SINJAI, Suara Jelata—Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai membantah jika saat ini Stunting menempati urutan tertinggi di Sulawesi Selatan. Senin, (17/6/2019).
” Tidak benar itu, kalau yang Urutan kedua itu data tahun 2017 data survey saat itu, data tahun 2017 itu data lama, “Kata Kepala Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Sinjai, Dedi.
Menurutnya data stunting di Sinjai itu ada data realnya, bisa dilihat langsung di Puskesmas dan lewat online.
Nah, Langkah antisipasi yang kita lakukan itu dengan melakukan pencegahan, pencegahannya itu dengan memperbaiki gizi perempuan sebelum menikah, sebab jika gizinya buruk lalu menikah dan langsung hamil maka anaknya lahir sudah dalam keadaan pendek.
” Dinas kesehatan itu kontribusinya hanya 30% sisanya diluar dinas kesehatan seperti pemberdayaan perempuan agar mencegah menikah muda,” bebernya.
Diinas Kesehatan saat ini ada programnya di posyandu dengan memberikan vitamin, ada juga program dinkes memberikan tablet di Sekolah Sudah dua tahun itu, dengan harapan 2 sampai 5 tahun kedepan stunting akan menurun.
“Kita juga menyuruh ibu agar menyusui dengan asi ekslusif karna ada ibu yang memberikan anaknya susu kaleng dan sebenarnya itu tidak boleh, tidak cocok untuk anak sebab itu berpengaruh pada tumbuh kembang anak, akibatnya pertumbuhan anak jadi pendek,”terangnya.
Sebelumnya, Rola Suryanama, Komite Nasional Pemuda Indonesai (KNPI) Sinjai Utara menegaskan, bahwa hal tersebut salah siapa dan apa solusinya.
“Berdasarkan data kemenkes setiap puskesmas angka stunting di Sulawesi Selatan, kabupaten Enrekang urutan pertama, dan Sinjai urutan kedua. Menyedihkan sebenarnya karena ini soal gizi buruk,” katanya.
Namun ini harus disikapi dengan serius mengenai apa yg dilakukan dinas kesehatan hari ini mengenai stunting.
“Bidan desa dan kader kesehatan di desa apa yg dikerjakan, padahal kan digaji oleh desa untuk persoalan seperti ini,” ujarnya.
Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya.
Penyebab utamanya adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.
Alam SJ











