Tekun Jalani Proses Panjang, Dwi Anugrah Raih Prestasi Nasional

KOTA MAGELANG JATENG, Suara Jelata “Hasil tidak akan mengkhianati usaha”, adagium itu benar-benar dialami Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., guru Seni Budaya SMK Wiyasa Kota Magelang. Pasalnya di tahun 2022 ini dia meraih Juara I tingkat nasional untuk penulisan artikel guru yang diselenggarakan oleh Majalah Suara Guru Pengurus Besar PGRI Pusat.

Berbekal dari pengalaman menulis artikel pendidikan dan budaya sejak tahun 1990, Dwi ketika mendapat informasi dari Majalah Suara Guru perihal lomba penulisan artikel guru pada pertengahan Oktober lalu, timbul niat untuk mengikuti.

“Saya mengambil tema nasib guru honorer, karena tema tersebut sangat aktual dengan kondisi saat ini,” ungkapnya.

Temuan-temuan diskusi di lapangan dan berbagai referensi pendukung menjadi pemantik untuk menuangkan ide lewat tulisan. Permasalahan guru honorer yang sampai saat ini belum kunjung selesai, mereka yang sudah mengabdikan diri bertahun-tahun, namun tanpa imbalan layak.

Selain itu, menurut guru yang akrab disapa Pak Dwik ini, tata kelola guru yang membutuhkan perhatian, menjadi kerangka dasar berpikir untuk mengembangkan gagasan-gagasan yang kiranya memberikan pencerahan publik.

Kurang lebih berproses selama satu minggu, artikel yang ditulisnya dikirim ke PB PGRI Jakarta.

“Saya tidak mengira, tanggal 24 November mendapat informasi dari Jakarta masuk 6 besar penulis level nasional,” ungkap Dwi.

Padahal menurutnya, ada ribuan guru se-Indonesia yang mengikuti lomba tersebut. Jurinya pun para wartawan senior dari media massa nasional.

Dari 6 besar tersebut pada tanggal 25 November 2022 siang, diumumkan lewat kanal YouTube langsung dari PB PGRI bahwa pemenangnya adalah dari anggota PGRI Kota Magelang, tak lain dirinya sendiri.

Dwi merasa bersyukur, bahwa tahun ini dapat memberikan kontribusi untuk Kota Magelang lewat media tulisan. Harapannya, di tahun berikutnya prestasi yang sudah diraih ini dapat diteruskan dan dipertahankan oleh guru-guru lainnya.

Dwi yang sudah menerbitkan kurang lebih 5 buku non fiksi dan ratusan artikelnya pernah singgah di harian nasional sampai daerah ini memberikan tips. Yaitu agar guru dapat menorehkan ide-idenya sekecil apa pun melalui tulisan.

“Adapun tips untuk selalu menulis antara lain, seorang penulis bukanlah bertanding melawan orang lain. Yang perlu ditaklukkan adalah dirinya sendiri yang tidak mampu menyisihkan waktu untuk duduk menulis, yang mudah putus asa ketika tulisannya ditolak oleh media, yang cepat puas diri dengan satu karya,” ungkapnya.

Sehingga, lanjut Dwi, mereka lupa untuk menulis lagi, yang menghitung-hitung honorarium kecil pada saat tulisan telah dimuat. Itu semua berupa tantangan yang berasal dari dalam diri.

“Satu hal lagi yang perlu dicatat, bahwa melalui menulis, benih-benih multikulturalisme akan tertebar. Jika tidak setuju dengan opini yang dituliskan penulis lain, tanggapi dengan tulisan pula. Dari siklus ini, tulisan-tulisan akan menjadi alat untuk memahami dan memaknai perbedaan,” ujarnya.

Pada prinsipnya, Dwi menandaskan, semua harus meyakini bahwa penulis bukanlah pertama-tama dilahirkan, tetapi hasil pembelajaran. Jika terus bertekun dalam proses tentunya akan membuahkan hasil yang diharapkan.

“Ayo menulis dari sekarang. Angkat penamu, gerakkan jarimu. Tulis!” pungkasnya. (Iwan)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.