Sedih, Kisah Warga Sinjai Tengah Sudah 19 Tahun Dipasung

  • Whatsapp

SINJAI, Suara Jelata— Berbagai program pemerintah dengan upaya untuk mensejahterakan rakyat. Salah satunya adalah pengentasan kemiskinan. Walau persoalan tersebut belum tuntas hingga di desa-desa.

Sebagaimana UUD 1945 menegaskan beberapa poin terkait dengan keamanan dan kenyamanan setiap orang, seperti Pasal 28H ayat (1)Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Baca Juga

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami Feda (31), anak dari pasangan suami istri, Suddin dengan Mare, yang mengidap penyakit gangguan kejiwaan.

Dia menceritakan saat ditemui di gubuknya yang terletak di Dusun Haru, Desa Saotanre, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Selasa (08/10) siang tadi.

Saat ditemui tim sosial Suarajelata bersama tenaga kesejahtraan sosial kecamatan (TKSK) Sinjai Tengah Tri Silawati dan memberikan bantuan sembako dan pakaian.

Ia terpaksa mendekam (dipasung), melewati harinya di gubuk terpencil yang jauh dari keramaian orang-orang.

Kedua kakinya dipasangi kayu yang membuatnya tidak bisa berdiri, saat ditanya kondisinya jawabannya melantur.

Pelakuan ini dialami Feda, kata ayahnya, untuk mencegah ia dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dia terpaksa dibuatkan Gubuk kecil yang terbuat dari papan dengan kondisi yang sangat memprihatikan karena lapuk dan ketika hujan turun, air masuk ke dalam gubuknya karena atapnya bocor.

Itupun dapat di temui dengan berjalan kaki melewati perkebunan dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari jalan raya.

Feda, dipasung selama 19 tahun. Keluarganya mengaku sudah dua kali membawanya ke rumah sakit jiwa di Makassar.

Namun, kemiskinan selalu menjadi penghalang bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pelayanan maksimal.

Orang tua Feda, Suddin (95) Mengungkapkan terpaksa memulangkan anaknya, karena keluarganya tidak mampu membayar biaya rumah sakit.

Lantaran terkendala masalah biaya. Dimana ia harus membayar biaya rumah sakit sebanyak Rp 1.000.000, sementara untuk biaya makan saja, ia mengaku kesulitan.

“Sebelumnya, Polres Sinjai dan Aparat Desa Saotanre pernah membawa Feda ke rumah sakit jiwa,” katanya.

Polres Sinjai dan Aparat Desa Saotanre semata-mata karena bersifat empati kepada keluarganya.

Namun Suddin harus membayar uang jalan kepada aparat dan pemdes Saotanre saat itu, sehingga hal ini tetap dirasakan memberatkan dirinya ditengah ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

Lanjut, Suddin menjelaskan saat tidak dipasung anaknya pernah membunuh hewan ternak (ayam) 2 (dua) ekor.

Dan diapun membayar ganti rugi sebanyak Rp 200.000 dan merusak alat pertanian, lagi-lagi ia membayar ganti rugi sebanyak Rp 500.000.

Bukan hanya itu, kata Suddin, Feda juga pernah memindahkan seekor sapi milik tetangganya yang kepanasan.

Nahas, ia malah dituduh mencuri dan dilaporkan ke Polsek Sinjai Selatan.

Pasalnya, lanjut Suddin. Untuk tidak merugikan warga setempat, ia lebih memilih memasung anaknya.

“Saya berharap, supaya pemerintah daerah Kabupaten Sinjai mampu membantu pengobatan dan biaya anak saya” katanya dengan nada empati.

Suddin juga mengaku, bahwa ia dan istrinya bergantian menemani Feda di gubuknya, lantaran rumahnya berjauhan dengan gubuk yang di tempati Feda.

Ia juga berharap kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai untuk terjun langsung melihat kondisi yang di alami anaknya, meski sekedar memeriksa kesehatannya.

Dia khawatir jika anaknya tidak mendapatkan perawatan kesehatan akan semakin bertambah parah dan bahkan akan terjangkiti penyakit.

Diketahui, keluarganya banyak menjual tanah, sawah dan hewan ternak hanya untuk membiayai anaknya yang telah lama sakit.

“Saya juga pernah menjual 9 pohon kayu seharga 500 ribu, itu semua untuk anakku, besar harapan untuk sembuh namun kita hanya dapat berdoa,” kuncinya.

Laporan: NIHAN/TAKWA

Loading...
loading...
  • Whatsapp

Berita Lainnya