Menanggapi Isu Kelangkaan Pupuk, Distan Bantaeng Sebut Produksi Pertanian Meningkat

  • Whatsapp

BANTAENG, Suara Jelata— Asumsi publik terkait kelangkaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Bantaeng terus muncul. Sementara Dinas Pertanian dan Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) hingga saat ini tidak menemukan terjadinya kelangkaan pupuk di tingkat pengecer. Minggu, (13/12/2020).

Berdasarkan laporan Dinas Pertanian pertengahan Desember 2020, tepatnya tanggal 20/11/2020 Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida melakukan sidak disejumlah pengecer dan stok pupuk bersibsidi masih aman hingga musim tanam Desember.

Bacaan Lainnya

Menurut kepala Bidang Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Nursalam, hingga saat ini pihaknya merasa bingung, lantaran isu kelangkaan pupuk tidak diketahui terjadi di wilayah mana. Hanya dikatakan langka pupuk.

“Kita ingin mengetahui wilayah mana di Bantaeng terjadi kelangkaan, agar KP3 segera menindaklanjuti,” kata Nursalam.

Dikatakan, produksi meningkat sebesar 3,22 persen. Artinya, rata-rata lahan pertanian di Bantaeng bisa memproduksi 52,40 kwintal padi per hektare pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya, produksi pertanian di Bantaeng hanya berada pada angka 50,76 per hektare. Selengkapnya, lihat grafis.

“Dari data ini, lahan pertanian di Bantaeng tetap subur. Buktinya, rata-rata produksi padi per hektare meningkat,” jelasnya

Dia menambahkan, data ini pula sekaligus membantah asumsi publik jika terjadi kelangkaan pupuk di Bantaeng. Secara fakta, lahan pertanian di Bantaeng mengalami kenaikan produksi. Jika terjadi kelangkaan pupuk, seharusnya lahan pertanian di Bantaeng mengalami penurunan produksi per hektare nya.

Dia juga mengakui di beberapa kecamatan sempat mengalami penurunan jumlah luas tanam. Hal ini akibat banjir dan musim kemarau. Dampaknya, ada sekitar 0,34 persen potensi produksi pertanian yang tergerus. Dampak banjir terhadap jumlah luas tanam terasa di di Kecamatan Bissappu dan Bantaeng. Sedangkan dampak kemarau terasa di Kecamatan Pa’jukukang dan Gantarangkeke.

“Bissappu dan Bantaeng karena dampak tanggul cekdam jebol, dan dampak perubahan iklim curah hujan cukup rendah di kecamatan pajukukang dan gantarangkeke sehingga ada penurunan luas tanam,” tambahnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk tanaman jagung. Dia mengatakan, produksi pertanian jagung di Bantaeng juga ikut meningkat. Setiap lahan pertanian di Bantaeng mengalami peningkatan produksi tanaman jagung 60,76 kwintal per hektare tahun ini. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya berada pada angka 59,60 kwintal per hektare.

“Artinya, lahan pertanian jagung di Bantaeng tetap mengalami peningkatan produksi,” pungkasnya.

Sayangnya, luas tanam lahan pertanian jagung di Bantaeng juga ikut mengalami penurunan tahun ini. Dari total 27, 297 hektare pada 2019 menjadi 25,584 hektare pada 2020.

“Luas pertanaman jagung 2020 dibanding 2019 mengalami penurunan karena ada alih komoditi ke tanaman kacang, tanah dan kacang hijau khususnya pertanaman jagung dilahan sawah pada MT agustus, september , oktober. Sehingga tahun 2020 luas pertanaman kacang tanah dan kacang hijau meningkat,” kuncinya.

Baharuddin

  • Whatsapp
loading...