Waspada! HOAX di Pilkada 2020

  • Whatsapp
Penulis

OPINI, Suara Jelata— Tak terasa di tengah pandemi virus corona atau Corona pesta demokrasi akan tiba saatnya untuk terselenggarakan.

Sebuah fenomena yang cukup berat bagi pemerintah untuk mengatasi segerombolan manusia yang akan serentak melakukan hak suaranya untuk memilih pemimpin yang terbaik untuk daerahnya dikarenakan kewajiban mematuhi protokol kesehatan.

Bacaan Lainnya

Konten informasi yang berisikan penggiringan terhadap masyarakat akan berserakan di media sosial untuk memperlihatkan oposisi para calon yang dimana diantaranya kebaikan dan sepak terjangnya akan terpublikasikan walaupun itu hoax.

Hal yang perlu diketahui pengguna media sosial dalam mengumpulkan informasi, masih banyaknya para penggiat yang menekuni bidang teknologi yang masih saja melakukan proses yang masif agar bisa menyikapi penyelesaian permasalahan di tengah masyarakat.

Namun, diranah perpolitikan saat ini masih ada yang memegang kebijakan khususnya diranah politik praktis sebagai pilar awal seseorang yang akan menduduki posisi untuk memberikan suatu kebijakan untuk menentukan kemajuan atau kemunduran untuk oposisinya sendiri.

Dengan adanya kecanggihan berinteraksi atau berpropaganda dalam bermedia sosial, mereka tidak henti-hentinya untuk melakukan hal yang sifatnya kontravensi dan terkadang tidak perlu untuk dipertontonkan.

Sama halnya dengan mencari pandangan terbaik dari mata publik, dengan hanya membeberkan segelintir kalimat yang bisa meyakinkan untuk masyarakat.

Hal omong kosong yang sering terdengar dan nyaring bunyinya tanpa implementasi yang sama dengan (hoax) yang memiliki efek luar biasa dalam penggiringan wacana bagi orang membacanya, hingga kesalahpahaman muncul berserakan di tengah masyarakat, yang mana setiap hal tersebut dikaitkan dan dikembalikan kepada hal yang sangat berbeda jauh yakni kepentingan politik itu sendiri.

Yang perlu ditanamkan dalam pikiran agar tak salah kaprah dalam bermedia sosial, pengguna media sosial harus pandai melihat dan membaca suatu berita baik atau buruk yang disebarkan.

Jikalau berita tersebut bersifat negatif (buruk) akan mengganggu ekosistem dunia informasi yang diterima masyarakat secara luas, dengan melihat situasi sekarang pemegang atau pengguna sosial media tidak bisa ditentukan dan dibatasi secara pasti usia yang seharusnya melihat.
Walaupun pembatasan konten dengan unsur tertentu melalui usia batas 18 tahun ke atas, tapi pemahaman menyikapi suatu politik itu tak terbatas serta proses kampanye yang sedang berjalan ini sebenarnya juga melakukan perusakan moral dini maupun konsep berpikir dimana semestinya orang di usia belia untuk saat ini bisa terfokuskan terhadap jenjang prestasi mereka dengan dari segi akademik maupun non-akademik mereka.

Lalu harus diusia belia mereka menyatakan mendukung salah satu pasangan kepala daerah maupun wakilnya bahkan mengetahui konsep visi misi bakal calon dan hal lain yang tentunya sebuah kritikan bagaimana mengelola informasi yang semestinya dan menyampaikan informasi yang baik tanpa merusak moralnya itu sendiri.

Akan tetapi penulis atau pembaca akan sangat terfokuskan soal wacana yang diterbitkan, bagaimana melihat fenomena mudahnya informasi hoax mudah tersebar luas di kalangan masyarakat umumnya.

Dengan ini penulis dan pembaca yang belum bisa mengontrol emosinya dalam berkomentar dan memperlihatkan ilmu argumentasi yang nyatanya tidak pantas untuk dipertunjukan, dan mengingat apa yang terjadi dilingkungan sekitar tentu saja akan mempengaruhi moral dan pembentukan karakter yang ada pada diri seseorang.

Jadi untuk para pembaca pilihlah konten informasi yang bersifat edukasi dan bermakna, sebelumnya lihatlah dampaknya secara jangka pandang anda yang luas untuk membaca sebuah konten informasi agar tak tergiring oleh opini yang bersifat hoax.

Dan saya harap pada pembaca konten informasi agar bisa memilah konten dan ingatlah pada posisi anda apakah anda ingin termakan oleh trend jaman atau tidak dengan opini saat ini apa lagi pesta demokrasi akan dimulai.

Jadi jangan salahkan nanti jika kita membiarkan budaya-budaya buruk ini yang mungkin pada hari ini masih sebatas di dunia maya saja.

Jangan sampai hal seperti ini akan merembes ke sistem generasi selanjutnya kita maupun orang terdekat kita di karena kan akan menjadikan pola pikir mereka akan terbentuk oleh kebiasan-kebiasan buruk dengan metode penggiringan.

Oleh: Bayu

*Tulisan tersebut adalah tanggung jawab penulis. 

loading...
  • Whatsapp