BREBES JATENG, Suara Jelata – Pengusaha muda H. Ridhohul Khukam menyalurkan 12 ton beras dan santunan bagi anak yatim di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Kamis (29/3/2026).
Bakti sosial itu dilakukan guna meringankan beban ekonomi warga di tengah lonjakan harga pangan Ramadan.
Ramadan di pesisir utara Jawa tahun ini menyisakan guratan lelah di wajah warga.
Harga bahan pokok yang terus merangkak naik memaksa banyak keluarga di Desa Luwungragi memutar otak lebih keras demi sekadar menyajikan hidangan sahur dan buka.
Di tengah tekanan ekonomi yang kian menebal, sebuah aksi filantropi hadir sebagai pendingin suasana.
Selepas asar, halaman Masjid Al-Hikmah di Dukuh Kertasari berubah menjadi ruang solidaritas yang senyap namun bertenaga.
Tidak ada spanduk megah atau sorot kamera berlebih. Relawan dengan sigap menata 2.400 karung beras berukuran 5 kilogram dalam barisan rapi.
Di sampingnya, amplop santunan tunai telah disiapkan bagi puluhan anak yatim piatu yang datanya telah diverifikasi ketat oleh pengurus masjid dan tokoh RT/RW setempat.
H. Ridhohul Khukam, sosok di balik aksi ini, tampak berbaur tanpa sekat. Pria yang kerap dijuluki “anak sholeh” oleh warga sekitar ini menegaskan bahwa langkahnya murni untuk membersihkan harta dan memperluas kemanfaatan.
“Ramadan ini momentum membersihkan harta, kewajiban tahunan. Berbagi di bulan puasa memberi rasa yang berbeda; kita ikut merasakan lapar mereka yang tak punya,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan.
Proses distribusi berlangsung tertib tanpa desak-desakan. Nama-nama dipanggil sesuai urutan kupon, memastikan martabat penerima tetap terjaga.
Ridho menyebut keberhasilan aksi ini bukan kerja tunggal, melainkan rantai panjang kebaikan dari pemasok hingga relawan yang bekerja sejak subuh.
Bagi Ridho, ia hanya sekadar menjadi perantara bagi rezeki yang sudah digariskan.
Kehadiran bantuan ini menjadi oase nyata bagi warga seperti Warni (53).
Ibu asuh yang menghidupi dua keponakan yatim ini mengaku beban pikirannya berkurang drastis hari itu.
“Beras itu kepastian. Kalau ada beras, lauk bisa dicari,” ucapnya pendek sembari memeluk karung berasnya.
Senada dengan Warni, Fikri (14), seorang remaja penerima santunan, hanya mengangguk pelan saat ditanya tujuannya membawa bantuan tersebut.
“Buat sahur sama adik,” tuturnya singkat.
Di balik kalimat pendek itu, tersimpan realitas kebutuhan yang mendesak di tengah bulan suci.
Pengurus Masjid Al-Hikmah, Triyanto, melihat fenomena ini lebih dari sekadar pembagian logistik.
Menurutnya, aksi rutin Ridhohul Khukam telah memicu gelombang empati di desa tersebut.
Kini, warga lain yang mampu mulai tergerak menitipkan tambahan minyak goreng hingga kurma.
Masjid pun kembali ke fungsinya yang hakiki: menjadi simpul yang mempertemukan niat baik dengan kebutuhan yang konkret. (Olam).











