Close Iklan
News

BLH Pemuda Pancasila Sinjai Nilai Buper dan Jalur Sepeda Tidak Cocok di Tahura

×

BLH Pemuda Pancasila Sinjai Nilai Buper dan Jalur Sepeda Tidak Cocok di Tahura

Sebarkan artikel ini

SINJAI, Suara Jelata—Polemik di pembangunan Tahura Abdul Latif Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong masih terus saja bergulir hingga saat ini. Selasa, (2/2/2021).

Terbaru, sejumlah Masyarakat mendatangi Kantor DPRD Sulsel danBalai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel untuk menyampaikan aspirasi mendukung pembangunan di Tahura.

Scroll untuk lanjut membaca
Scroll untuk lanjut membaca

Menurut mereka, dukungan pembangunan bumi perkemahan ini bukan tanpa alasan. Sebab akses atau infrastruktur menuju Tahura terbuka yang berdampak pada pertumbuhan perekonomian warga.

Namun dilain sisi, sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Tahura Menguggat (ATM) saat ini juga gencar melakukan penolakan dengan aksi demonstrasi di Kabupaten Sinjai.

Mereka beranggapan pembangunan bumi perkemahan di Tahura dapat menganggu ekosistem Anoa dan berpotensi merusak lingkungan.

Sementara itu, Ketua Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Sinjai, Muhlis Hajar Adiputra, menuturkan seharusnya Pemerintah dan ATM duduk bersama.

“Kalau dijadikan sebagai bumi perkemahan itu memang tidak sesuai dengan peruntukannya, tingkat resiko perjalanan ke sana itu tinggi, baik keatas maupun pulangnya dan juga kalau dibangun jalur sepeda, itu kan hanya untuk segelintir orang saja,”katanya.

Dia juga mengatakan bahwa selama ini sehingga berpolemik dikarenakan koordinasi yang tidak bagus antara pelaksana dengan yang menolak.

“Kalau mau dilihat bagus harus duduk bersama, pembangunan seperti ini kan perlu dianalisis bukan sekedar membangun saja,”beber Gam, sapaan akrabnya.

Kalau membuka dengan tujuan pariwisata dengan mau meningkatkan pendapatan masyarakat tentu diriny setuju, namun bukan seperti ini bentuknya baiknya Masyarakat dilibatkan dalam bentuk misalnya Home Stay.

“Saya memandang tidak layak Tahura dijadikan bumi perkemahan apalagi membuat jalur sepeda karena disana itu adalah daerah penyangga yang kanan kirinya merupakan sumber mata air yang perlu di jaga dengan tentunya pembangunannya boleh saja namun bersifat ekologis,” terang akademisi UMSi Sinjai ini.

Karena ini pembangunannya sudah terlanjur, maka perlu dilakukan pemulihan kembali dengan reboisasi (penghijauan) bisa melibatkan teman di ATM itu.

“Setelah itu kemudian tutup bumi perkemahan dan jalur sepeda karena nilai mamfaatnya kan hanya untuk orang tertentu saja, kalau camp perkemahan kan dari dulu ada disana namun bukan bumi perkemahan,” kunci aktivis lingkungan ini.

Zh