BNPT Bersama YHPB Gandeng PT Pegadaian Gelar Dialog Kebangsaan

Nasional | News

BANDUNG JABAR, Suara Jelata Pegadaian sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara berperan aktif dalam mencegah tumbuhnya paham radikalisme intoleransi, dan terorisme. Dengan semakin besar jangkauan bisnis perusahaan, semakin komplek permasalahan yang akan dihadapi.

Salah satunya adalah dalam mencegah paham-paham radikalisme. Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) bersama Yayasan Harmoni Pemersatu Bangsa menggandeng PT Pegadaian dan mengadakan Dialog Kebangsaan BNPT RI. Acara digelar di Hotel Savoy Homann, Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/01/2023).

Dialog Kebangsaan tersebut dihadiri oleh Kepala BNPT RI Komjen Pol Dr. Boy Rafli Amar yang diwakili oleh Sestama BNPT Bangbang Surono, A.K., M.M., Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Pol Achmad Nurwahid, Dewan Pembina YHPB Habib Sholeh. Juga hadir Habib Hasan bin Syihab, KBP Astuti Plt. Karoren BNPT, Pimpinan Kanwil 10 PT Pegadaian M. Ariadi P., ASEVP PT Pegadaian Merry, Ramli Mitra Derad (mantan Napiter). Serta Keluarga Besar PT Pegadaian. Acara tersebut dihadiri sekitar 6.000 orang, baik daring maupun luring.

Sestama BNPT Bangbang Surono, A.K., M.M. pada kesempatan tersebut mengajak untuk meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan kewaspadaan. Dalam rangka mencegah tumbuhnya paham radikalisme, intoleransi, dan terorisme di lingkungan PT Pegadaian.

Seperti disampaikan oleh Bangbang Surono, definisi ideologi terorisme sebagai sebuah paham, gagasan, perbuatan berbasis kekerasan ekstrem berorientasi pada ideologi yang diyakini, dan memiliki tujuan politik tertentu. Karakteristiknya sebagai berikut: anti konstitusi dan ideologi Pancasila, bersifat transnational ideology, memiliki tujuan dan ideologi politik, intoleran, radikal, dan eksklusif. Serta menyalahgunakan narasi agama, anti kemanusiaan, dan menggunakan kekerasan ekstrem.

“Maka dari itu sebagai leading sector penanggulangan terorisme di Indonesia, BNPT RI berkomitmen dalam melawan paham dan aksi terorisme,” terangnya.

Bangbang Surono adalah Sestama BNPT yang baru dilantik pada akhir Desember 2022 lalu. Ia merupakan Sestama BNPT pertama yang berasal dari Aparatur Sipil Negara.

“Tujuan dibentuknya BNPT adalah agar penanggulangan terorisme di Indonesia bisa berjalan efektif, memiliki koordinator satuan elite terorisme agar terjalin koordinasi harmonisasi,” kata Bangbang Surono.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Kantor Wilayah Pegadaian 10, M. Ariadi P. menyampaikan salam takdzim dan hormat dari Dirut dan Direksi PT Pegadaian. Pihaknya bersyukur kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan memberikan ilmu pemahaman serta pengalaman yang sangat penting. Terutama dalam keberlanjutan bangsa dan negara, khususnya perusahaan.

“Paham radikalisme intoleransi merupakan kewajiban kita sebagai anak perusahaan BUMN bersama sama dengan seluruh komponen bangsa untuk mencegah agar tidak tumbuh di lingkungan kita,” ucapnya.

PT Pegadaian perusahaan yang bergerak dalam industri keuangan tentunya sangat membutuhkan mitigasi pencegahan agar seluruh keluarga besar PT Pegadaian terhindar dari paham-paham tersebut. Serta dapat mengidentifikasi kepada calon-calon mitra dan nasabah.

“PT pegadaian berkomitmen sesuai dengan slogannya, Mengatasi Masalah Tanpa Masalah, dan dengan dukungan akhlak seperti yang diarahkan Kementerian BUMN. Kami akan selalu hadir untuk negeri dengan program-program terbaik yang kami bisa,” kata M. Ariadi P.

