MALUKU UTARA, Suara Jelata— Jumlah Guru penggerak (GP) Provinsi Maluku utara berdasarkan data Balai Guru Penggerak (BGP) tahun 2022 – 2023 masih terbilang minim.
Berdasarkan data tersebut, jumlah guru yang mengikuti proses seleksi Guru penggerak (GP) program PGP Provinsi Maluku Utara yang dilaksanakan Kemendikbudristekdikti dari sejumlah angkatan belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Di angkatan kedua misalnya yang terdiri dari 3 kabupaten/kota, Kota Ternate tercatat lolos sebanyak 9 guru. Kota Tidore Kepulauan (Tikep), sebanyak 14 guru dan Kabupaten Halmahera Utara sebanyak 4 guru. Peserta atau guru yang lolos seleksi tersebut statusnya adalah guru penggerak. Dengan demikian untuk angkatan 2, total keseluruhan GP Provinsi Maluku Utara sebanyak 28 GP.
Untuk angkatan ketiga, jumlah GP Program PGP Provinsi Maluku Utara sedikit mengalami peningkatan. Untuk Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), GP yang lolos proses seleksi sebanyak 27 GP, Kabupaten Halmahera barat sebanyak 15 GP, Kabupaten Pulau Taliabu sebanyak 7 GP serta Kabupaten Halmahera Selatan ( Halsel) sebanyak 23 GP. Total keseluruhan GP untuk angkatan 3 Provinsi Maluku Utara adalah 72 GP.
Di angkatan berikutnya yakni angkatan keempat, belum menunjukkan peningkatan signifikan. Padahal diangkatan sebelumnya sedikit terjadi peningkatan. Dari 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku utara, hanya dua Kabupaten yakni Halmahera Tengah (Halteng) dan Kepulauan Sula yang berhasil meloloskan pesertanya.
Jumlah peserta yang lolos sebagai GP pada program PGP tersebut adalah Halteng sebanyak 4 GP dan Kepulauan Sula sebanyak 3 GP. Dengan demikian untuk angkatan ini, total GP keseluruhan adalah 7 GP.
Angkatan keenam yang sementara berlangsung proses pendidikan, terdiri dari Kota Ternate 30 peserta, Tikep 34 peserta serta Halbar 27 peserta. Total yang sementara mengikuti proses pendidikan ini adalah 81 peserta atau guru.
Adapun jumlah keseluruhan dari angkatan dua, tiga, empat dan enam adalah 188 guru. Dengan perincian GP sebanyak 107 orang dan CGP sebanyak 81 orang.
Diwawancarai awak media pada Senin, (6/2/2023), Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Maluku Utara, Subagiyana, S.Pd, M.Pd menyebutkan, minimnya guru penggerak tersebut karena dipicu oleh jumlah lulusan yang masih sedikit untuk setiap periodisasi angkatan.
Selain itu faktor kurangnya inisiatif guru untuk mengikuti seleksi juga menjadi pemicu minimnya guru penggerak.
Pemicu faktor eksternal menurut Subagiyana adalah belum maksimalnya jaringan internet di setiap kabupaten. Padahal menurut Kabalai, ketersediaan jaringan internet yang memadai akan memberi akses informasi untuk kepentingan proses pendidikan atau pembelajaran. Apalagi dengan penerapan model pembelajaran dengan sistem digitalisasi pendidikan saat ini.
“Semakin banyaknya guru penggerak akan lebih efektif berperan menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan dalam wilayah provinsi. Disamping itu peran guru penggerak juga menjadi pengajar praktek bagi rekan guru lain, menjadi pemimpin belajar serta mendorong kebutuhan untuk sekolah serta pula mendorong kegiatan diskusi positif. Semua peran GP tersebut akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan di daerah ini ” kuncinya.











