Tan Malaka “Merdeka” Sekali Lagi

Hariani Arifuddin

OPINI, Suara Jelata — Kemerdekaan bukanlah hanya sekedar kata, bukan pula termanologi tanpa arti. kemerdekaan bukan hanya Terminus Tehnikus dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang berkekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita, tanpa gelimang darah, tanpa denyutan jantung yang terhenti tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru.

Tahun ini Indonesia menapaki moment 73 tahun kemerdekaan. Ditinjau dari umur seorang manusia sudah memasuki fase matang, namun dari realita yang ada sekarang benarkah Indonesia telah matang baik secara sosial, ekonomi, dan politik?
Atau istilah Founding Fathers negeri ini sudah bisa disebut negeri yang berdaulat?

Sebelum menuntaskan sebuah persoalan negeri, mari meninjau romantisme masa lalu Indonesia..

Refleks sejarah Indonesia, katanya “Bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah negerinya” mendayu indah ditelinga, tercatat jelas dilembaran sejarah.

Tepat jam 10 Pagi di Jl. Penggagasan Timur (Sekarang Jl. Proklamasi) Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang meneriakkan kemerdekaan dengan sound yang terdengar seantereo nusantara yang merupakan sebuah kebahagiaan, kebebasan bangsa yang muak terjajah lebih dari 3 abad lamanya.

Jauh, sangat jauh dari kemerdekaan, tahun 1928 sejarah Indonesia hanya sebagian yang mencatat dan mengabadikan tulisan-tulisan yang muak akan penjajahan, yang mencintai negerinya hingga hanya mencicipi sedikit saja tentang indahnya romansa asmara.

Siapa yang tidak mengenal pemuda Minangkabau yang tulisannya sangat berpengaruh dizamannya, yang rela melepas gelar kebangaannya hanya untuk menimbah ilmu di negeri yang dibenci para tetuah adatnya yang dengan liarnya menjajah Indonesia taitu Nederland, tekad dan alasan yang sederhana namun tersirat makna yaitu hanya untuk pergerakan dan perubahan bangsa, sebut saja namanya Ibrahim biasa dipanggil Tan Malaka.

Dikutip dalam bukunya, Tan Malaka, “Merdeka 100 Persen” karya Robertus Robert, kelima tokoh kiasan itu membahas seputar tentang kondisi politik, rencana perekonomian berjuang, hingga soal muslihat.

Dalam pembicaraan politik dibahas tentang makna dan kemerdekaan dan sebagainya. Inti dari bagian itu adalah, kemerdekaan harus 100% tanpa harus ditawar-tawar, sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya, dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sedangkan dalam putaran bahasan ekonomi, yang dibahas rencana perekonomian negara kapitalis terhadap negara lainnya termaksud Indonesia, diatur merasa bahwa yang paling mengetahui perencanaan ekonomi yang tepat bagi Indonesia.

Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik dalam berjuang.

Pemikiran buku “Merdeka 100%” puncaknya disampaikannya untuk menyinggung kesepakatan antara Bung Karno dan Pihak Jepang yang hanya sebagian orang yang memahami.

Terekam indah dalam sejarah memorial Perdebatan antara Tan Malaka dan Ir.Soekarno di bayah. Tempat bersejarah bagi ia yang merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Ir.Soekarno. Dalam Biografinya “Dari Penjara Ke Penjara”  membuat Tan Malaka mengagumi Ir.Soekarno.

Suatu kehormatan baginya saat itu ia ditugasi, untuk melayani Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Namun sayangnya Ir. Soekarno tak mengenal bahwa ia adalah Tan Malaka Seorang pemuda yang penuh inspiratif. Sebab saat itu Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Setelah sampai diruang pertemuan, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memulai pidatonya yang ternyata tak memuaskan hati Tan Malaka.

“Pidato itu tak beda dengan berlusin-lusin yang diucapkan dalam rapat raksasa, atau penyampaian di radio-radio. Sari isinya adalah cocok dengan kehendak Penjajah Jepang.

“Kita harus berbakti dulu pada Jepang saudara tua yang mati-matian melawan sekutu jahanam itu. Setelah sekutu itu kalah, maka kita dan saudara tua akan merdeka” pidato Bung Karno.

Dari posisi paling belakang Tan mengajukan sebuah pertanyaaan.

“Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan kita, itu artinya kita harus mendahulukan kemenangan mereka dulu baru kita akan merdeka. Apakah tiada lebih cepat kalau kemerdekaan lalu akan diberi kemenangan, mengapa kemerdekaan tergantung kemenangan mereka?” Tanya Tan Malaka.

Namun tak ditanggapi secara serius oleh Ir. Soekarno. Melihat ini, Tan Malaka begitu jengkel hingga beberapa kali mengejek.

“Bukankah jasa kita terlebih dahulu? Setelah melihat jasa kita maka Dai Nippon akan memberi kita kemerdekaan” demikian jawaban Ir.Soekarno.

Merasa tak sehaluan dengan Ir. Soekarno tentang kemerdekaan membuat Tan Malaka kembali angkat bicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya pada saat itu Indonesia sudah merdeka.

Semangat kemerdekaan akan lebih bermakna apabila kemerdekaan itu didapat atas usaha sendiri, bukan atas kesepakatan pihak lain,” Tegas Tan Malaka saat Itu.

Setelah mendengar pertanyaan Tan, Ir. Soekarno berdiri merapikan pakaiannya seakan menegaskan siapa dirinya.

“Kalaupun Dai Nippon memberikan kemerdekaan kepada saya saat ini, maka saya tidak akan menerima,” Kata Ir. Soekarno

Mendengar jawaban itu, Tan Malaka kembali bereaksi tak terima, tapi tidak diperkenankan oleh pengawas untuk berbicara lagi.

Perbedaan pemikiran antara Ir. Soekarno dan Tan Malaka bergelut hingga pada saat Proklamasi.

Pada saat itu, Tan Malaka sudah membuka identitasnya pada Ir. Soekarno, namun Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk melakukan perundingan pada Belanda, namun Tan Malaka tetap tidak setuju. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan harus diraih 100% tanpa kesepakatan dari beberapa pihak.

Dari sedikit penggalan sejarah tentang perjuangan RI, membuat kita sadar bahwasanya berbagai polemik yang terjadi sekarang karena ketidaksiapan dan ketergantungan kemerdekaan.

Perjalanan sejarah yang begitu rumit, tragis serta dramatis.

Kembali pada realita sekarang, dilematika melahirkan banyaknya problematika yang menjadi tantangan besar para politisi elit kotor yang mengatasnamakan rakyat. Semua di negeri ini mendadak mahal, yang murah adalah nyawa manusia!

HAM dan rasa Nasionalisme hanyalah kiasan indah surga telinga.

Lantas siapa yang tersalahkan dalam hal ini?
Para pendahulu yang meninggalkan serumit persoalan?
Atau para generasi yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tetapi, tetap saja ada pelipur lara, setidaknya ada sebagian mereka yang mencoba mengharumkan nama bangsa, dan segelintir keindahan alam yang masih menyembunyikan keperawanan indahnya.
Bersyukurlah, sebab kita masih punya harapan.

Kalaupun bisa jujur, sangat dirindukan untuk merdeka sekali lagi, agar dirasakannya kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan untuk Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Penulis : Hariani Arifuddin