Tradisi ‘Mallofi-Lofi’ di Tengah Pandemi Covid-19 di Pelabuhan Tuju-Tuju

  • Whatsapp

BONE, Suara Jelata— Pertama kali keluar ke laut lepas, perahu yang baru saja dibuat harus dilakukan uji coba. Keadaan inilah yang disebut Mallofi-lofi (Naik perahu) dalam tradisi unik ini, sebetulnya penting untuk dilakukan untuk mengetahui apa saja yang menjadi kendala di awal percobaan melaut.

Selain menguji kecepatan laju perahu mengarungi laut, ketahanan membelah ombak serta stabilisasi setir kemudi yang tidak mudah membelok tanpa memutar kemudi menjadi perhatian dan tentu keseimbangan posisi guling samping kiri kanan juga harus baik.

Berita Lainnya

Stabilisasi mesin yang normal ketika di tengah laut yang harus menjadi pertimbangan selama uji coba, begitu juga dengan pompa pembuangan air yang tersambung pada mesin induk.

H. Are, pemilik perahu mengatakan bahwa perahu yang uji coba ini, kalau tidak ada kendala baik dimesin dan kemudi, guling samping dan pompa air, maka perahu sudah bisa berlayar ke daerah yang jauh. Rabu, (22/04/2020).

“Semoga tidak ada kendala dan nantinya dapat berlayar ke Maumere, NTT dan daerah-daerah pulau lainnya di kawasan Timur Indonesia,” harapnya.

Saat perahu terus melaju, tibalah saat untuk makan. Dalam tradisi ini, sebagai bentuk syukuran, hal inilah yang jadi kegembiraan tersendiri setiap orang yang ikut uji coba perahu.

Lebih lanjut, dalam kesempatan kali ini, tidak begitu banyak orang ikut melakukan tradisi Mallofi-lofi (Naik perahu) karena situasi pandemi Covid-19 yang diharuskan jaga jarak, dan tidak berkumpul.

Berbeda di saat sebelum ada pandemi, acara syukuran seperti ini selalu ramai dihadiri sanak keluarga, bahkan satu kampung ikut serta, tapi kali ini hanya keluarga inti dan ABK (sawi) yang ikut uji coba perahu.

Setelah uji coba di laut lepas, perahu kemudian kembali bersandar di Pelabuhan Rakyat Tuju-Tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

loading...
  • Whatsapp