AdvetorialNews

Dapur MBG di Pesantren Darul Ihsan Salohe Sinjai Perkuat Layanan Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat

×

Dapur MBG di Pesantren Darul Ihsan Salohe Sinjai Perkuat Layanan Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Dapur MBG di Pesantren Darul Ihsan merupakan contoh konkret bagaimana pesantren mampu mengintegrasikan fungsi sosial, pendidikan, dan kemandirian lembaga dalam satu program yang berdampak luas/Ist

Sinjai, Suara Jelata—Keberadaan Dapur Makan Bergizi (MBG) yang berlokasi di Desa Salohe, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, tepatnya di kawasan Pesantren Darul Ihsan, menjadi langkah strategis dalam menghadirkan manfaat multidimensi bagi dunia pendidikan dan masyarakat sekitar.

Dapur MBG ini menjangkau sebanyak 23 sekolah penerima manfaat dan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan pangan, tetapi juga sebagai sarana penguatan kemandirian lembaga, peningkatan kualitas layanan pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat sekitar pesantren.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Qolby Sukri, menyampaikan bahwa Dapur MBG dirancang untuk memastikan layanan konsumsi yang sehat, layak, dan berkelanjutan bagi sekolah-sekolah penerima manfaat.

“Dapur MBG ini menjadi bagian dari upaya memastikan pemenuhan gizi peserta didik berjalan secara terstandar dan berkesinambungan. Dengan pengelolaan yang terpusat, kualitas pangan dapat dijaga dan distribusi bisa dilakukan secara lebih terkontrol,” ujarnya.

Pertama, Dapur MBG berperan penting dalam menjamin ketersediaan konsumsi yang layak, terstandar, dan berkelanjutan bagi sekolah-sekolah penerima manfaat.

Keberadaan Dapur Makan Bergizi (MBG) yang berlokasi di Desa Salohe, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, tepatnya di kawasan Pesantren Darul Ihsan/Ist

Ketersediaan pangan yang terkelola dengan baik berdampak langsung pada kesehatan, konsentrasi belajar, serta kenyamanan peserta didik dan tenaga pendidik dalam menjalankan aktivitas pendidikan.

Kedua, pengelolaan Dapur MBG mendorong terciptanya efisiensi dan tata kelola yang lebih baik. Dengan sistem produksi terpusat, distribusi menjadi lebih terkontrol, biaya operasional dapat ditekan, dan kualitas layanan dapat dijaga secara konsisten.

Hal ini menunjukkan kemampuan pesantren dalam mengelola program berskala luas secara profesional.

Ketiga, keterlibatan masyarakat sekitar dalam operasional Dapur MBG menjadi bentuk nyata pemberdayaan sosial dan ekonomi.

Masyarakat tidak hanya menjadi penerima dampak, tetapi juga bagian dari proses pelayanan, baik sebagai tenaga kerja, mitra pendukung, maupun pemasok kebutuhan dapur.

Pola ini memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama antara pesantren dan lingkungan sekitar.

Pimpinan Pesantren Darul Ihsan, Ust Mansur, menegaskan bahwa keberadaan Dapur MBG sejalan dengan komitmen pesantren dalam memperluas peran sosial dan pelayanan umat.

“Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga harus mampu hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemanfaatan fasilitas pesantren sebagai Dapur MBG merupakan bagian dari ikhtiar membangun kemandirian lembaga sekaligus pemberdayaan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Keempat, pemanfaatan lahan pesantren berupa bangunan yang difungsikan sebagai Dapur MBG mencerminkan optimalisasi aset lembaga.

Penggunaan fasilitas milik pesantren untuk kegiatan produktif dan pelayanan publik menjadi bukti komitmen menuju kemandirian lembaga, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sarana eksternal.

Kelima, secara kelembagaan, Dapur MBG memperkuat citra pesantren sebagai pusat pelayanan umat yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mendukung sektor pendidikan dan sosial secara lebih luas.

Pada akhirnya, Dapur MBG di Pesantren Darul Ihsan merupakan contoh konkret bagaimana pesantren mampu mengintegrasikan fungsi sosial, pendidikan, dan kemandirian lembaga dalam satu program yang berdampak luas.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai motor penggerak pelayanan dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman.