Festival Budaya di Bantaeng Dinilai Kurang Etika dan Coreng Nama ‘Butta Toa’

  • Whatsapp
Saat festival budaya tersebut tengah berlabgsung. Senin, (2/12) malam.

Festival Budaya di Kabupaten Bantaeng (Butta Toa), Provinsi Sulawesi Selatan dinila kurang beretika


BANTAENG, Suara Jelata—Festival Budaya yang dilaksanakan di Kabupaten Bantaeng atau yang akrab dijuluki Butta Toa ini seketika tercoreng.

Baca Juga

Pasalnya, di hari kedua event itu dihelat di Tribun Pantai Seruni Bantaeng ada hal yang dinilai kuranh mengenakkan dipertontonkan dalam festival tersebut, pada Senin, (2/12) malam.

Sekitar pukul 20.32 Wita, sebuah video Siaran Langsung menggegerkan netizen. Pasalnya Festival Budaya yang fokus pada budaya lokal itu diisi dengan dentuman suara keras memekikkan telinga.

Tampak lokasi acara di Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng itu disesaki asap panggung yang diduga dihasilkan smoke machine. Belum lagi suara musik ala diskotik diikuti lantunan lagu barat yang menyerupai lagu remiks.

Dari video terlihat beberapa penari mengenakan pakaian adat berjoget bebas layaknya penari klub. Video berdurasi 4:27 menit itu jelas menjadi bukti jika Festival Budaya dimaksud terbilang menyimpang dari maksud, tujuan apalagi target yang ingin dicapai.

Ironisnya lagi, salah seorang perempuan bernama Titi yang diduga Panitia mengecam Video Siaran Langsung yang dipublish di akun  Facebook Ambae Exe. Titi sempat melontarkan kata tidak mencirikan budaya lokal yang memuat kata “Kurang Ajar”.

“Kurang ajar ini Ambae”, ucap Titi dengan nada kesal.

Terekam jelas di akhir Video Siaran Langsung. Sentak direspon seseorang dengan tanya “Kenapa bilang Kurang Ajar?”.

Kembali dijawab perempuan yang oleh Panitia lainnya memanggilnya Titi. Pembiaran yang dilakukannya itu diharapkannya tidak dipublish karena diduga akan menuai sorotan.

“Nanti disoroti ki kodong,” tambah Titi.

Tidak lama berselang, muncul komentar dari pemilik akun Facebook Iswati Sukardi sekitar 13 menit Video Siaran Langsung berakhir yang menerangkan jika aktifitas itu sudah bukan lagi rangkaian acara.

Tabe‘ (maaf) itu acara pas selesai pengumuman. Ungkapan bahagianya itu anak,” tulisnya.

Diikuti permintaan maaf dengan tiga emoticon salam secara berurut. Sementara akun Facebook Alimin Vanzer menyusul dengan komentar yang seakan paham betul seperti apa seharusnya Festival Budaya dilaksanakan.

Pasalnya di lokasi itu, spanduk masih terpajang dengan rapi. Belum lagi pelaksanaan kegiatan itu terjadwal sejak 1 Desember 2019 dan baru akan berakhir tanggal 4 Desember 2019.

“Siapa ini yg bikin acara, kok suara musiknya mirip diskotik, dan di mana tempatnya ini,” tulis Alimin.

Sementara itu, Kadis Pariwisata Kabupaten Bantaeng Subhan, saat dikonfirmasi oleh awak media cakrawalainfo, sangat menyayangkan Festival Budaya ini.

Menurutnya, itu tidak semestinya mempertontongkan gaya-gaya yang dinilai kurang beritika.

“Kegiatan Festival Budaya yang dilaksanakn Pemda tidak sesuai dengan harapan, harusnya festival ini mempertonton kan nilai-nilai budaya, bukan sebaliknya,” tandas Subhan.

Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada keterangan resmi dari Panitia Pelaksana yang menjadi penanggung jawab kegiatan. Rabu, (4/12). (*)

Loading...
loading...

Berita Lainnya