Bontokatute, Satu Desa di Sinjai Yang ‘Terlantar’

Ilustrasi

SINJAI, Suara Jelata— Ditengah pesatnya pembangunan pemerintah pusat hingga Pemerintah Daerah, ternyata masih ada beberapa daerah di Indonesia yang belum merasakan pembangunan pemerintah. Kamis, (06/12/2018).

Seperti halnya yang dirasakan oleh warga Desa Bontokatute, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, yang belum tersentuh jaringan Pembangkit Listrik Negara (PLN).

Gelap gulita masih mewarnai kehidupan masyarakat di sana, hingga sampai saat ini mereka masih menggunakan alat penerang tradisional.

Lalu kapan impian mereka terealisasi ? Pertanyaan ini masih terus menghantui, mendenyutkan kepala warga, belum ada tanda-tanda mereka bakal menikmati alat penerang dari PLN.

Informasi yang dihimpun, beberapa pernyataan yang dilansir dari media nuansanewsonline, salah seorang warga mengatakan jika mulai dari zaman penjajahan sampai saat ini, Desa Bontokatute belum ada jaringan PLN.

Jelas nampak harapan besar tergambar di raut wajah warga agar bisa secepatnya menikmati listrik seperti warga pada umumnya.

Kalau tidak, maka dipastikan mereka (warga Bontokatute) akan tertinggal di tengah kemajuan tekhnologi dewasa ini.

“Selain jaringan listrik PLN, kami sangat susah memanfaatkan kemajuan teknologi dan ketinggalan informasi karena jaringan sangat susah,” Kata sejumlalah warga dengan nada sedih.

Miris nasib warga Bontokatute, atas minimnya fasilitas juga sarana jalan cukup memprihatinkan, utamanya akses menuju pusat ibu kota kecamatan rusak parah, padahal jalanan tersebut sudah beralih menjadi Jalan Provinsi.

“Jalanan ke luar (Poros) kami ke ibu kota Kecamatan Sinjai Borong statusnya adalah jalan provinsi, namun sama sekali tidak pernah tersentuh bantuan. Saya berharap Bapak Gubernur Sul-Sel Prof. Nurdin Abdullah punya kepedulian terhadap jalanan kami, karena ini kewenangan Provinsi,” Harap salah seorang warga yang tinggal di sekitar Sekolah Dasar sebelum arah pendakian menuju Barambang.

Kepala Desa Bontokatute, Muh. Masri, yang dikonfirmasi media ini, membenarkan keluh kesah warga atas belum adanya jaringan listrik, malahan diakuinya hal itu adalah kebutuhan mendasar buat butuh realisasi secepatnya.

“Ada genset tapi itu hanya beberapa rumah yang bisa nikmati,” Bebernya.

Khusus akses keluar warga ke ibu kota kecamatan sudah ditelantarkan pemerintah setelah beralih dari Jalan Kabupaten menjadi Jalan Provinsi beberapa tahun lalu.

Ruas jalan sudah hancur berantakan, tidak pernah tersentuh pemeliharaan apalagi peningkatan, bahkan sebagian sudah amblas dan diperkirakan ke depan tidak bisa lagi dilalui kendaraan.

“Jangankan roda empat, kendaraan roda dua saja sudah setengah mati kalau musim hujan,” Kuncinya.

Takdir/Aisyah SJ