‘Video Tron’, Seharusnya Kita Malu

Opini, Suara Jelata— Malu aku pada diriku sendiri, malu aku pada kalian yang tak mampu memberikan yang terbaik!!!

Malu aku pada meraka yang tak pernah memikirkan kalian lagi. Malu aku pada mereka karena aku tak mampu membuat mereka menjadi lebih memikirkan kalian.

Aku tahu kalau kalian tak butuh ini dan itu, karena kalian telah tahu bahwa yang kalian mintakan telah tertuang dalam RPJPD RPMD.

Kalian tahu bahwa mencapai keparipurnaannya itu mustahil adanya tapi ekspektasi itu ada, stidaknya mendekati kata paripurna tanpa menafikkannya.

Kalian sodorkan Video Tron yang megah nan mahal walau hanya dipasang pada satu arah ruas mata jalan saja yang juga terdapat rambu larangan melintas bagi angkutan umum. Lalu maksud publikasinya untuk siapa?

Kehumasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) yang kini melaksanakan peran publikasi dan dokumentasi tak pernah menuntut beban penganggaran yang sebesar biaya sewa Video Tron, tetapi mereka mampu menembus meja kerja bahkan rumahan rakyat hingga ke skala Nasional. karena mereka tahu apa yang mereka harus lakukan. Lalu kalian “merapas” kewenangan itu, kini kita harus bertanya pada diri sendiri.

Apa Out Put dari keberadaan Video Tron ini?Balitbangda harus menjawab ini? Bappeda Harus menjawab ini?BPKAD harus menjawab ini?

Apalagi jika sekiranya benar bahwa dinas pengusul hanya mampu menyumbang pendapatan 850 juta pertahunnya lalu meminta 900 juta pada satu item kegiatan saja.

Mari Kembali Fokus Tuk Rasa Malu Pada Diri Sendiri.

Keterwakilanku telah terlembagakan dengan segala kewenangan legislasi dan “budgetingnya” melekat pada mereka. Maka tunjukkanlah pada kami bahwa kalian benar-benar wakil kami.

Aku Malu tuk menuntut ini dan itu.

Karena aku tahu, apa yang kuharap semua telah menjadi visi dan misi daerah. Dan mereka semua paham akan hal itu!!!

Ungkapan ini mungkin tak mampu menghalangi kalian menafikkan RPJMD (tetap jadi).

Tapi setidaknya ada rasa malu pada diri kalian, bahwa tak semua orang mampu tuk di ninabobokkan dengan ungkapan retorika kaum bijak.

Berbahagialah kalian sebab kami harus turun ke kandang memberi pakan dan pengobatan pada ternak kami, karena mereka lebih memahami arti hidup kami, walau harus tertatih-tatih karena hasil pertanian, peternakan dan perikanan kami anjlok, beban biaya pendistribusian kian membengkak, karena jalan kami penuh kubangan!

Bangga kami dengan  segala upaya kalian menjemput piagam dan tropy atas “prestasi?” di luar kota.

Oleh: Ahmad Marzuki, SH.,MH

Diperbaiki Oleh Burhan