Sementara itu, Dewan Pembina YHPB Habib Hasan Bin Syahab yang mewakili Abah Habib Lutfi bin Yahya menyampaikan bahwa sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, dalam Islam tidak pernah diajarkan untuk membenci dan mengkafir-kafirkan orang lain. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karena itu, segala bentuk kebencian dan narasi-narasi yang diciptakan oleh pihak-pihak tertentu, tentunya memiliki tujuan untuk mendiskreditkan Islam. Karena paham-paham radikalisme intoleransi selalu menggunakan narasi agama dalam pergerakannya.

“Kenapa? Karena agama Islam adalah mayoritas di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita perdalam dan perkuat iman kita. Jangan mudah untuk terdistorsi dan termanipulasi oleh ajakan-ajakan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Habib Hasan bin Syahab.

Ramli, mantan Napiter Mitra Derad BNPT RI mengatakan, pelaku-pelaku yang mencari kader-kader radikalisme sangat dekat dengan kita. Bahkan kita biasanya tidak menyadari karena mereka memiliki keahlian untuk menyesuaikan dengan target yang akan diajak masuk ke dalam paham-paham radikalisme intoleransi. Seperti itulah dahulu ia terjerumus dalam paham radikalisme.

“Mari kita semua kuatkan tekad dan semangat untuk mencegah paham radikalisme di lingkungan kita. Mulailah dari keluarga kita. Kenali putra-putri kita. Kenali lingkungan terdekat kita. Jika di lingkaran kita sudah mulai mendiskreditkan negara, membahas tentang pemimpin bangsa yang cenderung untuk menjatuhkan marwahnya. Serta muncul narasi yang eksklusivisme, maka kita perlu untuk berhati-hati dan segera mengambil tindakan dengan cara mengamati secara langsung keluarga kitar. Serta menjauhkannya segera dari lingkungan yang berbahaya tersebut,” kata Ramli.

Dalam penutupan Dialog Kebangsaan tersebut, Direktur Deradikalisasi BNPT RI Brigjen Pol Achmad Nurwahid mengatakan, jadikanlah Indonesia rumah kita, maka dengan itu kita tidak akan memasukan pemahaman-pemahaman yang akan merusak diri kita, keluarga kita, dan rumah kita. Semoga kita semua mendapatkan ridha dari Allah SWT., dan mendapatkan perlindungan dari hal-hal buruk yang akan menyerang kita.

“Kami menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada PT Pegadaian atas terselenggaranya kegiatan ini. Semoga kegiatan Dialog Kebangsaan ini dapat dilaksanakan di seluruh Kanwil PT Pegadaian. BNPT akan selalu hadir sebagai garda terdepan dalam penanggulangan terorisme. YHPB akan selalu menjunjung tinggi 4 Pilar Kebangsaan. Dan akan menjadi mitra strategis BNPT dalam pencegahan paham radikalisme intoleransi dan terorisme, agar tidak berkembang di NKRI kita tercinta,” kata Brigjen Pol Achmad Nurwahid.

Sestama BNPT Bangbang Surono, A.K., M.M. menambahkan, “Don’t judge a book, by it’s cover, hati-hati banyak intelijen dunia yang menyamar memasuki komunitas keagamaan seolah-olah menjadi satu. Namun mereka bertujuan untuk memecah belah dari dalam.

“Pada fenomena-fenomena mualaf kita jangan terkecoh oleh perkataannya. Namun kita harus bentengi diri kita agar tidak mudah terseret derasnya arus paham-paham radikalisme yang digaungkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,” imbuh Bangbang.

Ketua Umum YHPB Aditya Yusma menegaskan, seperti virus paham-paham itu, akan selalu menyebar, namun kita harus selalu memvaksin diri kita dengan ideologi kebangsaan yang sesuai dengan 4 Pilar Kebangsaan.

“Nafas kita NKRI Harga Mati. Salam Pancasila!” teriak Aditya Yusma pada acara Dialog Kebangsaan tersebut. (Wahyuni)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.