Membangun Desa Berbasis Aset

 

Akbar G

OPINI, Suara Jelata— Pedesaan merupakan bagian integral dari Negara Indonesia. Membangun desa berarti sama halnya akan membangun sebagian penduduk Indonesia.

Hal tersebut mudah dimengerti karena sebagian besar penduduk Indonesia tersebar di seluruh desa-desa di Indonesia.

Desa merupakan sektor pemerintahan yang paling bawah dalam sistem pemerintahan Negara Indonesia. Pada dasarnya pemerintah desa memiliki peran yang sangat sentral bagi kehidupan masyarakat, karena desa merupakan pelaksana tugas pemerintah dan yang berada di level paling rendah.

Dalam buku Pengelolaan Aset Desa yang ditulis oleh Sutaryono dan kawan-kawan, menyebutkan bahwa desa yang kuat adalah desa yang memiliki pemerintahan yang kuat sekaligus masyarakat yang kuat sehingga memiliki makna bahwa desa adalah subjek yang mampu memandirikan diri dengan mengembangkan aset-aset lokal sebagai sumber penghidupan bersama.

Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 pasal 76 ayat (1) menyebutkan bahwa: “Aset desa dapat berupa tanah kas Desa, tanah ulayat, pasar Desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik desa, mata air milik desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik desa”.

Berdasarkan pasal tersebut, begitu banyak aset yang dapat dikuasi dan dikelola oleh pemerintah desa.

Dengan adanya aset yang begitu berharga, maka sudah sepatutnya pemerintah desa untuk mengoptimalkannya agar menjadi sebuah energi perubahan di desa.

Dalam nalar berpikir, penghidupan berkelanjutan yang dikembangkan oleh Scoones, Depertement For International Development, dan Frank Ellis menyebutkan bahwa yang terpenting dalam soal aset selain aset itu sendiri dan hasilnya, strategi pengelolaan pun tak dapat untuk dianaktirikan.

Pengelolaan aset desa adalah sebagai bentuk adanya otonomi desa dan merupakan salah satu cara bagi desa untuk dapat melakukan suatu pembangunan.

Aset desa begitu menarik untuk dibahas, sebab belum menjadi perhatian utama pemerintah desa. Karena topik aset desa tenggelam oleh isu dana desa yang bermilyar-milyaran.

Desa Tabbinjai yang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan memiliki aset yang berharga seperti pasar desa, tanah kas desa, dan tanah ulayat.

Namun, dalam hal pengelolaannya, pemerintah desa setempat tidak mampu mengelola dengan baik. Alasannya sederhana, bahkan sangat sederhana sekali yakni kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak mumpuni.

Akibatnya, Kepala Desa mengalihkan status kepemilikan tanah kas desa dan kawan-kawan menjadi milik pemerintah daerah.

Pemerintah desa berdalih, bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mengamankan aset dari orang-orang yang ingin melakukan pengklaiman sepihak.

Di satu sisi, apa yang dilakukan oleh pemerintah desa tidak sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Namun disisi lain, ada pula yang membenarkan tindakan pemerintah desa, dengan alasan agar lebih “aman” katanya.

Tapi, dari sudut pandang penulis sendiri beranggapan bahwa Kepala Desa beserta koleganya haruslah berani mengelola sendiri aset yang ada untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa dan tidak ter(gantung) melulu pada suntikan dana desa yang diberikan oleh pemerintah pusat.

Alangkah indah bukan, jika aset dan potensi yang ada bisa dikelola, dikembangkan sehingga mampu mewujudkan desa mandiri berbasis aset desa.

Untuk mengatasi hal terkait ketidakmampuan pemerintah desa dalam melakukan pengelolaan aset desa yang ada, penulis memberikan saran yakni perlunya perbaikan dan peningkatan melalui penataan pelembagaan, penertiban administrasi, dan penyusunan pedoman pengelolaan aset desa yang dilakukan secara simultan.

Hal ini perlu dilakukan, agar pengelolaan aset desa sebagai bagian dari penguatan kapasitas desa dan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan secara prosedural, tersistematis, dan terintegrasi.

Dengan tetap terjaminnya keamanan dan keberlanjutan aset-aset desa sebagai sumber utama pendapatan desa, dan kesejahteraan masyarakat dan nilai-nilai kearifan desa.

Penulis : Akbar G, Pemuda Desa Tabbinjai, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan