dari Al-Quran dan hadits.

Apalagi ini menyangkut keyakinan beragama Islam. Hal yang seperti ini menurut pribadi tidak sesuai sebagaimana mestinya agama islam sesungguhnya.

“Islam itu jangan dikurangi, Islam jangan ditambah, apalagi dimodivikasi”.

Oleh: Sudirman (Ketua PEMBEBASAN Kol-kot Sinjai)