Penyakit Campak dan Rubella Menuju Pintu Keluar Dari Indonesia

drg. Irfan Aryanto

OPINI, Suara Jelata— Setelah beberapa peka terakhir kita disajikan pro dan kontra penggunaan vaksin Measles dan Rubella (MR).

Sejak tanggal 20 Agustus 2018 polemik ini mereda setelah pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR untuk imunisasi.

Dalam keterangan MUI dijelaskan mengapa di bolehkannya (mubah) penggunaan vaksin MR.

Pertama, dalam kondisi terpaksa/emergency (darurat syariyyah).

Kedua, vaksin yang bersentuhan dengan unsur-unsur yang dibolehkan belum ditemukan.

Ketiga, unsur bahaya yang akan ditimbulkan bila tidak di imunisasi dengan vaksin MR.

Dalam tulisan ini, kita akan mempertajam bahaya yang mengintai anak berusia 9 bulan sampai dengan < 15 tahun bila tidak mendapatkan vaksin MR.

Jumlah kategori umur ini sebesar 67 juta anak atau sekitar seperempat dari total jumlah penduduk Indonesia.

Menurut dokter spesialis anak, dr.Arifinto,Sp.A pemberian vaksin MR merupakan ikhtiar terbaik saat ini untuk mencegah penyakit campak yang termasuk satu dari 10 penyebab kematian pada anak.

Dikarenakan belum ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, maka imunisasi dengan vaksin MR merupakan upaya menekan penyebaran yang paling cocok saat ini.

Berdasarkan data Kementerian kesehatan Republik Indonesia, terdapat kasus campak 8.185 pada tahun 2015.

Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 12.943.

Sejak tahun 2010-2015, di perkirakan terdapat 23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella.

Perkiraan ini bisa lebih rendah dibanding angka sebenarnya dilapangan, sebab masih banyaknya kasus yang belum terlaporkan.

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi disebabkan virus yang menular melalui saluran nafas lewat batuk dan bersin serta percikan ludah.

Penyebarannya yang sangat menular berpotensi mengenai siapa saja.

Sehingga dengan satu vaksin bisa mencegah menularnya dua penyakit sekaligus, penyakit campak dan penyakit rubella.

Penyakit campak tergolong berbahaya bila disertai komplikasi infeksi paru (pneumonia),diare dan radang otak karena berpotensi kematian.

Pada tahun 2000 silam, lebih dari 12 juta anak di dunia meninggal karena komplikasi penyakit campak.

Gejala penyakit campak yang bisa ditemukan adalah demam tinggi 2-4 hari, batuk/ pilek disertai mata merah dan berair serta bercak kemerahan pada kulit dan timbulnya ruam pada wajah dan leher berupa gatal-gatal, bengkak, terkelupas dan bersisik.

Fase ruam ini adalah hal penting karena 4 hari setelah timbulnya ruam maka virus dapat ditularkan ke orang lain.

Sedangkan penyakit rubella pada anak menimbulkan demam ringan dan bercak kemerahan.

Mengerikannya, bila penyakit rubella terjadi pada ibu hamil saat trimester pertama (3 bulan pertama) dapat mengakibatkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat bawaan (Congenital rubella syndrome).

Bayi yang dilahirkan dengan penyakit ini bermanifestasi pada jantung bawaan, katarak, kepala kecil,keterbelakangan mental dan ketulian.

Dengan demikian, virus rubella ini tidak berbahaya bagi ibu hamil tetapi sangat berbahaya bagi janin.

Seorang ibu yang pernah imunisasi rubella mempunyai kekebalan sehingga melindungi janin dari penyakit rubella.

Selain penggunaan vaksin MR, kewaspadaan dan perlindungan diri merupakan hal penting dalam mencegah penyakit campak dan rubella.

Menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan metode 6 langkah merupakan langkah tepat mengeliminasi penyebaran penyakit rubella.

Menilik aktivitas pemberian vaksin MR di kabupaten sinjai, ternyata tidak berjalan mudah dan mendapat kendala berarti.

Beberapa sekolah dan orang tua secara terang-terangan menolak dilakukan vaksin kepada anaknya.

Kepada yang sebagian menolak telah dilakukan sosialisasi secara terpadu, akhirnya mereka setuju diberikan vaksin.

Tetapi beberapa di antaranya bertahan pada pendapat menolak di berikannya vaksin MR.

Ini pekerjaan rumah bagi jajaran Dinas Kesehatan dan 16 Puskesmas di Kabupaten Sinjai.

Perlu kampanye yang persuasive/ kekeluargaan dan kontinyu untuk meyakinkan pihak yang menolak.

Strategi Dinas Kesehatan kab sinjai untuk melakukan pemantauan kepada yang menolak bertujuan agar pemetaan dan identifikasi tergambar dengan jelas sehingga dapat di berikan vaksin MR kemudian hari kepada mereka yang menolak.

Selain itu penguatan koordinasi antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan di kab sinjai harus terus dilakukan agar mendukung kegiatan vaksin MR di sekolah sekolah.

Kedepannya Pemberian vaksin MR akan masuk dalam jadwal imunisasi rutin menggantikan imunisasi campak.

Penyelenggaraan imunisasi dengan jelas di atur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2017.

Disebutkan bahwa imunisasi rutin adalah imunisasi yang dilaksanakan terus menerus dan berkesinambungan.

Itulah mengapa penyuluhan bahaya penyakit campak dan rubella harus terus di lakukan agar mereka yang menolak memiliki kesempatan untuk di vaksin di jadwal berikutnya.

Kesimpulan, kita tidak ingin anak anak Indonesia memiliki gangguan mengenal suara, gangguan berkomunikasi dan gangguan pertumbuhan karena kepada anak anak inilah kelanjutan Indonesia ditentukan.

Besar harapan penyakit campak dan rubella ini tidak menjadi pembunuh bagi masa depan anak-anak terkhusus dikabupaten sinjai.

Apresiasi penulis diberikan kepada seluruh petugas kesehatan yang bekerja keras turun dilapangan dan pihak sekolah yang telah mendukung pemberian vaksin MR .

Tujuan diadakan vaksin MR secara massal adalah memutus mata rantai penularan penyakit campak dan Rubella sehingga kita berharap penyakit campak dan rubella benar benar bebas di Indonesia.

Oleh: drg. Irfan Aryanto, Dokter gigi UPTD Puskesmas Lappae dan Pengurus Persatuan Dokter Gigi Cabang Sinjai