Cerita Mahasiswa UNHAS Makassar Perantau ini Jadi Penjual Takjil di Kampus

Penulis : Fathul Mubaraq H,
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Alauddin Makassar

GOWA, Suara Jelata—Menjadi kampus yang besar dan terkenal tentunya bukanlah hal yang mudah, siapa yang sangka kampus yang megah yang berdiri di tengah kota Makassar ternyata memiliki keistimewaan yang unik selama bulan ramadhan. Sabtu, 19 Mei 2019 menjadi hari yang menjadi saksi akan keistimewaan kampus merah.

Disepanjang jalan masuk Universitas Hasanuddin (UNHAS) kita akan disuguhi dengan pemandangan baru yang hanya ditemukan ketika Ramadhan tiba.

Jejeran lapak yang hanya bermodalkan meja kecil menyajikan aneka ragam santapan berbuka puasa mulai dari pisang ijo, es buah, pisang coklat, dadar santan dan menu buka puasa lainnya.

Terlihat dari salah satu lapak dagangan seorang pemuda tampan dengan mengenakan pakaian merah, bercelana coklat, topi biru yang dikenakan di atas kepalanya serta kacamata coklat yang menghiasi matanya duduk di depan lapak dagangan sambil melayani pembeli yang hendak memesan pisang coklat buatan pemuda tersebut.

Pemuda itu bernama Innal Saitis, pemuda tampan berusia 25 tahun, berasal dari Buton Bau-Bau itu merupakan salah satu mahasiswa UNHAS yang telah menyelesaikan study S1 jurusan apotaker fakultas farmasi.

Menjadi perantau memang membuat pemuda yang akrab dengan sapaan innal ini harus mampu menghidupi dirinya di kampung halaman orang lain.

Hal yang menarik dari innal adalah keinginannya untuk berdagang menu buka puasa yaitu pisang coklat dan es buah dimana dirinya juga turut meramaikan lapak yang berada di kampus UNHAS.

Disaat pemuda yang lain merasa gengsi untuk berdagang, Innal justru merasa bangga dengan berdagang, “ini kan salah satu sunnah rasul juga, apalagi kita bantu sediakan cemilan untuk orang yang mau berbuka” ujar Innal.

Bagi Innal berdagang bukanlah pekerjaan yang memalukan, tidak perlu gengsi dan malu.

Jauh sebelum ramadhan Innal sudah mulai melihat peluang dagang di kampus UNHAS, disaat kebanyakan pedagang yang lain menjual pisang ijo dengan kuah santan.

Innal lebih memilih menu pisang coklat sebagai salah satu menu dilapaknya, hal ini berdasarkan pertimbangannya melihat peluang usaha yang ada.

Saat ditanya tentang proses pembuatan pisang coklat, Innal kemudian berdiri dan dengan santainya bercerita resep pisang coklat buatannya.

“Kita pilih dulu pisang yang matang baru pisangnya digorang dengan kulit lumpia supaya garing, kemudian didinginkan, sudah itu pisang yang telah di goreng di olesi dengan coklat dan di taburi milo.” ungkapnya.

Untuk harga pisang coklat hanya Rp. 5.000 sesuai dengan dompet mahasiswa dengan berisikan dua pisang coklat yang ditaburi milo dan dibungkus dengan plastik kemasan makanan bening yang tentunya akan menjadi daya beli dari pisang coklat buatan Innal.

Sore itu lalu lalang kendaraan sepeda motor melewati lapak jualan Innal, Pukul telah menunjukkan 17.28 WITA, pantulan sinar matahari mulai tak terlihat.

Namun dagangan masi sedikit pembeli, Sepeda motor Yamaha Mio kemudian menepi di depan lapak Innal, “Kak Es buah ta dua belas gelas sama pisang Coklat lima”. Ujar wanita yang mengenakan hijab merah itu.

Pembeli itu kemudian pergi menjauhi lapak. Raut wajah bahagia terlihat dari pancaran wajah Innal setelah wanita tadi memborong dagangannya.

Tak lama kemudian wanita berhijab biru datang mendekati lapak dagangan Innal. “Kak habismi Es buah ta di’, pisang coklat ta pale kak tiga” Ujar pembeli tersebut. “Iye habismi, tungguki di’.”

Tangan Innal bergerak membungkus pesanan wanita tersebut. “Makasih dek”. Ujar Innal. Pukul 17.58 WITA Suara panggilan berbuka dan sholat berkumandang dari menara masjid UNHAS.

Innal bersama tiga rekannya menyantap dagangan pisang coklat dan air mineral yang telah mereka sediakan.

Sebagai laki-laki beriman Innal bergegas membereskan lapak dagangannya, plastik makanan bekas berbuka di buang ke tempat sampah.

Setelah itu bergegaslah Innal dengan menggunakan sepeda motor jupiter miliknya menuju ke tempat sumber suara adzan dikumandangkan.

Perantauan Innal di kampung orang mengisahkan pengalaman yang bermakna dalam perjalanan hidupnya, kepiawaiannya dalam berdagang dan melihat peluang usaha serta ketaatannya yang tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk taat menjalankan Ibadah.

Disela pekerjaannya Innal tidak pernah melupakan kewajibannya untuk melaksanakan sholat lima waktu untuk mencari keridhoan Ilahi dan keberkahan dalam hidupnya.

Editor: Izhar

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.