OpiniPENDIDIKAN

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

×

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Sebarkan artikel ini
Dra. Niam Isbat Futhona, M.M., Kepala SMP Negeri 1 Pagu Kabupaten Kediri. (foto: Redaksi)

Suara Jelata Dalam dunia Pendidikan di tanah air, sosok Ki Hajar Dewantara tidak akan lepas dengan semboyan pendidikannya yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Maknanya, seorang guru harus menjadi teladan bagi muridnya (di depan memberikan contoh atau teladan), seorang guru harus mampu memberikan semangat kepada muridnya untuk terus maju (di tengah-tengah membangun kemauan atau cita-cita, dan seorang guru mampu memberikan semangat kepada murid dalam menentukan pilihan (dari belakang memberikan dorongan moral atau semangat).

Sampai kapan pun, seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Memang, kemajuan teknologi semakin canggih dan modern. Proses pembelajaran bisa dilakukan melalui berbagai media baik offline maupun online. Terlebih pascapandemi, wajah pendidikan kita mengalami banyak transformasi.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Berawal dari gagap teknologi hingga berangsur menuju cakap berteknologi. Guru sudah bukan satu-satunya tempat bagi siswa untuk mendapatkan informasi. Bahkan, google lebih canggih dari itu. Apa pun yang dibutuhkan, google menyediakan semuanya. Namun, apakah google menyediakan sosok teladan bagi murid? Inilah peran dan tugas guru yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Ing ngarsa sung tuladha, di depan mampu memberi teladan. Lebih dari mengajar, guru memiliki tanggung jawab mendidik yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh mesin pencari seperti google. Guru tidak hanya melakukan transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values.

Dari sisi lain, perubahan kurikulum memang diperlukan sebagai wujud penyesuaian zaman. Sesuai dengan perkataan Ali bin Abi Thalib ‘Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu’. Namun, perubahan kurikulum harus tetap mempertimbangkan keberlanjutan. Artinya, tidak semua aspek kurikulum harus dirubah, melainkan mempertahankan nilai-nilai positif dan memperbaiki hal-hal yang masih kurang.

Jika setiap pergantian menteri kurikulum mengalami perubahan mayor hingga mencakup seluruh aspek, perangkat, dan tools maka yang menjadi korban adalah lembaga pendidikan dan peserta didik. Lima tahun bukan waktu yang cepat maupun sebentar untuk proses penyesuaian. Belum sepenuhnya menyesuaikan sudah ganti lagi dan diminta untuk kembali menyesuaikan. Hal tersebut sangat melelahkan bagi elemen pendidikan.

Beberapa waktu lalu digaungkan Merdeka Belajar, di mana konsep ini merujuk pada pendekatan pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu humanisme. Memanusiakan manusia menjadi kunci dalam proses pendidikan. Siswa adalah seorang manusia yang utuh dengan segala fitrahnya mulai dari kemampuan berpikir hingga merasakan.

Pendidikan bukan untuk mencetak generasi emas, melainkan untuk memfasilitasi fitrahnya untuk berkembang secara maksimal. Istilah mencetak seakan-akan menilai siswa adalah objek yang bisa diatur dan dikendalikan sepenuhnya oleh guru. Siswa adalah subjek utama pendidikan yang membutuhkan pendampingan untuk menemukan jati dirinya sebagai seorang hamba. Karena sejatinya pendidikan untuk menyiapkan seseorang menjadi hamba yang mampu beribadah serta menjalankan perannya sebagai khalifatullah fil ardh, bukan mengajarinya untuk menjadi yang maha (menyombongkan diri).

Pendidikan bukan lahan komersial. Pendidikan merupakan ruhnya peradaban. Kejayaan suatu peradaban tidak pernah mengabaikan pendidikan. Seperti halnya pada masa Dinasti Umayyah dan Abasiyyah yang menjadi kawah candradimuka peradaban serta yang melahirkan banyak ulama terkemuka. Para pemimpin dinasti Umayyah dan Abasiyyah sangat menghormati ilmu dan orang yang berilmu. Kesejahteraan orang yang berilmu tidak akan terabaikan. Bahkan, karya mereka dibayar dengan emas sesuai dengan berat fisik karya tersebut. Maka tidak heran, pada masa itu perpustakaan ramai, buku-buku banyak bermunculan.

Apakah saat ini di Indonesia peserta didik ramai di perpustakaan mengulik ilmu lewat buku-buku, atau mereka diam menyendiri dan asyik dengan gadgetnya? Juga apakah para cerdik pandai menulis temuan dan karyanya lewat buku, atau justru kepandaian mereka untuk mengakali sesama anak bangsa?

Semua memiliki jawaban beragam dari sudut berbeda pula, sementara pendidikan di tanah air, terus mencari formula di tengah gempuran teknologi yang cenderung mengikis adab. Padahal sejatinya adab dulu, baru ilmu. (*)

Keluarga Besar SMP Negeri 1 Pagu Kabupaten Kediri mengucapkan “Selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2025”.

Penulis:
Dra. Niam Isbat Futhona, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Pagu
Kabupaten Kediri