DAERAHPENDIDIKAN

Lokakarya Pengelola SIT Warnai Rangkaian Muswil VI JSIT Jawa Tengah di Brebes

×

Lokakarya Pengelola SIT Warnai Rangkaian Muswil VI JSIT Jawa Tengah di Brebes

Sebarkan artikel ini
Lokakarya Pengelola Sekolah Islam Terpadu (SIT) menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) VI JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah yang digelar di Brebes. (foto : ist).

BREBES JATENG, Suara Jelata Lokakarya Pengelola Sekolah Islam Terpadu (SIT) menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) VI JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah yang digelar di King Royal Hotel Brebes, Sabtu (29/11/2025).

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yang membahas arah kebijakan pendidikan, pengembangan SDM yayasan, hingga success story pengelolaan lembaga pendidikan.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Acara diawali ice breaking senam “Aram Sam Sam” yang diikuti antusias oleh seluruh peserta.

Seusai pembukaan, sesi pertama menghadirkan Dr. Fikri Fakih, M.M., Anggota Komisi X DPR RI, yang memaparkan tema “Masa Depan Pendidikan Indonesia: Kolaborasi Pemerintah, Sekolah, dan Masyarakat.”

Fikri menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci peningkatan kualitas pendidikan nasional.

“Pembelajaran saat ini tidak bisa ditangani satu faktor saja. Pemerintah, industri, dan masyarakat perlu terlibat bersama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan karakter, vokasi, teknologi, dan soft skill dalam mendukung RPJPN 2025–2045.

Sesi kedua diisi oleh Prof. Dr. Sukro Muhab, M.Si., Ketua Majelis Tinggi JSIT Indonesia, dengan materi tentang pengembangan SDM dan kepemimpinan yayasan untuk mewujudkan SIT yang unggul dan profesional.

Ia mengingatkan bahwa perubahan struktur pekerjaan di masa depan menuntut sistem pendidikan adaptif.

“Pada 2030 akan muncul 170 juta pekerjaan baru akibat digitalisasi, dan 92 juta pekerjaan lain diperkirakan hilang,” paparnya.

Prof. Sukro menekankan empat kompetensi utama yang dibutuhkan masa depan:

integritas, profesionalitas, keunggulan, dan adaptabilitas.

Suasana lokakarya semakin hidup melalui intermezo dari narasumber dan kuis interaktif Kahoot.

Panitia juga memberikan doorprize bagi peserta paling aktif.

Pada sesi terakhir, Ustadz Abdul Hakim, S.Pd.SD., Ketua Yayasan Lembaga Bakti Muslim Al Falah Sragen, menyampaikan success story perjalanan yayasannya.

Ia menceritakan upaya mempertahankan keberlangsungan lembaga selama pandemi serta inovasi pasca pandemi melalui unit usaha seperti Laz Bakti Peduli, pendirian CV, dan sejumlah akuisisi bisnis.

“Masa sulit benar-benar menguji kita untuk semakin memantapkan keyakinan kepada Allah,” tuturnya.

Lokakarya ditutup dengan harapan agar seluruh pengelola SIT semakin memperkuat tata kelola yayasan, meningkatkan mutu, dan responsif menghadapi tantangan pendidikan di era digital. (Olam).