Memudarnya Moral Force Dikalangan Mahasiswa

Akbar G

OPINI, Suara Jelata— Dunia pendidikan kembali tercoreng. Beberapa hari lalu, kita disuguhkan sebuah pertunjukan yang betul-betul menyedihkan dan amat menyayat hati.

Mahasiswa yang merupakan cikal bakal sebuah tatanan majunya suatu bangsa kembali mempertontonkan adegan-adegan yang tidak terpuji (baca bentrok) seperti yang biasa terjadi didalam film favorit anak muda “Crow Zero”.

Kali ini bentrok mahasiswa UIN Alauddin Makassar Kampus Samata yang mempertemukan antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dengan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), pemicunya hanyalah karena saling ejek.

Mahasiswa kedua fakultas tersebut berlomba-lomba menurunkan hujan batu, efek tidak pernah hujan kali ya sehingga para mahasiswa menginisiasi agar hujan airnya diganti saja dengan hujan batu.

Implikasi daripada kejadian ini adalah pihak kampus memulangkan semua mahasiswa dan meliburkan mahasiswa serta akan membuka kembali kampus pada tanggal 29 Oktober 2018.

Sungguh ironis bukan, proses pendidikan sebagai kunci, filter, dan akselerator perubahan yang konstruksional harus diberhentikan secara paksa.

Seharusnya, mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai Moral Force/kekuatan moral memperlihatkan kepada masyarakat akan tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, dan cara bersikap yang baik.

Sebab, moral inilah sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Bila diibaratkan seorang mahasiswa dapat merubah “besi berkarat menjadi emas”.

Namun, apa yang diperbuat oleh mahasiswa yang katanya sedang latihan melempar jumroh (bentrok) semakin memperlihatkan bahwa mereka merubah “emas menjadi arang” dan terjadi dekadensi moral yang amat dalam.

Tak hanya itu, lakon para mahasiswa tersebut membuat mereka semakin dungu. Mengapa saya berkata seperti demikian? Alasannya amat sederhana sekali, karena semakin tinggi emosional, makin turun rasional=dungu.

Lebih lanjut, otot yang tidak diimbangi otak=tong kosong dan lagi dungu. Sungguh memilukan.

Kita tidak ingin mata para pendiri bangsa ini akan sembab berkaca air mata, dalam alunan biola W.R Soepratman menatap Garuda yang dulunya perkasa, merah putih yang berkibar gemulai kini dihancurkan sendiri oleh para penerusnya.

Jangan biarkan Ki Hadjar Dewantara yang diberi gelar terhormat sebagai Bapak Pendidikan Nasional menangis di alam kuburnya melihat para pemuda (i) dan pewaris leluhur-leluhur “Si Genra-Genra” (Bentrok).

Kita tidak pula menginginkan bukan, sejarah masa lampau menghiasi perjalanan esok. Ibu Pertiwi janganlah dinodai oleh tetesan darah anaknya sendiri hanya karena konflik yang tak kunjung usai.

Sehingga dengan terpaksa, Tuhan menurunkan kembali Tumanurung Episode II di Butta Gowa, ataukah Satria Paningit di Nusantara ini, sebagaimana yang pernah dikemukakan dan disampaikan oleh Permadi, seorang paranormal dan politisi nasional.

Marilah kita hijrah, dan hijrah mahasiswa dari “Si Genra-Genra” (Bentrok) menjadi “Si Ama-Ama” (Bersatu).

Penulis : Akbar G, Mahasiswa STISIP Muhammadiyah Sinjai