Close Iklan
DAERAHPENDIDIKAN

Komunitas Siap Gerak Gelar The Closing Ceremony of the Goes to School

×

Komunitas Siap Gerak Gelar The Closing Ceremony of the Goes to School

Sebarkan artikel ini
Komunitas Siap Gerak merupakan wadah yang menghimpun para alumni guru-guru penggerak yang ada di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Sabtu (07/09/2024). (foto:Ateng)

KOTA TERNATE MALUT, Suara Jelata Komunitas Siap Gerak merupakan wadah yang menghimpun para alumni guru-guru penggerak yang ada di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan (Tikep). Komunitas ini pada Sabtu (07/09/2024) menggelar The Closing Ceremony of the Goes to School.

Gelaran kegiatan yang berlangsung di lantai 6 Muara Hotel Ternate tersebut dihadiri Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara (Malut), Damrudin, S.Pd, M.Pd. Selain Kadikbud, hadir pula Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Malut, Dr. La Mansyur serta Pembina Komunitas Siap Gerak (KSG) Ruslan Djainudin, S.Pd M.Si.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Selain itu, The Closing Ceremony of the Goes to School ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi pendidikan termasuk akademisi Dr. Samsul Somadayo yang juga dosen Universitas Khairun Ternate. Adapun peserta yang hadir berpartisipasi adalah para Guru Penggerak Angkatan 2, 6 dan 9 yang berjumlah 150 peserta. Mereka terdiri Kepsek dan perwakilan guru-guru SMA/SMK/SMA LB dari Kota Ternate dan Tikep.

Dalam sambutan laporan, Ketua Panitia kegiatan, Bambang Taryono, S.Pd mengatakan, The Closing Ceremony of the Goes to School yang diinisiasi oleh Komunitas Siap Gerak (KSG) adalah akhir dari serangkaian kegiatan yang pelaksanaannya sejak bulan Juli hingga Agustus 2024.

Kadisdikbud Provinsi Malut, Damrudin, S.Pd, M.Pd. saat memberikan sambutan. (foto: Ateng)

“KSG melakukan road show ke sekolah-sekolah sasaran yang ada di Kota Ternate dan Tikep. Materi yang diberikan itu antara lain, Assessment pembelajaran, Pembelajaran berdiferensial, Pengenalan PNM, serta Optimalisasi tentang komunitas belajar,” ujar Bambang.

Dikatakan Bambang, tujuan kegiatan ini adalah untuk berbagi praktik baik. Yakni bagaimana memberi pemahaman kepada guru-guru tentang pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.

Terkait sumber penganggaran untuk kegiatan ini, Bambang menyebutkan, sumber tersebut berasal dari Dikbud Provinsi Malut, BGP Malut, usaha panitia termasuk donatur yang tidak mengikat.

Pembina KSG, Ruslan Djainudin, S.Pd, M.Si dalam sambutannya mengatakan, ‘Siap Gerak’, interpretasi maknanya adalah bagaimana komunitas ini mampu mempercepat program pemerintah di 26 hingga 27 episode Merdeka Belajar.

Menurut Ruslan, salah satu agenda terpenting yang perlu dilakukan komunitas ini adalah bagaimana komunitas yang dihuni para guru penggerak ini bergerak cepat dan tepat menyebar virus-virus baik kepada teman guru yang lain.

“Hadirnya KSG telah banyak melakukan praktik baik berupa kegiatan pendampingan juga program pengimbasan. Ini untuk menjawab berbagai kekurangan yang dialami oleh guru-guru yang statusnya belum Guru Penggerak,” tukas Ruslan.

“Dengan berbagai terobosan oleh KSG, memberi kontribusi berupa peningkatan jumlah guru penggerak khususnya di angkatan 7 dan 8,” tambahnya.

Kadisdikbud Malut berfoto bersama para guru penggerak. (foto: Ateng)

Kadisdikbud Provinsi Malut, Damrudin, S.Pd, M.Pd dalam sambutannya memberi apresiasi kepada KSG sembari berharap komunitas ini bisa menularkan hal-hal positif terkait pembelajaran ke semua guru-guru yang ada di Malut.

“Ini sesuai dengan asas pendidikan kita yakni saling membelajarkan antar-sesama,” ucapnya.

Damrudin berharap, guru harus terus bergerak dan berinovasi secara intens mengikuti trend perkembangan pendidikan saat ini.

Sementara Kepala Balai Guru Penggerak Provinsi Malut, Dr. La Mansyur mengatakan, berdasarkan fakta yang diungkapkan Kadikbud terkait tidak berimbangnya kebutuhan Guru Penggerak dengan jumlah yang ada di lapangan. BGP menurut La Mansyur, akan terus mendorong peningkatan jumlah Guru Penggerak guna menjawab ketersediaan kebutuhan lapangan.

Kepala BGP Malut ini berharap, perlunya sharing dan kolaborasi terkait pengetahuan maupun skill lintas Guru Penggerak dan non penggerak.

“Perlunya berbagi melalui program pengimbasan kepada guru-guru lain yang belum berkesempatan untuk itu,” katanya.

Berbagi pengetahuan ini relevan juga dengan filosofi kearifan lokal Maluku Utara yang disebut dengan ‘Kora-kora’. Kora-kora ini memiliki makna filosofi adalah bagaimana sama-sama mendayung perahu di atas gelombang laut demi mencapai tujuan. Sama halnya di dunia pendidikan kita juga dituntut saling berkolaborasi, berbagi pengetahuan demi mencapai tujuan.(Ateng)