Dekonstruksi Menuju Kota Mati

Muhardi

OPINI, Suara Jelata— Kota selalu menjadi idaman bagi setiap orang, khususnya bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Kota memberikan daya tarik tersendiri untuk selalu dikunjungi, hingga akhirnya kota pun dijadikan sebagai wahana rekreasi, tempat persinggahan, menetap, segaligus tempat mengadu nasib, dan mengais kehidupan yang lebih layak.

Namun, bahasa yang menggelitik selalu dijumpai oleh meraka yang baru menetap di kota. Anggapan bahwa kota merupakan tempat yang damai dan harapan setiap orang, adalah hal yang bertolakbelakang, sebab kota dianggap kejam bahkan lebih kejam dari ibu tiri.

Kota memiliki metafora tersendiri seperti denyut nadi kota, sebagai sesuatu yang hidup, berkembang, menua, bahkan mengalami kematian layaknya manusia.

Potret kota merupakan potret dari masyarakat, artinya perubahan di kota menandai perubahan masyarakat di dalamnya.

Kota cenderung mengalami pertumbuhan yang kompleks dan tak terkendali, yang akan menimbulkan problem seperti halnya kemacetan, pengangguran, gelandangan, dan kriminalitas.

Sehingga kota tidak lagi menyangga kehidupan manusia dan mahluk didalamnya.

Kota bukanlah suatu ruang yang kosong tanpa makna dan simbol. Sebab ada banyak dialektika, teatrikal dan desain yang telah terbangun dengan rapi didalam.

Kota adalah sebuah ajang aktualisasi politik yang beroperasi dan membentuk kekuasaan, saling mendominasi dan memperebutkan kekuasaan antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

Dalam pesta politik, kota sering dijadikan sebagai basis perjuangan, yang mana ketika kota tersebut telah di kuasai maka kemenangan telah menghampirinya.

Dalam kancah pertarungan, banyak elit petarung yang berusaha merekonstruksi kota untuk mendapatkan poin yang lebih banyak, bahkan ada pula yang berusaha untuk mendekonstruksi baik dari sisi kebudayaan, agama, bhasa, dan berbagai simbol-simbol yang mendukung pencapaiannya dalam berpolitik.

Dari dekonstruksi (Pembongkaran) simbol-simbol dalam masyarakat tersebut maka banyak dimensi-dimensi yang telah meninggalkan eksistensinya, hubungan antar manusia tidak lagi secara tatap muka, relasi dan komunikasi antar manusia tidak lagi berlangsung secara alamiah.

Paul Virilio di dalam Lost Dimension, melukiskan kota telah kehilangan dimensi arsitektural. Inilah kota yang telah kehilangan interaksi, aura, ingatan.

Kota dalam wujud fisik selalu meninggalkan semacam memori, tentang sebuah tempat, ruang, atau jalan. Bertemu dibawah lampu atau berpapasan di sudut jalan kota adalah diantara memori-memori yang ditinggalkan oleh sebuah kota pada diri setiap orang.

Kota sekarang telah kehilangan dimensi fisik dan diambil alih oleh dimensi virtual, dengan
hilangnya dimensi fisik, maka kota sekarang telah kehilangan aura, yaitu pancaran spirit yang dipantulkan oleh sebuah kota tatkala seseorang berjalan di jalan yang berdebu, atau ketajaman sudut gangnya yang sempit.

Virilio melihat semacam kematian arsitektur.
Banyaknya simbol-simbol di perkotaan yang ada telah mengubah banyak dimensi sosial
masyarakat, merupakan makanan empuk bagi para politisi yang dijadikan sebagai panggung tempat melenyapkan semua realitas social, ilusi dan imajinasi.

Simbol-simbol yang dimainkan oleh para elit telah menggiring masyarakat meninggalkan dimensi kemanusiaan dalam kesadisan, kekerasan, terror, serta lenyapnya makna dalam komunikasi.

Manusia di perkotaan kini telah menjadi manusia induvidualis dan menciptakan model kehidupan kesepian di tengah keramaian, sunyi, sepi, sendirian, terasing, bersendiri, menyendiri di tengah kepadatan dan kesumpekan kota.

Dalam keadaan apapun, kota akan selalu penting bagi para politisi dan para elit, kota sering kali di jadikan sebagai tempat memangsa kepentingan-kepentingan, sehingga pembongkaran dalam aspek agama, kebudayaan, ekonomi dan lain sebagainya adalah hal yang lumrah untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Dan tentunya hal tersebut dapat membentuk dan merubah perilaku masyarakat perkotaan, hingga akhirnya meninggalkan dimensi-dimensi kemanusiaan.

Penulis : Muhardi, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar