Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 India dan Ancaman Besar Terhadap Indonesia

  • Whatsapp

OPINI, Suara Jelata— India kini tengah berada dalam gelombang kedua kasus pandemi Covid-19. Per tanggal (13/5), tercatat lebih dari 20 juta orang terinfeksi, 226 ribu lebih di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Dengan jumlah ini menjadikan India sebagai negara dengan peringkat kedua setelah Amerika Serikat dalam hal jumlah positif Covid-19 terbanyak di dunia kini.

Bacaan Lainnya

Dengan fasilitas kesehatan yang jelas tidak sebanding dengan negeri Paman Sam, menjadi hal yang wajar jika hari ini India kolaps menghadapi terjangan badai kedua pandemi covid-19.

Mengutip pernyataan dari Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, ia meminta negara lain tetap waspada.

Menurutnya apa yang terjadi di India bukan tidak mungkin juga terjadi di negara manapun di dunia ini. Dia juga mengingatkan ada lonjakan kasus global dalam sembilan pekan terakhir tambahan kasus pekan lalu hampir sama dengan kasus pada lima bulan pertama pandemi Covid-19.

Menjadi pertanyaan, sejauh mana kemungkinan gelombang kedua covid-19 India bisa terjadi di negara Indonesia?.

Mengutip pernyataan dari Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra. Menurutnya bisa saja, bahkan bukan tidak mungkin kondisi di Indonesia bisa lebih parah dibanding India. Dia juga mengatakan bahwa pengendalian pandemi covid-19 India lebih baik jika dibandingkan dengan Indonesia.

Sejak awal berita gelombang kedua pandemi Covid-19 menghampiri India, saya merupakan salah satu orang yang takut jika hal yang sama akan terjadi di Indonesia. Bukan tanpa alasan logis, ada banyak faktor yang jadi alasan kita untuk takut atau khawatir.

Salah satunya adalah kondisi sosial dan budaya yang mirip. Indonesia dan India sama-sama memiliki komposisi masyarakat yang terdiri dari masyarakat yang religius. Sejauh ini ada banyak kasus covid-19 di India yang berawal dari ritual kegiatan keagamaan.

Kemudian belum lagi kerumunan di berbagai pusat perbelanjaan atau pasar tradisional menjelang hari raya Lebaran belakangan ini. Akhir pekan lalu, media massa memberitakan bahwa pengunjung pasar Tanah Abang membeludak hingga 100 ribu orang, pusat-pusat perbelanjaan lain juga dipenuhi oleh para pengunjung dengan ketaatan yang rendah terhadap protokol kesehatan.

Kemiripan India dan Indonesia juga terdapat pada kesamaan kondisi kepadatan penduduk yang memusat di berbagai kota-kota besar yang selama ini jadi pusat penyebaran kasus Covid-19.

Setelah peristiwa mudik lebaran masyarakat kota bergerak ke berbagai wilayah di negara ini, hal ini jelas berpotensi sebagai momentum penyebaran Covid-19.

Kemudian adapun faktor dari penanganan pandemi covid-19 di Indonesia yang selama ini dipertanyakan yaitu, segi pelacakan, tes covid-19 pada masyarakat serta penanganan yang masih tergolong rendah. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan Covid-19 terlihat bahwa fasilitas kesehatan di Indonesia juga tak lebih baik dari India, disaat kasus Covid-19 tinggi di Januari lalu, tingkat ketersediaan kamar di berbagai rumah sakit di Indonesia juga nyaris penuh. Kemudian belum lagi dengan lahan pemakaman untuk korban meninggal covid-19 terutama di daerah Jabodetabek yang semakin penuh dan menyempit.

WHO menyatakan bahwa salah satu pemicu utama ledakan kasus cocid-19 di India adalah mutasi virus yang kabarnya lebih menular. Ada dua varian virus covid-19 di India yaitu B117 dan B1617.

Mengingat kebijakan dalam pembatasan WNA yang masuk ke Indonesia membuat kita patut khawatir. Disaat negara lain melarang warga India masuk, kita masih memperbolehkan meski belakangan telah melarang, kita masih saja mendengar berita bahwa terdapat sejumlah besar WNA India yang berhasil eksodus ke negara kita.

Berdasarkan data dari Kantor Imigrasi Bandara Soekarno Hatta, per tanggal 11-22 April tercatat sebanyak 454 orang warga India masuk ke tanah air. Adapun yang membuat kita tercengang bahwa terdapat 12 di antara mereka yang terbukti positif Covid-19.

Awal pekan ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tak hanya varian dari India, namun mutasi virus covid-19 dari Afrika Selatan juga sudah masuk ke Indonesia. Tak bisa dibayangkan jika kelak kita mengalami seperti India, di mana tambahan kasus covid-19 per harinya mencapai lebih dari 300 ribu kasus positif.

Belajar dari gelombang kedua pandemi covid-19 India. Saya sangat berharap kekhawatiran saya ini tidak terbukti kelak. Dan jika kita tak ingin badai Covid seperti di India tak terjadi di Indonesia, mau tak mau prokes wajib diterapkan secara maksimal di berbagai ruang-ruang publik, dan kesadaran dari masyarakat sendiri harus ditingkatkan untuk mengurangi mobilitas.

Disisi lain, kita juga harus terus mendorong serta mengingatkan pemerintah agar konsisten dengan setiap kebijakan yang dibuat dalam penanganan pandemi covid-19.

Pemerintah juga harus terus meningkatkan kapasitas pelacakan, rapid tes massal, dan treatment yang saat ini masih di bawah standar WHO.

Kemudian hal yang tak kalah penting yaitu, kapasitas vaksin juga harus terus di maksimalkan oleh pemerintah. Jumlah pasokan vaksin mesti ditambah, pola distribusi juga harus diperbaiki agar merata menjangkau di semua wilayah Indonesia.

Vaksin merah putih yang digadang-gadang jadi tonggak kemandirian vaksin Covid-19 juga sudah selayaknya terus dikebut agar kita tak terus-terus bergantung pada negara produsen vaksin.

Dengan mengakselerasikan hal-hal di atas rasanya kita bisa menekan atau menghindari gelombang kedua atau ledakan kasus positif Covid-19 di negeri ini.

Penulis: Juan Ambarita, Mahasiswa fakultas Hukum Unja

Editor: Taqwa
  • Whatsapp
loading...