AGRA Bulukumba Tuntut PT. LONSUM Hentikan Pengolahan dan Peremajaan Lahan

AGRA Bulukumba dan masyarakat

BULUKUMBA, Suara Jelata— Karena terus menggusur pekuburan dan mata air, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) bersama masyarakat adat Kajang melakukan protes tindakan semena-mena yang dilakukan oleh PT. Londong Sumatra (LONSUM). Sabtu, (06/10/2018) kemarin.

PT. LONSUM mengabaikan hak masyarakat sekitar perkebunan dan mengabaikan himbauan pemerintah daerah Bulukumba yang melarang melakukan aktifitas peremajaan karet di lokasi yang menjadi sumber mata air warga sehari-hari.

Sejak 31 Agustus 2018, masyarakat di Desa Bonto Mangiring, Kecamatan Bulukumpa dan masyarakat Desa Tamatto serta masyarakat Adat Kajang melakukan protes dengan melakukan penghadangan alat berat buldoser milik PT. LONSUM.

Dimana PT. LONSUM melakukan pengolahan di atas tanah yang terdapat pekuburan dan mata air yang menjadi sumber penghidupan warga di Bukit Madu Desa Bonto Mangiring dan Bukit Jaya Desa Tamatto.

Dari hasil survei yang dilakukakan AGRA Cabang Bulukumba, terdapat 33 titik air di Bukit Madu Desa Bonto Mangiring dan beberapa sungai kecil dan 28 titik air di Bukit Jaya Desa Tamatto yang rusak dan hilang akibat aktivitas peremajaan perkebunan yang dilakukan oleh PT. LONSUM.

Pada perjalanannya PT. LONSUM tetap melakukan pengolahan dan peremajaan sehingga selang air yang digunakan masyarakat mengambil air dan sungai-sungai kecil banyak yang hilang tertimbun dan rusak.

Sehingga pada tanggal 10 september 2018 masyarakat melakukan aksi dengan tuntutan utama PT. LONSUM harus menghentikan aktifitas pengolahaan di lahan yang terdapat perkuburan dan sumber air warga dan meminta mendatangkan pihak PT. LONSUM untuk berdialog dengan masyarakat.

Tanggal 12 september 2018, masyarakat berdialog dengan pihak PT. LONSUM yang di fasililitasi langsung oleh pemerintah daerah.

Kesepakatan untuk tidak mengolah lahan yang didalamnya terdapat sumber air dan pekuburan milik warga sekitar telah terbangun dengan pihak PT. LONSUM.

Akan tetapi faktanya, disaat dialog berlangsung, pihak PT. LONSUM sedang melakukan aktifitas pengolahan lahan dan baru diketahui warga setelah ada laporan dan mendapati Buldoser PT. LONSUM sedang beroperasi di lahan yang menjadi kesepakatan bersama.

Sehingga pada tanggal 17 September 2018 pemkab melalui Bupati Bulukumba mengeluarkan surat himbauan kepada PT. Lonsum untuk tidak melakukan aktifitas pengolahan dilahan yang menjadi sumber air dan pekuburan warga.

Sebelum tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Bulukumba dan tim kecil turun melakukan survey lokasi serapan air dan perkuburan masyarakat di area HGU.

Pada 2 Oktober 2018 yang lalu, pemerintah Kabupaten Bulukumba kembali menyelenggarakan rapat sosialisasi hasil verifikasi awal DLHK Kabupaten Bulukumba.

Dimana Kadis LHK Bulukumba menyampaikan bahwa kesimpulan awal dari studi yang telah dilakukan, telah terjadi kerusakan ekologis di dua wilayah masyarakat adat Kajang yaitu di Bukit Madu dan Bukit Jaya.

Olehnya itu, pemerintah Kabupaten Bulukumba kembali mengeluarkan surat perintah kepada pihak terkait yaitu Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra, Asisten Administrasi dan Pemerintahan, Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepala Bidang Pertanahan, Kabag Ekonomi dan Pengembangan Sumber Daya Mineral, Kepala Bagian Pemerintahan Umum.

Camat Bulukumpa, Camat Ujung Loe, Kepala Desa Bontomangiring, dan Kepala Desa Tamatto, untuk melakukan investigasi pada tanggal 8 sampai 10 Oktober 2018 .

Tim tersebut bertugas untuk Melakukan investigasi hasil tindak lanjut verifikasi awal dan batas areal Bukit Madu dan Bukit Jaya yang harus dilakukan untuk menjaga areal mata air pada konsesi HGU PT. LONSUM.

“Kemudian hasilnya dilaporkan kepada Bupati Bulukumba, atas dasar itu AGRA Bulukumba menuntut PT. LONSUM harus segera menghentikan seluruh aktifitas pengolahan dan peremajaan sampai tim kecil yang dibentuk oleh Kemendagri,” Ungkap Rudi Tahas, Ketua AGRA Cabang Bulukumba.

Yang selanjutnya akan turun meninjau lokasi yang kemudian akan melakukan pengukuran kembali konsesi HGU PT. LONSUM dan lahan milik masyarakat Adat Kajang, Adat Bulukumba Toa dan lahan milik warga disekitar perkebunan.

Takdir/Aisyah