Menimba Keteladanan Sang Guru

Opini | PENDIDIKAN
Meneladani sang guru Romo Van Lith dengan mengajar para siswa dengan memberi kebebasan berkreasi, berinovasi, dan menentukan pilihan. (foto: Lusia Ekaningsih)

Suara Jelata Menengok kota kecil Muntilan, dan mengunjungi beberpa tempat bersejarah di sana, tak akan hilang dari ingatan tentang sebuah nama yang masih melekat. Bahkan nama itu dipakai  sebuah sekolah berasrama yang cukup popular. Ya, SMA Van Lith di Muntilan.

Namu itu ialah Franciscus Georgius Josephus Van Lith atau yang lebih dikenal Romo Van Lith. Romo Van Lith adalah pastur kelahiran Belanda pada 17 Mei 1863. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Keinginannya menjadi pastur lahir ketika ia membaca sebuah buku tentang Santo Fransiskus.

Setelah membaca buku itu, Van Lith berkeinginan untuk menjadi seperti Santo Fransiskus yang suci dan selalu mencari kehendak Tuhan atas hidupnya. Setelah menyelesaikan sebuah kursus perguruan dan dilanjutkan sekolah di sekolah latin, Van Lith memutuskan untuk menjadi pastur Jesuit, yaitu anggota Serikat Yesus dalam ordo gereja Katolik Roma. Kemudian pada tahun 1894 Van Lith ditahbiskan menjadi seorang imam/pastur.

Menjadi guru

Sebelum Van Lith ditahbiskan menjadi imam, ia sempat menjadi guru di sebuah kolese di Katwijk, Belanda. Selama menjadi guru, Van Lith dikenal sebagai sosok yang senang bercerita dan disiplin. Itulah mengapa banyak murid yang senang mengikuti kelasnya.

Dengan pengalaman Van Lith menjadi guru inilah yang nanti akan dibawa pada misinya di tanah Jawa, menebarkan pendidikan untuk masyarakat Jawa khususnya. Van Lith seorang yang memiliki semangat yang berkobar, pantang menyerah dan mau belajar budaya Jawa serta mengenal masyarakat Jawa.

Misi di tanah Jawa

Pada tahun 1896, Romo Van Lith tiba untuk pertama kalinya di tanah Jawa tepatnya di Semarang, Jawa Tengah. Ia diutus pimpinannya untuk bermisi di tanah Jawa. Maka dalam misinya ini Romo Van Lith tidak hanya inigin menyebarkan ajaran Katolik saja, melainkan juga menyejahterakan masyarakat Jawa di bidang pendidikan.

Selama satu tahun Romo Van Lith membekali dirinya dengan ilmu budaya serta adat Jawa terlebih dahulu. Ia dengan rendah hati mau membuka diri untuk belajar budaya Jawa. Walaupun ia seorang Belanda. Hingga akhirnya Romo Van Lith menjalankan misinya, tepatnya di sebuah kota kecil di Muntilan dengan membangun sebuah sekolah dan bangunan gereja.

Romo Van Lith menginginkan masyarakat Jawa atau pribumi bisa memperoleh pendidikan agar mampu sejajar dengan bangsa Eropa. Oleh sebab itu Romo Van Lith mendirikan kolese Xaverius di mana sekolah ini mempersiapkan calon-calon guru dan pemimpin. Melalui kolese ini, Romo Vanlith membuat sebuah kurikulum perpaduan antara kebudayaan Jawa dan mengadopsi model pendidikan barat.

Pendidikan Romo Van Lith ini jelas tujuannya untuk mengangkat martabat hidup orang Jawa. Pendidikan dilakukan untuk mencetak guru-guru yang nantinya bisa menjadi pemimpin. Sebab dengan adanya pemimpin dari pribumi, martabat orang Jawa semakin dihormati, dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Model pendidikan seorang Romo Van Lith

Romo Van Lith adalah seorang guru bagi para murid-murid pribumi waktu itu. Ia telah melakukan banyak hal demi terciptanya kemajuan pendidikan untuk orang-orang Jawa.

