Prilaku Islami Kaum Terpelajar Dibalik Kursi Yang Tertukar (Catatan LK 2 HMI Sinjai)

  • Whatsapp
Ahmad Marsuki Pengurus LBH KAHMI Makassar

OPINI, Suara Jelata—Insiden yang kian viral di sosial media tentang kelompok pemilik hajatan Nasional yang “berang” akibat tindakan oknum tenaga sukarela Pemkab Bagian Perlengkapan yang mengalihkan perhatian para panitia dan peserta.

Sebab kursi yang sedang didudukinya untuk scereaning/presentase makalah ilmiahnya sebagai prasyarat kelulusan, tiba- diminta untuk segera berdiri, sebab kursinya akan diangkut.

Muat Lebih

Entah atas perintah atasan, ataukah hanya tindakan inisiatif oknum tersebut, “tetapi kronologi tidak menjadi topik dalam statusku ini, sebab itu bukanlah pelajaran yang dapat dipetik, tetapi sebatas pengalaman bagi keduanya”.

Dari sanalah aku menatap prilaku islami yang patut diteladani oleh setiap ormas, OKP dan organisasi kemahasiswaan.

Mengapa tidak? dalam insiden itu, ada perbincangan etika, emosional, dan “siri” (malu) yang biasanya jika diperhadapkan dengan orang seusianya kerapkali tutup mata dan menganggap bahwa perlakuan itu taidak boleh dibiarkan dan harus segera diselesaikan dengan jalan “kekerasan” sebab telah mempermalukan kelompoknya.

Namun itu tak dilakukan oleh mereka yang sedang berkecimpun dalam wadah HMI Cabang Sinjai.

Dengan tenang dan kepala dingin, para kadernya yang hadir dilokasi dari segala penjuru Indonesia saat itu, justru membalasnya dengan senyum sembari panitia membangun komunikasi dan koordinasi kepada pihak terkait.

Sungguh nampak jika mereka adalah insan cita yang terbina dalam akademis yang bernafaskan islam.

Sesaat setelah insiden itu, saya merapat kelokasi hajatan untuk mencari tahu sekaligus menjawab rasa penasaranku tentang apa yang terjadi sesungguhnya.

Setiba saya di lokasi, aktifitas kembali normal dan seperti tidak terjadi apa-apa, di sekitar lokasi saya melihat sekitar 100 orang kader dan sekitar 10 org berambut gondrong yang mengalihkan perhatianku dan seketika aku berfikir bahwa “PASTI” telah terjadi gesekan.

Tetapi ternyata itu tidak terjadi dan mereka menjawab bahwa sekiranya kami ingin marah maka kami tidak tahu apa nasib mereka, sebab dari jumlah saja mereka kalah.

Dia berkata, “kami sadar bahwa kami harus menunjukkan pada mereka bahwa kami ini telah terdidik dan tidak sedang menuntut lawan kami, hanya menuntut ilmu dan berhimpun untuk memberikan kontribusi semampu yang kami bisa untuk daerah bangsa dan negara”.

Sembaring menujuk 2 orang kader yang berambut gondrong itu sambil tersenyum, dengan nada melucu dan berkata, ini gondrong sangar dilihat kanda, namun ini yang screaning Baca Tulis Qur’an (BTQ) mereka berdua ini Hafidz 30 Juz.

“Tidak mungkinah kita akan anarkis apalgi yang Hafidz itu heheheh”, tetapi semoga dengan sikap kami, mereka tersentuh dan tidak mengulang tingkahnya.

Pihak Pemkab pun tidak tinggal diam dan membiarkan hal ini terus menjadi isu yang kian melebar, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, pimpinan mereka menemui pihak panitia dan pengurus untuk meluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman yang dapat saja “dimanfaatkan” oleh pihak lain.

Sebab sejak awal Pemkab siap memberikan support dan berterima kasih atas kegiatan tersebut, sebab memiliki nilai kontribusi yang tidak sedikit untuk (bumi panrita kitta) ini.

Karena itu, jika terdapat kekhilafan diantara kita, semoga saja kita saling memaafkan.

Semoga sikap dan prilaku para kader HMI Cabang Sinjai ini terus dipertahankan, sebab bagiku mereka adalah Benar2 Kader PARIPURNA, (Akademis, pencipta, Pengabdi, Islami, Bertanggung jawab, Bijaksana dan Menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal) masyarakat Bumi Panrita Kitta Kampung Para Ahli Kitab (Alqur’an).

Salut serta berbangga terhadap para peserta yang juga kader HMI Cabang se Indonesia yang ikut tenang dan menyenangkan suasana menjadi tetap bersahabat.!

Jayalah HMI
HMI Cabang Sinjai
Yakin Usaha Sampai

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Pos terkait