Antara Mahasiswa Zaman Dahulu dan Sekarang

  • Whatsapp

OPINI, Suara Jelata — Salah satu generasi penerus negeri Indonesia adalah para mahasiswa. mahasiswa dianggap mampu menyikapi permasalahan untuk keberlangsungan Negeri ini. Banyak harapan rakyat bahwa mahasiswa adalah sebagai pembawa perubahan di negeri ini Sebut pelaku dan penggerak dalam perubahan kondisi sosial.

Namun, kenyataannya kegelisahan muncul bahwa mahasiswa sekarang sangat berbeda mahasiswa zaman dahulu. Dulu ketika mendengar nama mahasiswa, maka orang akan berdecak kagum dan iri.

Baca Juga

Mahasiswa dahulu memiliki sifat kritis dan yang tidak dapat dibendung. Menyampaikan aspirasi untuk membela rakyat dengan tindakan aksi yang solutif.

Kemudian bagaimana dengan mahasiswa zaman sekarang yang katanya? “agent of change,social of control, moral off corst”

Menurut saya, kondisi mahasiswa sekarang sangat jauh berbeda dengan kondisi mahasiswa zaman dahulu. Hal ini disebabkan mahasiswa sekarang sudah terjerumus dengan kondisi perkembangan arus budaya tanpa selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.

Sosial media merupakan kebutuhan primer mahasiswa zaman now. Era keterbukaan informasi membuat tiap generasi millenial tidak dapat jauh dengan gadget pribadinya.

Namun, hal ini membuat lemahnya ciri khas mahasiswa yang Rasional, analisis, kritis, universal, idealis, akademisi dan sistematis dalam kehidupan masyarakat.

Mahasiswa zaman sekarang hanya bisa mengkritisi tanpa memberi solusi serta menjadikan aksi demonstrasi sebagai gaya semata tanpa mengambil esensi yang tersirat.

Sosial media hanya dijadikan topeng dibalik suara dan teriakan yang diberikan. Aktif mengkritisi melalui sosial media untuk mendapatakan pengakuan apresiasi tertentu dan pada faktanya apatis di dunia nyata.

Inikah fungsi dari ketersediaan teknologi yang canggih bagi mahasiswa? harapan untuk meningkatkan kualitas tetapi berbalik arah menjadi menurunkan kualitas.

Mahasiswa yang dulunya dianggap sebagai akademisi yang memiliki pendidikan lebih, tapi toh, nyatanya belajar hanyalah sebuah ajang formalitas dan titip absen adalah sebuah identitas.

Nilai dan ijazah adalah tujuan akhir dari mayoritas mahasiswa zaman sekarang dan enggan menegok rakyat yang membutuhkan bantuan. Beban skripsi dan tugas akhir dilalui sembari cangkruk di warung kopi (warkop) sebab ada “joki” siap dibayar untuk mengerjakan.

Teriakan yang sudah tidak asing lagi didengar oleh seluruh mahasiswa Indonesia “Hidup Mahasiswa”, hanyalah sebuah teriakan fana tanpa memahami dan memaknai apa arti mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa di zaman sekarang berulang kali menyuarakan namun tidak berbuat apa-apa.

Lalu di mana mahasiswa zaman sekarang?, hilangnya idealisme mahasiswa dan dukungan masyarakat membuat mahasiswa seperti kehilangan arah.

Momentum seperti memperingati hari reformasi pun manjadi kehilangan dalam jiwanya. Reformasi dan mahasiswa seperti berjalan sendiri-sendiri tidak ada yang mengawal reformasi, sehingga reformasi seperti kehilangan arah begitu saja dan kebablasan.

Miris melihat mahasiswa zaman sekarang seakan lupa siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung untuk membangun bangsa dan negara menuju peradaban lebih baik.

Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa, dimana motor penggerak utamanya adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peranan kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke orde baru dan yang terakhir adalah reformasi 1998 yang meruntuhkan orde baru.

Mahasiswa zaman sekarang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan merupakan tanggung jawab diri sebagai mahasiswa yang seharusnya. Julukan agent of change telah berubah menjadi julukan “agent of instagram, agent of Facebook, dan agent of game” bagi mahasiswa zaman sekarang.

