Tangis Kakek Miskin di Sinjai, Hidup Seorang Diri di Pesisir Hutan

  • Whatsapp
Dia tinggal di Rumah seadanya

SINJAI, Suara Jelata —Kesejahteraan setiap warga negara adalah tanggung jawab negara sebagai pemangku kewajiban terhadap segala urusan sosial.

Namun hal tersebut acap kali menemui berbeda dengan fakta di lapangan, seperti halnya nasib seorang kakek tua yang menghidupi diri dari kerja kerasnya sebab terlanjur putus pengharapan pada pemerintah.

Berita Lainnya

Ia bernama, Rappe (69), tak pernah menikah seumur hidupnya, baginya hidup sendiri adalah takdir dan tanpa belas kasih dari pemerintah pun menurutnya ialah ketentuan sang maha kuasa.

Ia tinggal di pesisir hutan di kebun salah seorang warga, Dusun Sapulambere, Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Selasa, (8/1/2019).

Apalagi kondisinya yang sudah tua dan sakit-sakitan, lututnya tidak begitu stabil dan pernafasannya kadang tersendat membuatnya khawatir.

“Jangan sampai saya meninggal dunia lalu tidak ada orang yang menolong saya, karena saya jauh dari keramaian dan tidak punya tetangga untuk minta bantuan,” keluhnya sembari menundukkan kepala.

Ia kakek miskin yang terpinggirkan, dan mengaku jauh dari lirikan pemerintah dan tidak nampak dari perhatian publik.

Sebagai kakek tua, Rappe sangat memaksa tenaganya demi sesuap nasi dengan berbagai cara untuk kehidupan sehari-harinya.

“Saya bekerja ke orang, membantu orang lalu saya dikasi uang 50 ribu dengan bekerja 3 hari di kebun orang,” ungkapnya.

Ia kemudian membeli beras dari hasil uang yang didapatnya setelah bekerja menjual keringatnya ke orang lain dengan upah yang begitu minim.

Begitupun dengan tanah tempat rumahnya berdiri, serta kambing dan ayam yang dipeliharanya juga milik orang lain dengan diberi upah tak sebarapa.

“Saya tidak punya apa-apa, saya tinggal di sini cuman numpang di kebun orang, tidak ada harta benda, satu-satunya yang kumiliki cuman nyawaku, diluarnya adalah milik orang lain,” katanya.

Bukan cuman rumahnya yang kecil, tapi juga tak memiliki kamar mandi dan WC, ia begitu nyata hidup di bawah garis kemiskinan.

Bukan cuman kondisinya rumahnya yang menyedihkan tapi ketidak pedulian pemerintah juga adalah satu bentuk keterpinggiran Rappe.

Selain miskin dan tak punya tanah, ia pun tidak lagi menerima sembako selama satu tahun dan tidak tercatat sebagai penerima uang dari pemerintah sampai saat ini.

“Saya tidak tahu, mungkin karena saya tua jadi sudah lewat waktunya untuk terima sembako, mungkin ini ujian dari yang maha kuasa,” imbuhnya.

Untuk makan sehari-hari, ia kadang kehabisan beras jadi terpaksa menjadikan ubi kayu dan pisang sebagai makanan pokoknya.

“Kalau bisa, saya sangat mau dibantu tapi saya juga tidak bisa apa-apa karena saya sudah tua, umur tak sebarapa lagi,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Mg Alam/Mg Sam/Burhan SJ

loading...
  • Whatsapp