Nursalam: Wakil Rakyat, Dikritik Wajar Tak Boleh Baper dan Dendam

Nursalam, Calon Legislatif DPRD kabupaten Gowa, Dapil 3 Tombolopao, Tinggimoncong, Parigi.

GOWA, Suara Jelata— Kontestasi pemilu 2019 sebentar lagi akan masuk pada tahap pemilihan. Kontestasi demokrasi lima tahunan ini selain akan menentukan siapa presiden RI periode selanjutnya, juga akan menentukan dewan perwakilan rakyat disemua tingkatan.

Di tengah derasnya arus dinamika dan strategi pemenangan setiap kontestan pemilu 2019, Nursalam yang juga Caleg DPRD Kabupaten Gowa dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) justru lebih tertarik untuk membincang kembali hakikat dan substansi mewakili rakyat di kursi parlemen.

Menurut Nursalam “Ma’Caleg itu bukan urusan profesi karena pada dasarnya mewakili rakyat adalah suatu jalan pengabdian. Biar berguna bagi orang sekitar, bangsa dan agama”, katanya. Rabu, (27/2/19).

Lebih lanjut, Calon legislator dapil 3 (Parigi-Tinggimoncong-Tombolo pao) ini menekankan bahwa, selain niat yang tulus, kompetensi dan kapabilitas harus ada.

“Jangan sampai hanya datang duduk diam, itu namanya tidak bertanggungjawab terhadap amanah rakyat. Kalau sudah begitu rakyat pasti kritik bahkan bisa marah, itu juga wajar karena memang majikan seorang legislator adalah rakyat, bukan kekuasaan apalagi yg lain-lain”, Ungkapnya.

“Jadi wakil rakyat tidak boleh baper apalagi dendam sama rakyat. masa bawahan dendam sama atasan, rakyat itu tuannya legislator”, Lanjutnya.

Nursalam berharap momentum pemilu 2019 ini bukan sekedar pertarungan memobilisasi rakyat, tapi sudah semestinya menjadi corong konsolidasi kepentingan rakyat yang harus dikawal.

“Momentum ini tidak boleh sekedar memanfaatkan simpati masyarakat untuk datang ke TPS memilih dan setelah itu selesai. Momentum ini sudah harus membincang kepentingan rakyat yang mesti dikawal, kompetensi seperti apa yang mesti disiapkan para caleg, dan lebih jauh komitmen untuk berjuang dan bicara atas nama rakyat di parlemen nanti”, kuncinya.

WAWAN/REDAKSI