BREBES JATENG, Suara Jelata – Sebuah pekerjaan pembangunan rabat beton shansheet jalan di Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes menuai sorotan publik. Pasalnya, pembangunan jalan yang baru beberapa pekan itu kondisinya sudah rusak.
Bahkan, mirisnya beberapa pekerja mengaku jerih payahnya belum terbayar hingga saat ini.
Diketahui, proyek jalan tersebut bersumber dari Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi tahun 2023.
“Baru beberapa Minggu bangunan sudah ambrol dari ujung timur hingga barat,” ujar salah satu warga sekitar.
Selain hasil pekerjaan jelek, ia menyebut para pekerja juga belum terbayar.
“Saya rasa pengerjaan yang buruk mengakibatkan mudahnya kerusakan, selain itu sejumlah pekerja juga mengaku belum dibayar. Bahkan saat pelaksanaan pekerjaan menggunakan air dari sumur warga. Itupun belum mendapatkan bayaran,” bebernya.
Sementara disampaikan pengamat pembangunan, Atmo. Ia mengatakan bahwa proyek tersebut diduga dikerjakan asal-asalan.
“Kami rasa pekerjaannya itu asal asalan, hal itu kami nilai lantaran yang digunakan material pasir gunung, campuran semen juga sangatlah minim, rata-rata hanya setengah kantong untuk satu molen adukan. Sehingga tentu kualitas diragukan, dan benar saja belum sebulan kami lakukan kroscek, ternyata jalan itu sudah ambrol,” terang Atmo, pada Jum’at (1/12/2023).
Serupa dikatakan Marlan, salah satu aktivis Brebes, menurutnya hasil dari pekerjaan itu begitu parah.
Ia juga menyebut saat konfirmasi ke pihak Pemerintah Desa Banjarharjo, meski belum mendapat keterangan dari Kepala desa. Namun keterangan didapat dari ketua BPD desa tersebut pada Kamis 30 November 2023.
“Saat berhasil kami konfirmasi ke pihak desa, didapat keterangan dari ketua BPD setempat bahwa proyek pekerjaan jalan di blok Brunai dengan pagu anggaran sekitar 200 juta itu dari anggaran Bankeu Propinsi Jawa Tengah,” kata Marlan.
Dilaksanakan pekerjaan tersebut, kata dia, pada masa transisi Kades, jadi seperti apa yang disampaikan ketua BPD. Pj kades tidak bertanggung jawab atas hal itu,” kata Marlan mengucapkan keterangan ketua BPD Banjarharjo.
“Selain itu dikatakan BPD, bahwa pelaksana kegiatan melalui pihak ke 3 yakni dari orang aspiratornya. Namanya Wandi yang merupakan rekanan dari dewan pengusungnya,” katanya.
Seperti diketahui, pasca pandemi covid-19 melanda pemerintah berupaya tetap mempertahankan ekonomi rakyat dengan program padat karya.
Salah satunya, menggulirkan Bantuan Keuangan (Bankeu) melalui merintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2023 dengan nilai sekitar Rp1,7 triliun.
Bantuan tersebut selain untuk pembangunan fisik maupun nonfisik yang diprioritaskan, juga untuk menggenjot ekonomi rakyat pasca covid-19.
Dengan skema padat karya melalui Tim Pelaksana Kegiatan (TPK ) Desa, masyarakat yang terdampak Covid-19 diharapkan bisa diprioritaskan untuk bekerja. Semisal untuk membantu pengecoran jalan yang tidak perlu keterampilan khusus. (Olam)











