Lawa Suji, Warisan Leluhur Yang Masih Terjaga di Sinjai

Mamma bersama rekannya saat membuat Lawa Suji

SINJAI, Suara Jelata— Prosesi upacara pernikahan suku Bugis Makassar, Sulawesi Selatan tidak lengkap rasanya tanpa kehadiran lawa suji.

Lawa suji merupakan sebuah warisan leluhur masyarakat suku Bugis Makassar, dimana Lawa Suji adalah sebuah anyaman yang terbuat dari bambu berbentuk persegi empat “sulapa’ eppa”.

Dimana itu melambangkan ke-4 unsur bumi, yakni air, tanah, udara, dan api. Juga melambangkan dari ke-4 penjuru angin yang masing-masing mempunyai nilai.

Nilai tersebut adalah nilai acca (intelektualitas), warani (nilai keberanian), lempu’ (jujur) dan sugi (kaya).

Baca Juga:  TPS di Sinjai Timur Berduka, Warga Mencoblos Sambil Melayat

Lawa Suji sendiri berasal dari bahasa Bugis, Lawa berarti penghalang/pembatas/pagar, dan Suji berarti putri. Jadi Lawa Suji dapat diartikan sebagai penghalang/pembatas putri.

Lawa Suji sendiri biasanya dibuat menjadi baruga, lamming, dan wala suji (erang-erang), yang diikutkan dalam prosesi upacara pernikahan yang di isi dengan 7 macam buah-buahan, yang masing-masing mempunyai makna tersendiri.

Di Desa Lamatti Riaja, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan sendiri, Mamma adalah salah satu tukang pembuat Lawa Suji.

Baca Juga:  Pemilih Lansia di Sinjai Kesulitan Melipat Kembali Kertas Suara Coblosan

Mamma mengungkapkan bahwa hal seperti inilah yang perlu pemuda ketahui, apa makna dari bentuknya dan mengapa bambu yang digunakan.

“Ini yang perlu kalian ketahui, warisan leluhur yang penuh dengan pembelajaran dan setiap unsur disitu punya petuah dalam kehidupan,” Ungkapnya. Rabu, (05/12/2018).

Dari Lawa Suji pula yang menjadi asal usul aksara Lontara yang di pakai pada zaman dahulu untuk menulis aturan dan tata pemerintahan dalam masyarakat suku Bugis Makassar.

Aswar/Aisyah SJ