Asal mereka duduk nyaman. Seperti puisi yang disampaikan oleh Najwa Shihab merupakan cerminan kondisi mahasiswa zaman sekarang.

“Mahasiswa masa kini menjadikan forum diskusi sebagai ajang pamer intelegensi
menjatuhkan yang lain demi meninggikan gengsi. Hobinya mengkritisi
tapi tak sanggup berkontribusi
berlagak politisi tapi masih ciut dihadapan birokrasi.

Banyak menjadi mahasiswa wifi yang diam dan bungkam dijejal dalam koneksi. Belajar jujur dikata individualis
Tak memberi contekkan katanya tak etis
open brain tanpa open internet dibilang tak realistis.

Miris, mahasiswa terlalu terambung-am ung IPK, huruf dan angka masih dianggap simbol bahwa ia bisa. Tak peduli hasil dari mana asal bisa mendapat nilai (A), tak peduli rakyatnya kelaparan, harga kebutuhan dikendalikan pasar.

Teriakan mahasiswa tiada terdengar mereka diruangan ber-AC ‘katanya’ sedang belajar, mahasiswa kekinian titip absen dianggap simbol setia kawan tak ada motivasi belajar membenahi tatanan. Kuliah asal cukup kehadiran
masa bodo rakyat menderita

Mahasiswa! agen perubahan katanya,
akbarkan sumpah mahasiswa beserta makna, jangan hanya mengejar IPK. Rakyat tak butuh angka Mereka perlu aksi nyata”‘

Sekilas puisi cukup menggambarkan kondisi dan situasi mahasiswa zaman sekarang. Indonesia sekarang butuh generasi bangsa yang tidak mementingkan kehidupannya sendiri melainkan kehidupan bangsa dan negara.

Harapan terus mengalir terhadap mahasiswa agar kembali menjadi agen-agen perubahan untuk negara seperti mahasiswa dahulu kala. Mahasiswa yang berani menunjukkan aksi nyata tanpa perbanyak teori ataupun embel-embel popularitas.

Gerakan mahasiswa juga harus belajar dari perjuangan gerakan mahasiswa pada masa sebelumnya. Mereka harus bersikap tegas dengan berbagai kajian dan tidak hanya riuh dengan selebrasi politik. Tidak hanya bergerak dalam dunia maya seperti dengan gerakan petisi online, akan tetapi bergerak dalam aksi nyata.

Mahasiswa di Chile, berhasil mendorong kebijakan kuliah gratis yang dibiayai dari pajak korporasi, sebab mereka turun ke jalan-jalan untuk aksi massa dengan tuntutan-tuntutan yang menekan penguasa sejak tahun 2006 melalui apa yang dinamai Penguin Revolution.

Artinya, gerakan mahasiswa selain berkutat dengan teori, mereka harus turun ke massa rakyat melalui strategi live-in dengan melakukan aktivitas sosial-politik demi menciptakan kesadaran politik pada massa dan keyakinan atas kekuatannya.

Melakukan berbagai kajian dan membentuk media propaganda seperti Koran menjadi penting untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran massa. Kebijakan pemerintah yang masih terjerat dalam politik neoliberal.

membuat terus terjadinya berbagai konflik yang melibatkan rakyat dengan pemerintah atau swasta serta dengan keduanya.

Di sana mereka dapat turut membantu perjuangan rakyat dengan membentuk blok historis. Dan hal utama adalah untuk menghidupkan kembali “perjuangan menyelesaikan revolusi nasional Indonesia

Namun indonesia bukan hanya butuh orang-orang akademisi tetapi tidak memberikan kontribusi terhadap negara. Mahasiswa sekarang dituntut agar mampu dalam sisi akademis maupun non akademis.

Indonesia butuh penggerak untuk menuju dengan tujuan nasionalnya dari pemuda. Mahasiswa sekarang yang seharusnya menjawab tantangan-tantangan bangsa ini.

Mahasiswa memang bukan pekerja sosial. Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa mereka adalah agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat.
dengan siap memberikan gagasan cerah dengan sikap optimisnya pada saat menghadapi suatu persoalan.

Penulis: Kahar, mahasiawa UIN Alaudin Makassar, yang berasal dari Pakokko, Desa tellulimpoe, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai.

– tulisan tersebut adalah tanggung jawab penuh penulis. 

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Berita Lainnya