KOTA TERNATE MALUT, Suara Jelata – Sekolah Rakyat (SR) Menengah Pertama 26 KotaTernate bersama Sekolah Rakyat (SR) Menengah Atas 28 Kota Tidore Kepulauan (Tikep) pagi tadi menggelar launching Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun pelajaran 2025-2026, Senin (14/07/2025).
Kegiatan tersebut adalah bagian dari lauching MPLS secara serentak dan bersifat nasional di 63 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia termasuk dua Sekolah Rakyat yang ada di Provinsi Maluku Utara tersebut.
Diketahui, selain Sekolah Rakyat (SR) Menengah Pertama 26 Ternate yang beralamat di Sentra Wasana Bahagia, Kelurahan Kalumata, Ternate Selatan, Kota Ternate, Sekolah Rakyat Menengah Atas juga berada di Kota Tikep. Keberadaan SR Menengah Atas 28 tersebut tepatnya di IPWL Sofifi Kota Tikep.
Diwawancarai awak suarajelata.com, Senin (14/07/2025), Kepala SR Menengah Pertama 26 Ternate, Manto La Usma, S.Pd., M.Pd. mengatakan, sebelum digelarnya MPLS, kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan dan cek fisik para siswa atau peserta didik khususnya siswa SR Menengah Pertama 26 Ternate. Setelah usai kegiatan pemeriksaan, dilanjutkan dengan MPLS yang dijadwalkan berlangsung selama dua minggu ke depan.
“Adapun ragam kegiatan dalam MPLS meliputi, Kegiatan pengenalan asrama, Pengenalan guru dan tenaga tendik. Selain itu ada juga kegiatan Pengenalan asrama, Pengenalan lingkungan sosial seputaran asrama termasuk kegiatan bimbingan keagamaan.
“Peserta didik atau siswa SR Menengah Pertama 26 Kota Ternate berjumlah 50 orang, terbagi dalam dua rombel. Mereka 50 siswa-siswi tersebut, 32 di antaranya adalah putra dan 18 lainnya adalah putri,” ujar Manto.
Dikatakan, para siswa atau peserta didik tersebut diseleksi berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) katagori Desil 1 dan Desil 2 atau berasal dari keberadaan keluarga miskin ekstrem.
Guru atau tenaga pendidik keseluruhannya berjumlah 11 orang. Mereka diseleksi oleh Badan Kepegawaian Nasional (BKN).
“Keberadaan SR Menengah Pertama 26 Kota Ternate ini juga memiliki wali asuh sebanyak dua orang dan satu orang wali asrama. Selain itu dilengkapi operator, bendahara, cleaning service dan juru masak.
Intinya, menurut Manto La Usma, S.Pd, M.Pd, sekolah ini adalah sekolah berasrama. Semua siswa diasrama kan.
Hal tersebut merupakan perwujudan dari program Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto bersama Kementrian Sosial Republik Indonesia. SR, akses pendidikannya untuk semua orang. Ini sejalan dengan jargon SR yakni Bermutu Untuk Semua Orang.
Disebutkan pula oleh Kepsek, keberadaan 50 siswa SR Menengah Pertama 26 ini kesemuanya berdomisili di Kota Ternate yang berasal dari berbagai kelurahan dan kecamatan.
“Katagorinya adalah dari Desil 1 dan Desil 2 yang diambil dari data DTSEN tersebut,” ungkapnya.
“Nanti bukan hanya siswanya yang diasrama kan dan mendapat pendidikan yang bermutu tapi juga orang tuanya juga turut diberdayakan melalui pemberian life skill,” tambah Manto.
Manto menuturkan proses masuknya para siswa tersebut tidak melalui pendaftaran tapi diambil dari DTSEN. Mekanismenya, lebih awal dilakukan survei lapangan guna pencocokan data tersebut dengan data BPS sebagai data pembanding. Tahapan berikutnya adalah, tim meminta kesedian orang tua siswa dan siswa untuk bersekolah di SR Menengah Pertama 26 yang konon siswa-siswinya diasramakan.
Adapun kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Tailor Made. Kurikulum yang bersifat terpusat ini diadopsi dari Kurikulum Merdeka plus. Sistimnya adalah Multi Entri Multi Exit. Dengan desain Tailor Made, Kurikulum ini mengkolaborasi keunikan daerah di mana SR tersebut berada.
Selain diasrama kan secara gratis, fasilitas lain yang didapat para siswa SR adalah pakaian seragam 6 jenis, perlengkapan mandi dan perlengkapan alat tulis.
Untuk tenaga pendidik atau guru diambil dari PPG pra jabatan. Mereka ini sudah tersertifikasi dan langsung direkrut menjadi P3K pusat.
Setelah MPLS nantinya dilanjutkan dengan program matrikulasi atau pembelajaran tentang berasrama. (Ateng)