Sosok Egianus Kogoya, Otak Pembantaian Pekerja di Nduga Papua

Papua, Suara Jelata— Kasus penembakan oleh kelompok bersenjata di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua setidaknya mengakibatkan 19 pekerja PT Istaka Karya meninggal.

Jumlah korban bisa jadi bertambah karena belum bisa dipastikan, para pekerja tersebut sedang merampungkan pembangunan Jembatan Kali Aroak dan Jembatan Kali Yigi.

Pihak Aparat menuding bahwa otak dari penyerangan ini dipimpin oleh Egianus Kogoya, yakni pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tersebut.

Sidney Jones, seorang pengamat terorisme, menyebutkan, kelompok Egianus Kogoya merupakan sindikat dari Kelly Kwalik, komandan dari sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tewas dalam penyergapan polisi pada 2009 silam.

Sidney mengatakan bahwa Egianus dan anak buahnya dikenal lebih militan dan mayoritas masih muda. Mereka pernah membuat keributan pada Juli lalu saat mencegah pelaksanaan pemilu.

Biasanya OPM ini terdiri dari faksi-faksi. Di Nduga, satu faksi yang berkuasa dan sempalan dari Kelly Kwalik yang dulu bergerak di Timika. Tapi orang-orang ini muda dan lebih militan, ujar Sidney Jones.

Sementara itu, Kapendam XVII Cendrawasih Muhammad Aidi menyebut, jumlah anggota kelompok Egianus sebanyak 50 orang.

Menurut Aidi, mereka memiliki senjata lengkap berstandar militer. Pembangunan jalan Trans Papua menjadi pengusik mereka lantaran selama ini Pegunungan Tengah dikenal sebagai markas OPM.

“Dengan adanya jalan Trans Papua, mulailah daerah ini terbuka dari isolasi. Terbukanya jalan, mereka (kelompok OPM) merasa terusik. Sebab otomatis TNI dan Polisi bergerak mendekati arah mereka,” ujar Muhammad Aidi.

Menurut catatan kepolisian, sebelum penembakan di Distrik Yigi, selama dua tahun ini kelompok Egianus Kogoya pernah beberapa kali membuat kasus.

Desember 2017 silam, kelompok ini menyerang pekerja Trans Papua di Kecamatan Mugi. Pekerja proyek bernama Yovicko Sondakh meninggal dan seorang aparat terluka dalam kejadian itu.

Pada Juni 2018, pesawat Twin Otter Trigana Air yang disewa oleh Brimob Polri ditembaki saat para petugas akan mengamankan pilkada. Dua orang terluka akibat insiden tersebut.

Pada Oktober 2018 Egianus Kogoya dan kelompoknya menyekap belasan guru yang bekerja di SD YPGRI 1 dan SMPN 1 serta tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Mapenduma, Nduga.

Aidi mengatakan bahwa pihak kepolisian sejak awal telah mengimbau untuk menyerahkan diri beserta senjatanya. Pihaknya akan menjamin keamanan mereka dan diampuni dari proses hukum.

Dirinya juga mengatakan akan mematuhi hukum dan memperhatikan prinsip hak asasi manusia. Para anggotanya pun sudah diperintahkan untuk tak menyasar warga sipil.

Mengenai motif penyerangan, pihak aparat juga belum bisa memastikan.

Informasi yang menyebutkan bahwa seorang pekerja memoto kegiatan HUT Kemerdekaan Papua juga belum bisa dipastikan kebenarannya.(hetanews)

Editor: D-ZHAR