Apa saja yang dilakukan Romo Van Lith sebagai seorang guru? Sebagai seorang guru Romo Van Lith mau pergi ke desa-desa untuk menemui muridnya. Ia ingin menjalin relasi yang hangat dan akrab dengan masyarakat pribumi, sehingga hal itu menjadi jalan untuk menyampaikan pesan betapa pentingnya pendidikan.

Romo Van Lith mengajarkan kepada murid-muridnya untuk hidup sederhana, bekerja keras, berperikemanusiaan, jujur, dan berani membela rakyat kecil yang tertindas. Romo Van Lith mengajarkan sikap toleransi antar umat beragama.

Muridnya diajarkan untuk mempunyai sikap toleransi terhadap kelompok lain yang bukan Katholik. Teladan yang diajarkan oleh Romo Van Lith banyak mempengaruhi murid-muridnya di Kolose Xaverius.

Calon-calon guru lulusan Kolese Xaverius akhirnya menjadi guru di sekolah negeri dan swasta. Menjadi guru pada waktu itu menjadi profesi yang terhormat.

Sebagai seorang guru, Romo Van Lith bersikap adaptif. Ia mau belajar tentang budaya Jawa, adat istiadat Jawa dan mengajarkan pada murid-muridnya tentang budaya Jawa yang adi luhung itu.

Romo Van Lith memberikan pendidikan yang transformatif. Artinya pendidikan yang mampu mengubah para muridnya untuk memiliki sikap hidup dan cita-cita yang besar. Dan hal ini mewujud dari banyaknya murid Romo Van Lith yang menjadi guru serta pemimpin seperti di antaranya Mgr Albertus Soegijapranata SJ (22 November 1896 – 22 Juli 1963) dan Ignatius Joseph (IJ) Kasimo Hendrowahyono (10 April 1900 – 1 Agustus 1986).

Mgr Albertus Soegijapranata SJ adalah Uskup pribumi pertama di Indonesia. Sebagai seorang nasionalis dan tokoh agama, beliau terkenal dengan semboyannya 100% Katolik, 100% Indonesia.

IJ Kasimo menyusun pidato yang menyuarakan hak Bangsa Indonesia untuk memupuk eksistensinya sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki hak untuk berusaha ke arah penataan negara sendiri. IJ Kasimo adalah menteri katolik yang pertama dan diangkat juga menjadi pahlawan nasional.

Membawa api Van Lith dalam karya sebagai guru

Pada hari Guru tanggal 25 November 2023 seyogyanya kita mampu merenung sejenak dan belajar dari Romo Van Lith bahwa menjadi seorang guru membutuhkan semangat yang tak pernah padam, ajur ajer (menyatu, red) dengan budaya setempat sehingga memiliki sikap bangga terhadap budaya yang ia miliki. Hatinya penuh cinta kepada para muridnya dan menanamkan sikap sebagai pemimpin di hati para murid.

Romo Van Lith tak pernah bosan untuk mendidik para muridnya supaya mereka memiliki sikap yang jujur, rendah hati, bertoleransi, mencintai budaya dan bangsanya. Sehingga martabat bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain.

Romo Van Lith peduli terhadap alumni-alumninya, tetap menyapa dan memberi perhatian secara personal sesuai keunikan mereka, sehingga tercipta relasi interpersonal antara guru dan alumni yang erat.

Sebagai pastur Katolik, Romo Van Lith tidak pernah memaksakan murid-muridnya untuk menjadi Katolik. Hal inilah yang layak kita tiru, bahwa sebagai guru memberikan kemerdekaan bagi para murid untuk berkembang sesuai kehendak bebasnya. Sehingga murid-murid menjadi bahagia dengan pilihannya.

Selamat meneladani Romo Van Lith di hari Guru ini. Selamat Hari Guru tahun 2023. (*)

Lusia Ekaningsih, S.Pd
Guru SMK Negeri 1 Magelang

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.