Puyur Magelang Buatan Muhsin, Digemari Masyarakat Jabar dan Banten

Business | PROFIL

MAGELANG JATENG, Suara Jelata Hasil tidak akan mengkhianati usaha, kalimat itu dibuktikan oleh Muhsin (50) warga Dusun Kalisalak, Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Sejak tahun 2014, pria lulusan SMP ini bertekad menekuni usaha makanan ringan asli Magelang, yaitu Puyur dari bahan singkong.

Ditemui di rumahnya, suami dari Sukminah (48) ini membeberkan usahanya yang kini pemasarannya menembus Provinsi Jawa Barat dan Banten. Bahkan menurutnya, masyarakat di dua provinsi ini sangat menggemari puyur buatan Muhsin.

Diceritakan Muhsin, meski Puyur ini camilan asli lokal Magelang, namun dia memproduksi dengan kreasi tampilan dan rasa yang lebih menarik konsumen.

“Puyur tradisional biasanya halus bundar seperti ceriping ketela, rasanya asin gurih. Puyur buatan saya, potongannya bergelombang layaknya snack kemasan kekinian,” ungkapnya.

Bapak tiga anak ini mengaku untuk produksi dari bahan baku (singkong) hingga bahan setengah jadi dilakukan di home industry di Grabag Magelang. Kemudian bahan setengah jadi diolah lagi hingga proses pengemasan dilakukan di rumahnya, Bandongan.

“Nah, di rumah ini puyur saya olah dengan kreasi rasa. Bukan menghilangkan rasa puyur asli, namun menambah cita rasa puyur dengan sambal balado dan gula Jawa (gula merah). Sehingga nanya menjadi Puyur Balado Gula Merah,” tukasnya.

Dalam pemasaran (marketing) puyur balado ini, Muhsin melakukan sendiri. Untuk kreasi puyur produksinya, dia beli label Aneka Snack “Restu Ibu”, yang juga sudah tercatat di Departemen/Kementerian Kesehatan.

Dalam memasarkan puyur balado, Muhsin juga mendampinginya dengan berbagai makanan ringan lokal Magelang, Jateng dan DIY sebanyak 28 macam. Di antaranya lanting, enting-enting, noga, rengginang, kripik belut, kripik apel, kripik nangka, peyek belut, peyek kacang, emping jagung, bakpia, kripik bakso ikan, dan lainnya.

Dengan dibantu 6 karyawan, Muhsin mampu memproduksi puyur balado 600 bungkus per hari.

“Permintaan pedagang atau pusat oleh-oleh di Jateng dan DIY tahun ini mulai meningkat,” ujarnya.

Untuk itu, Muhsin mulai menggenjot produksi puyur balado-nya untuk memenuhi permintaan konsumen Jateng dan DIY. Sementara sang istri, Sukminah fokus di toko milik pasangan wiraswastawan ini, yaitu Sentra Oleh-Oleh “Anisa” di Jalan Kosambi 1, Cinangka, Anyer, Banten.

“Jadi sekarang saya tidak hanya memenuhi permintaan dari Bandung Jawa Barat dan Banten. Namun juga Jateng dan DIY,” pungkasnya.

Puyur Balado Gula Merah buatan Muhsin memang memiliki rasa yang beda, lebih kekinian. Rasanya selain asli rasa tradisional asin gurih, juga pedas, manis, dan renyah, bahkan tahan hingga tujuh bulan. (Iwan)

Dapatkan update berita pilihan setiap hari dari suarajelata.com.

Mari bergabung di Halaman Facebook "suarajelata.com", caranya klik link Suara Jelata, kemudian klik ikuti.