Yenny Wahid: Redam Polarisasi Masyarakat Dengan Kewarasan

Yenny Wahid saat menjelaskan pentingnya meredam polarisasi di masyarakat, di hadapan awak media di OHD Museum Kota Magelang, Sabtu (30/07/2022). (foto; Iwan SJ)

KOTA MAGELANG JATENG, Suara Jelata – Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah perlu bekerjasama dalam meredam polarisasi yang muncul di masyarakat. Hal itu perlu dilakukan agar umat NU dan Muhammadiyah terhindar dari polarisasi yang mulai meruncing menjelang Pilpres 2024.

Demikian diingatkan oleh Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh atau akrab disapa Yenny Wahid di Magelang. Hal itu dikatakannya kepada awak media di sela-sela menghadiri Pameran Seni Rupa Mata Air Bangsa: Persembahan untuk Gus Dur dan Buya Syafii Maarif di OHD Museum Magelang, Sabtu (30/07/2022).

“Saya mengingatkan masyarakat tidak terjebak pada perilaku-perilaku negatif, hate speech, ujaran-ujaran kebencian, lalu hujatan-hujatan terutama melalui sosial media. Sosial media salah satu tantangan yang saat ini kita hadapi di dunia karena memang mekanisme algoritma membuat masyarakat itu menjadi terbelah karena masyarakat kita sekarang sudah dikondisikan untuk melihat masalah itu hanya secara hitam-putih saja,” kata Yenny Wahid.

Menurut Yenny, adanya peran sosial media membuat masyarakat tidak cukup bersabar membaca artikel. Untuk itu yang dibaca hanya judulnya saja, kemudian saat membaca judul tersebut pemahamannya menjadi dangkal dan mudah disesatkan.

Kata Yenny, hal itu diperparah lagi dengan hadirnya buzzer-buzzer yang tidak bertanggung jawab. Dari semua pihak lah siapa pun yang punya uang bisa mengontrak buzzer. Ini fenomena yang menurutnya membahayakan kalau tidak diredam.

“Redamnya pakai apa, pakai kewarasan. Saling mengingatkan, jangan terjebak pada perilaku-perilaku semacam itu. Kalaupun ada tetap ini tidak bisa dihindari karena kadang-kadang orang-orang yang berkecimpung dalam dunia politik terutama mereka akan menghalalkan segala cara demi untuk bisa meraih kekuasaan,” tuturnya menambahkan.

Menurut Yenny, bagi orang-orang yang masih berpikiran agar jangan pasrah. Untuk itu, mereka harus melakukan kontra narasi, aktif di masyarakat.

“Jadi sosial media tidak boleh hanya dipenuhi buzzer, tapi dipenuhi oleh netizen-netizen yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Yenny mengatakan, khusus bagi NU dan Muhammadiyah, guna meredam kondisi tersebut bisa dilakukan dengan konsolidasi. Di mana NU dan Muhammadiyah bisa melakukan konsolidasi di kalangan umat untuk membantu, meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan lewat sosial media.

“Informasi yang ditularkan lewat offline saya harap bisa meredam apa yang terjadi secara online. Kalau online sangat simplistis, sifatnya dangkal, tetapi ketika offline itu ada penjelasan, ada perspektif, ada nuansa, bisa dijelaskan orang biasa lebih maklum,” tandasnya.

Hal ini merupakan fungsi organisasi besar yang berjejaring sangat luas di masyarakat.

“Untuk bisa melakukan peran-peran, melakukan mitigasi atas kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh penggunaan sosial media yang destruktif sifatnya melalui buzzer dan lain sebagainya,” pungkas Yenny Wahid. (Iwan)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Grup Telegram "suarajelata.com News Update", caranya klik link https://t.me/suarajelatacomupdate, kemudian join.