“Lumayan”, Inilah Mata Pencaharian Warga Pesisir Perbatasan Sinjai-Bone

  • Whatsapp

SINJAI, Suara Jelata— Meskipun masih dirundung masa pandemi Covid-19, setiap orang juga harus bekerja keras dalam bertahan hidup terlebih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Mabbiri, itulah yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir, terutama di wilayah Utara tepatnya Sungai Tangka, Perbatasan antara Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Mabbiri (mengambil kerang khas sungai sebutan orang Bugis Sinjai) atau kerang sejenis Kijing (Bahasa Jawa) masih dilakukan oleh sejumlah masyarakat dalam pemenuhan ekonomi keluarganya.

Seperti pantauan Media Suara Jelata, aktivitas Mabbiri sudah mulai dilakukan oleh warga sekitar saat air sedang surut sekira pukul 13.00 WITA, hingga sore hari.

Nur, salah satu warga yang tinggal di Kaluara, Kelurahan Lappa turut memanfaatkan waktu senggangnya dengan turun kesungai untuk Mabbiri. Minggu, (30/08/2020).

“Baru beberapa hari ini turun karena tidak ada kesibukan dirumah dan air sedang surut. Ada juga ibu-ibu dari seberang. Lumayan kalau ambil satu sampai tiga liter,” ungkapnya.

Cara mengambilnya pun cukup mudah, hanya dengan menggali dan menyusur suduh-sudut pasir.

“Ini kan baru lagi ada Biri, sedikit-sedikit didapat. Beda waktu dulu, jadi pindah-pindah tempat supaya ada didapat” lanjutnya.

Sementara untuk harga Biri sendiri bervariasi, namun pada umumnya dipasaran senilai Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000 per Liter.

“Lumayan, biasa dijual lima ribu saja atau tuju ribu, paling mahal itu biasa kalau besar-besar Birinya ta sepuluh ribu satu liter,” bebernya.

Selain Biri, di Sungai ini juga terdapat banyak sumber mata pencaharian seperti Ikan, Kepiting, Udang, Tiram, dan kerang lainnya.

Rihan SJ

loading...
  • Whatsapp