Dampak Pandemi Covid-19, Pemecah Batu Trinil Butuh Perhatian Pemerintah Daerah

  • Whatsapp

MAGELANG, Suara Jelata – Dampak pandemi Covid-19 benar-benar dirasakan masyarakat, termasuk para pemecah batu di sekitar jembatan Trinil, Dusun Citro, Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Rata-rata mereka sudah puluhan tahun menekuni mata pencaharian dengan mengambil dan memecah batu sungai Progo.

Bacaan Lainnya

Sekitar 60 orang bergelut dengan batu sungai mulai dari memungut dari dalam air, mengusung ke gubuk dan memecahnya. Batu berbagai ukuran dipecah secara manual dengan cara dipalu hingga berukuran 2-3 cm yang disebut split.

Hampir seluruhnya merupakan warga Dusun Mlahar Desa Banjarsari Kecamatan Windusari yang terletak di barat jembatan Trinil, Sungai Progo.

Di masa pandemi ini mereka sangat membutuhkan perhatian pemerintah, khususnya Pemberintah Daerah Kabupaten Magelang.

Hal itu diungkapkan oleh Slamet (66) yang menggeluti pekerjaan itu sejak tahun 1970-an.

Dikatakan Slamet, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dia tidak menuntut lebih bantuan pemerintah, baik dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah.

Dia berharap hasil keringatnya laku untuk digunakan oleh dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur.

“Dibeli untuk pembangunan jalan atau lainnya, kami sudah merasa senang, merasa terbantu. Namun selama ini, jarang sekali kami dibeli dalam partai besar. Hanya dari beberapa orang yang membutuhkan sedikit-sedikit,” kata lelaki dua putra ini, Jumat pagi (28/5/2021).

Kakek dengan 6 cucu ini sangat mengarapkan para pemecah batu Trinil dijadikan ‘jujugan’ (tujuan utama) Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang saat ada proyek pembangunan daerah yang menggunakan material batu split.

Hal senada diinginkan Parman (68) yang juga warga Mlahar dan menekuni pekerjaan memecah batu sejak tahun 1975. Dia juga berharap para pemborong jalan proyek pemerintah daerah mau membeli batu-batu split dari Trinil ini.

Menurut Parman, harga split Rp 2.500 per tomblok (wadah dari bambu). Di mana dalam ukuran satu kubik split sama dengan 80 tomblok atau seharga Rp 200.000.

“Namun kami tidak mengerti mereka (para pemborong) lebih memilih membeli batu split dari selepan batu,” ungkapnya.

Baik Slamet maupun Parman sangat menyayangkan ketika pembangunan daerah yang dilaksanakan di tingkat desa pun, lebih memilih membeli batu split dari selepan, bukan dari pemecah batu manual.

“Kami berharap ada perhatian Pemerintah Kabupaten Magelang. Paling tidak kebutuhan split untuk pengerasan jalan di Banjarsari atau wilayah sekitar Windusari membeli dari kami,” harap Parman yang diamini Slamet serta pemecah batu lainnya di selatan jembatan Trinil itu.

Penulis: Iwan
Editor: Izhar
  • Whatsapp
loading...