Jilat Ludah

Penulis
  • Whatsapp
Penulis

OPINI, Suara Jelata— Maaf kawan, saya bercerita tentangmu dalam tulisan ini tapi tenang saja saya tidak akan menuliskan tentang paslon yang akan kamu pilih 17 April, yang kerap kamu ceritakan padaku dan membuatku tertidur.

Itu mungkin membuatku terharu sehingga tertidur atau mungkin karena kopi yang kamu berikan padaku adalah pemberian paslonmu yang telah diramu dengan sedemikian rupa agar rakyat yang meminumnya kelak terbuai manja, menutup mata hingga tertidur atau mungkin saja penyebab saya terharu waktu itu adalah yang pertama dari sisi paslon andalanmu yang kamu banggakan itu (saya tidak perlu menyebut siapa paslon pilihannya temanku di sini karena takutnya nanti saya dijatuhkan fatwa).

Baca Juga

Jujur saja saya merasa kasihan dan sangat terharu melihat beberapa perjalanan yang dilakukan oleh para calon pembela rakyat, mondar-mandir dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melakukan segala macam pendekatan demi satu tusukan di hari H nantinya.

Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi di balik-bilik dan bagaimana ekspresi para tim penusuk, apakah mereka melakukannya dengan memikirkan trackrecord pilihannya atau menusuk karena pada saat si paslon berkunjung ke daerahnya menawarkan kesejahteraan jika kelak dia terpilih, ditambah pembagian parsel yang berisi sarung dengan merek Tikus Duduk.

Kedua, yang mungkin membuat saya terharu adalah kamu dengan kecerdasanmu yang membuatmu bodoh, kamu adalah teman yang saya banggakan, kamu adalah seorang aktivis yang tidak diragukan lagi bacaan bukumu dan jurusanmu adalah tentang humaniora dan sosial, saya tidak meragukan lagi analisa sosialmu, teori-teori sosialmu, riset-risetmu ditambah lagi teriakan-teriakanmu tentang kapitalisme yang jahat dan selalu menyerukan perlawanan.

Apakah kamu masih ingat, kawan? kita pernah berada di bawah terik matahari di depan Gedung Perwakilan Rakyat menentang beberapa kasus perampasan ruang hidup, menolak reklamasi, menolak penggusuran serta menolak bentuk Pendidikan yang tidak sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional yang termaktub dalam UUD 1945.

Dan juga kita pernah berdiskusi dan mengutuk apa yang terjadi di balik berdirinya Republik Demokratik Timur Leste, pernah juga kita berada di bawah paying hitam di hari kamis mengenang kematian Marsinah yang sampai hari ini tidak tuntas dan pelakunya mungkin saja masih berkeliaran di nusantara atau bahkan mereka ikut serta dalam barisan kampanye.

Begitupula kasus kematian Munir, hilangnya beberapa aktivis salah satunya Widji Tukul dan juga yang masih baru-baru ini terjadi yakni kasus penyiraman air keras pada Novel Baswedan yang juga tidak kunjung terselesaikan mana lagi desas desus di balik kematian Tan Malaka yang masih kontroversi.

Tunggu! Saya hampir lupa, kita juga pernah menyaksikan salah satu film dokumenter yang menyajikan sesuatu yang menyayat hati kita malam itu, film itu bercerita tentang para pembunuh-pembunuh halus yang bersembunyi di balik kekuatan industry, seperti PLTU yang tersebar di beberapa wilayah dan apakah kamu masih ingat siapa yang berada di balik itu semua?

Saya pikir kamu masih ingat kawan, kan dalam film itu tokoh dan alur yang menguasai beberapa tambang dan perusahaan terpampang jelas di layar monitor dengan sangat terperinci.

Mungkin saya terlalu jauh membahas tentang kasus-kasus yang tidak terselesaikan sampai hari ini atau bahkan beberapa di antaranya telah terlupakan.

Sebenarnya, masih banyak kasus lainnya seperti kasus agraria dan pelecehan seksual tapi di paragraph pertama tulisan ini saya hanya ini menceritakan tentang teman saya yang hari ini tengah dimabuk pesta demokrasi.

Kawanku, kamu sudah terlalu lama berada di luar sana sampai-sampai kamu mungkin sudah lupa dengan ruang dan waktu yang pernah membesarkanmu seperti saat ini.

Saya kasihan melihatmu seperti itu, meneruskan janji-janji yang sedari awal kamu sudah tahu bahwa itu hanyalah paradoks untuk mengelabui hati nurani kebanyakan masyarakat (kira-kira seperti itu perkataanmu padaku beberapa tahun yang lalu) dan sudah seharusnya kamu berdiri tegak meluruskan segala bentuk kekeliruan hari ini bukan malah berdiri di hadapan khalayak melanjutkan pesan atau janji untuk menarik mereka masuk dalam pilihanmu.

Hari ini kita tengah merasakan kegetiran dan kepiluan di arena kita, tidakkah kamu ingin kembali duduk bersama, berpikir untuk agenda perbaikan esok hari? Arena kita tengah digerogoti gulma-gulma yang menghambat pertumbuhannya.

Kita sekarang tidak seperti berada dalam arena ilmiah yang berorientasi pada sosial, humaniora dan budaya, kita berada dalam arena ilmiah (katanya) yang hanya sekedar berorientasi pada kepentingan industry dengan kata lain orientasi yang membutakan kita terhadap kondisi masyarakat.

Apakah kamu pernah mendengar atau bahkan membaca berita yang beredar di media online sekitar 29 hari yang lalu tepatnya 12 Maret lalu? Apakah kamu tahu isi berita itu kawan? Itu sangat memukul, Bapak yang kuasai setengah Kemenristekdikti mengatakan bahwa Pendidikan dalam hal ini kampus sebagai ruangnya akan diarahkan ke kebutuhan industry bukan humaniora dan sosial.

Kira-kira saat kamu membaca berita itu apa yang kamu rasakan? Pendidikan sebagai alat membebaskan para peserta didik dalam proses pencarian jati diri sebagai seorang manusia dan kampus sebagai tempat berproses dalam membina karakter untuk membebaskan atau memanusiakan manusia dan jika orientasinya dialihkan ke arah industry maka yang akan hadir adalah Pendidikan dijadikan sebagai alat komiditi yang semata-semata profit-oriented dan kampus sebagai tempat pelatihan para calon tenaga kerja.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah seperti itu hakikat dan urgensi Pendidikan yang jelas terterang dalam lembaran konstitusi kita yakni UUD 1945.

Kawanku, itu hanyalah sebuah refleksi bukan sebuah bentuk jastifikasi. Bagi saya, siapapun yang pernah berdiri dengan teriakan lantang menolak segala bentuk kesewenang-wenangan dan ketidakadilan di balik kuasa tirani dan kemudian hari ini mereka berlindung di balik tirani dan menjalankan kuasanya, maka saya menyebutnya dengan istilah Penghianat Bangsa.

Tapi saya tidak menyebutmu seperti itu kawan karena saya pikir itu agenda kepentingan pribadimu yang kamu jalankan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat, dan kamu tahu “itu menjijikkan”.

Saya minta maaf kawan. Saya memilih untuk tidak berada pada pilihan yang ditentukan. Saya memilih Merdeka 100%.

Penulis: Askar Nur, (Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar).

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Berita Lainnya