KOTA TERNATE MALUT, Suara Jelata – Chantika Sri Ajahra, siswi Kelas XI A, SMA Negeri 2 Kota Ternate begitu sumringah dan tak habisnya bersyukur. Pasalnya, setelah Chantika mendaftar dan mengikuti proses pemilihan Duta Siswa Indonesia (DSI), namanya diumumkan lolos mewakili Provinsi Maluku Utara.
Chantika berlaga demgam tiga siswa lainnya, masing-masing dari SMA Negeri 1, SMA Negeri 4, SMA Negeri 10 Kota Ternate, keempatnya berdasarkan proses seleksi secara online pada 15-20 September 2023. Hasilnya mereka berempat dinyatakan lolos oleh Panitia. Keempat siswa ini pula diberi kesempatan berkompetisi di ajang pemilihan DSI yang bakal berlangsung di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, pada 18-22 Januari 2024.
Diketahui, pemilihan Duta Siswa Indonesia (DSI), adalah ajang bergengsi yang diinisiasi Yayasan Lingkar Inspirasi Bangsa, sebuah yayasan yang berkantor pusat di Medan Sumatra Utara. Yayasan ini dikenal telah memiliki track record positif dalam melahirkan talenta-talenta muda untuk menjadi pekerja handal di bidang entertainment.
Guna merealisasikan program kerjanya, pada setiap tahun diberikan kesempatan kepada siswa-siswi jenjang SMA/SMK/MA di seluruh provinsi se Indonesia untuk berkompetisi dalam hal pengembangan diri di bidang entertainment.
Terkait pelaksanaan DSI yang puncak kegiatannya pada 18-22 Januari 2024, keempat siswa yang telah lolos mewakili Provinsi Maluku Utara tersebut tersandung budget (pembiayaan). Hal ini karena pihak sekolah tidak memiliki ploting anggaran yang itemnya untuk membiayai kegiatan semacam itu.
Diwawancarai awak media ini, Senin (11/12/2023, Kepala SMA Negeri 2 Kota Ternate, Kandacong, S.Pd, Si, M.Si, mengatakan, pihaknya tidak bisa mengambil kebijakan. Terkait penggunaan anggaran sekolah untuk membiayai siswanya yang ditetapkan sebagai perwakilan Provinsi Malut ke ajang DSI.
” Kami terpaksa memberi kesempatan kepada siswi kami, Chantika Sri Ajahra untuk berinovasi mencari sumber-sumber pembiayaan di luar dari sumber anggaran sekolah. Dengan alasan tersebut di atas, yakni sekolah tidak memiliki sumber anggaran untuk itu. Apalagi besaran budget untuk transportasi dan akomodasi, nominalnya sangat fantastis, kurang lebih Rp 18.000.000,” tandas Kepsek.
Menurut Kandacong, meskipun demikian, pihaknya tetap memberi dukungan moril. Serta seraya berharap siswinya mampu mempresentasikan dan meyakinkan sumber-sumber donasi yang nantinya bisa membantu kebutuhan pembiayaan.
“Mudah-mudahan dengan cara begitu ada solusi dan puncak kegiatannya nanti, siswi kami Chantika bisa hadir,” harapnya.
Informasi yang dihimpun awak media ini, dua sekolah yakni SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 10 Kota Ternate terpaksa membatalkan siswanya ke ajang Grand Final DSI. Pembatalan ini dengan alasan sekolah tidak bisa membiayai kebutuhan siswanya tersebut. (Ateng)











